Bersama Matcha, Ayo Kita Lawan Stereotip Gender Gak Jelas itu!

Baru-baru ini ada sebuah reelsInstagram yang menggelitik lewat berandaku. Isinya tentang parodi couple yang datang ke kafe. Si cowok sebenarnya suka matcha, tapi karena malu, akhirnya dia pura-pura pesan kopi, dan si cewek yang pesan matcha, baru deh akhirnya mereka tukaran😊

Lucu sih, tapi wait ada yang aneh.

Selama ini, secara gak sadar ada beberapa hal yang diberi label untuk gender tertentu bahkan makanan dan minuman. Padahal, apa salahnya cowok minum matcha?

Disclaimer. Penulis adalah penikmat kopi garis keras, tapi bukan pendekat tentu za.

Pertanyaannya, masa iya selera minum menentukan gender seseorang?

 

Konon … 

Konon katanya kopi itu minumannya orang kuat. Lihat saja bapak-bapak kuli starter pack. Sebelum nguli, pasti kopi dan makan gorengan. Kopi lalu melekat dengan citra kerja keras dan stamina. Apalagi, kopi memang mengandung kafein, zat yang dapat membantu tubuh merasa lebih terjaga dan berenergi.

Tapi apa cuman karena itu kopi jadi dianggap “laki banget”?

Dalam sejarah Ottoman, misalnya, kedai kopi menjadi ruang publik tempat laki-laki berkumpul. Mereka membicarakan politik, bisnis, isu sosial, atau sekadar bercengkerama. Kedai kopi berfungsi sebagai ruang ketiga, yaitu ruang di luar rumah dan tempat kerja.

Masalahnya, pada masa itu, akses perempuan ke ruang publik masih terbatas. Akibatnya, budaya ngopi lebih banyak dibentuk oleh pengalaman laki-laki. Kopi pelan-pelan tidak hanya menjadi minuman, tetapi juga simbol. Simbol orang yang kuat, serius, produktif, dan suka berpikir.

 

Gak Ngopi Gak Laki?

Fenomena ini dapat dijelaskan menggunakan teori pilihan rasional James S. Coleman. Dalam teorinya, ia mengatakan tindakan individu dipengaruhi nilai dan pilihan. Dalam teorinya pula ada 2 faktor yang mendasari tindakan yaitu, aktor dan sumber daya. Aktor  digambarkan sebagai pihak yang memiliki peran dalam melakukan tindakan sedangkan sumber daya adalah sesuatu yang dinilai menarik dan dikendalikan oleh aktor.

Dalam fenomena ngopi, aktornya adalah laki-laki sedangkan kopi adalah sumber daya. Kedua elemen inilah yang akhirnya merekonstruksi persepsi publik sebagaimana disebutkan sebelumnya. Kopi kemudian dilekatkan pada citra stamina, produktivitas, dan kerja intelektual. Tiga hal ini, dalam sejarah ruang publik, lebih sering diasosiasikan dengan laki-laki karena akses mereka ke ruang sosial memang lebih besar.

Ketika seorang laki-laki memilih kopi, ia tidak selalu hanya memilih rasa pahit atau aroma yang kuat. Dalam situasi tertentu, ia juga sedang memilih citra. Ia memilih tampil sebagai sosok yang dewasa, tangguh, produktif, dan sesuai dengan bayangan masyarakat tentang laki-laki ideal.

Masalah mulai muncul.

Pilihan yang seharusnya personal berubah menjadi tuntutan sosial. Laki-laki yang minum kopi dianggap lebih “laki”, dan yang pesan matcha bisa langsung kena komentar.

“Ih gak laki banget pesan matcha!”

Padahal kan pesanannya cuma matcha.

Stereotip semacam ini tidak muncul dalam semalam, tapi terbentuk pelan-pelan melalui kebiasaan, candaan, iklan, obrolan tongkrongan, dan standar sosial yang diulang terus-menerus. Lama-lama, masyarakat menganggapnya wajar.

Akhirnya, kopi berubah menjadi alat ukur maskulinitas. Absurd, tapi nyata.

 

Matcha sebagai perlawanan

Padahal, banyak laki-laki yang ingin minum matcha karena suka saja. Selera minum tidak seharusnya menjadi ujian maskulinitas. Tidak ada hubungan logis antara segelas matcha dan runtuhnya harga diri laki-laki. Pada akhirnya, kopi tetap kopi. Matcha tetap matcha.

Keduanya cuma minuman. Yang bikin ribet adalah cara publik menempelkan makna berlebihan pada hal-hal kecil.

Jadi, lain kali kalau ada lak-laki pesan matcha, biarkan saja. Tak perlu disuruh pesan americano agar kembali ke jalan maskulin.

Sebab menjadi diri sendiri, kadang, bisa dimulai dari berani memesan minuman yang sebenarnya kita suka! Ayo laki-laki, beranikan pesan matcha dan semua minuman selain kopi!

 

Referensi:

Anjani, O., & Hasmira, M. H. (2022). Kopi Hitam dan Laki-Laki dalam Persepsi Perempuan di Kota Padang. Jurnal Perspektif, 5(4), 639–647. https://doi.org/10.24036/perspektif.v5i4.706

VD, J. F. (2023, May 7). Menelusuri Sejarah Kedai Kopi: Kenapa Dulu Perempuan Tidak Nongkrong di Kedai Kopi? Magdalene.co. https://magdalene.co/story/perempuan-yang-tak-dianggap-di-kedai-kopi/

Mahasiswa S1 IUP Hubungan Internasional UMY I Seorang penikmat kopi yang suka membaca dan menulis sebagai bentuk refleksi diri. IG: @athapramm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!