Bersama Agni: Victim Blaming itu Literally Mengerikan

Cerita tentang kasus pemerkosaaan Agni, mahasiswi UGM yang jadi perhatian publik belakangan ini nyatanya jauh lebih mencemaskanku daripada isu-isu lainnya. Terutama di bagian victim blaming, atau bagaimana sebagai korban dia justru yang disalahkan karena kejadian yang merugikannya.

Untuk satu dan banyak alasan, Agni sebenarnya wajib mendapat dukungan kita semua.

Pertama, pemerkosaan di kita selalu muncul dengan victim blaming. Entah karena apa yang dia kenakan, atau yang lebih parah, analogi kucing dan ikan asin. Ini sungguh mengerikan. Secara, dia sama sekali tidak menginginkan apapun yang terjadi atas dirinya. Rappery isn’t about woman’s clothes. At all.

Kedua, dia nggak terikat relationship apapun dengan pelaku. Ketiga, jelas tidak ada consent, atau kesepakatan antara kedua belah pihak di sana. Keempat, yang merasakan kenikmatan cuma si pelaku, sedang si Agni ini malah merasa kesakitan.

Its, pure sexual assault, bahkan sudah hampir sampai ke pemerkosaan. Btw, pelecehan seksual adalah perilaku yang berhubungan dengan seks yang tidak diinginkan, yang terjadi secara lisan, tindakan, maupun lewat isyarat.

Dari sini kita bisa ambil pelajaran untuk sama-sama tahu apa saja yang termasuk sexual assault. Untuk semua orang, laki atau perempuan tentang apa saja yang menjurus pada pelecehan seksual selain apa yang Agni alami.

Semuanya wajib tahu, agar perempuan mengerti cara melindungi diri, kedua agar laki-laki juga tahu jika sesuatu terjadi pada teman perempuannya. 1. Komentar seksual tentang tubuh Anda, 2. Ajakan seksual, 3. Sentuhan seksual, 4. Grafiti seksual, 5. Isyarat seksual, 6. Lelucon kotor seksual, 7. Menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain, 8. Menyentuh diri sendiri secara seksual di depan orang lain, 9. Berbicara tentang kegiatan seksual sendiri di depan orang lain, 10. Menampilkan gambar, cerita, atau benda seksual. (Sumber: “Jenis-jenis pelecehan seksual” www.hellosehat.com)

 

Sex itu Urusan Serius, Makanya Hati-hati Menyikapinya

Maslow’s hierarcy of needs atau teori hierarki kebutuhan Moslow, ditulis oleh Abraham Moslow menunjukkan bahwa sex sederajat dengan kebutuhan fisiologis utama lainnya seperti sandang, pangan, papan. Kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan paling dasar dan besar bagi semua pemenuhan kebutuhan di atasnya.

Sexual desire manusia memang masuk dalam naluri primitif dan insting alami manusia. Itu kenapa kita semua ada di bumi event manusia pertama ngga tau harus berguru ke siapa soal sex.

Sex memang naluriah dan alamiah, barangkali karenanya di beberapa tempat ia disalurkan dengan cara yang berbeda. Tapi nampaknya di daerah-daerah tertentu banyak yang berubah sejak negara api menyerang agama dan norma masuk dalam kehidupan sosial kita.

Leluhur kita membentuk norma dan aturan baru hingga akhirnya sex yang pada dasarnya adalah sesuatu yang alami berubah menjadi sesuatu yang problematis, bahkan mendekati amoral. Misalnya tentang pendidikan seksual sejak dini yang dilaksanakan secara malu-malu. Menurut gue, problemnya ya kita tidak berani atau terlalu pemalu (atau malah terlalu hipokrit) untuk membicarakannya secara terbuka. Di sekolah misalnya, dengan edukasi seksual yang malu-malu toh kayaknya adik-adik kita tahu kalau mau coba-coba ya tinggal mainin “alat-nya” saja. Tapi kita tidak berani membicarakan, jika melakukannya terlalu sering, akan berbahaya. Atau melakukannya dengan knalpot, jelas berbahaya.

Begitu pula dengan otoritas-otoritas keagamaan yang kian ke sini kok kian terasa gaje banget buat mengatur hal ini. Alih-alih mengkampanyekan pendidikan seksual yang sehat, pemberdayaan anak-anak perempuan, eh malah, sibuk mensweeping kos-kosan dan mengkampanyekan kawin muda.

Btw gue sendiri bukannya mau jadi sok feminis. Sederhana saja. Buat gue masalah Agni ini, victim blaming ini jauh lebih penting dari sekadar identitas sebagai feminis atau bukan. Ini adalah tentang hak Agni sebagai warga negara untuk mendapatkan rasa aman dan keadilan yang kini kita lihat sudah dipermainkan dalam setahun ini bahkan diperolok.

Untuk sesama perempuan yang merasa Agni juga salah, selamat, ya! Lo udah resmi jadi member of victim blaming. Entah apa alasan lo semuanya bisa bilang kalau kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, dll.

Penghargaan ini gue berikan ke sesama perempuan yang sungguh tega melabeli dan menuding korban yang tidak-tidak, sekaligus merasa dirinya tidak sama dengan korban. Dengan begitu, merasa dirinya akan terhindar dari pelecehan seksual.

Congratulation, selama cara kekeluargaan dan victim blamming ini terjadi dalam kasus-kasus seperti ini, para predator akan terus mendapatkan “kekebalan” hukum dan aman dari sanksi sosial. Kalau sudah begini, berdoalah agar para predator itu datang menggerayangi, kalau bukan kamu, mungkin adik, kaka, bibi, atau teman sekosanmu.

Sejauh ini, gue yakin semua orang harus berani berdiri di pihak Agni. Karena jelas dia korban dan yang paling keren adalah dia berani speak up. Meski  sampai sekarang kasusnya sudah masuk ke proses hukum, kita doakan semoga Agni mendapatkan semua yang jadi haknya.

Semoga ini jadi semacam “kemenangan kecil” dan cerita inspiratif agar semua orang yang mendapati dirinya tertindas berani berteriak: bukan salah gue, kalau otak lo ngeres dan ngacengan!

Profil Penulis

Silfy Ivani
Silfy Ivani
Perempuan yang cinta hal-hal mitologis dari Nordik, Yunani dan Mesir seperti Anubis, Ra, Isis, Osiris, Nymph, Atlas, Medusa, Cupid, Dewa-dewi penjaga gunung Olympus. Dan tentu saja percaya bahwa peri dan putri duyung itu ada.