

Hilangnya kesadaran akan kelas dan posisi diri. Di era ketika batas antara kenyataan dan fiksi di media sosial kian kabur, banyak orang yang kian kehilangan kewarasan. Sumpah, deh.
Tak jarang manusia ini hari memaksakan diri mengadopsi standar hidup yang tidak sesuai dengan isi dompet. Hidup dalam delusi seolah-olah kemewahan bisa diraih hanya dengan modal nekat. Akibatnya, jutaan orang kini terjebak dalam lingkaran setan utang dan kehancuran finansial demi membiayai gaya hidup yang sebenarnya berada di luar jangkauan kasta ekonomi mereka.
Mari kita bicara jujur tanpa kepalsuan. Kehilangan kesadaran kelas ini lahir dari paparan konstan lini masa yang mendewakan konsumerisme. Setiap hari kita dicekoki konten pamer kemewahan, liburan mahal, hingga bualan para kreator konten yang menjual ilusi kesuksesan instan. Racun digital ini menciptakan rasa iri yang merusak rasionalitas, membuat kelas pekerja merasa berhak—bahkan wajib—memperlihatkan status sosial yang setara dengan para pesohor layar ponsel. Ketika pendapatan pas-pasan tidak mampu membiayainya, jalan pintas pinjaman online diambil demi mempertahankan gengsi kosong tersebut.
Sungguh edyan. Menggunakan utang sebagai alat untuk memalsukan kelas sosial. Orang-orang rela menggadaikan ketenangan hidup dan masa depan hanya demi membeli barang bermerek, nongkrong di tempat mahal, atau sekadar mendapatkan validasi dari orang asing di internet. Mereka lupa posisi. Parahnya, tak sedikit yang berhalusinasi bahwa dengan memakai yang dipakai orang kaya, mereka otomatis naik kelas. Padahal, bagi orang yang benar-benar kaya, pengeluaran itu hanyalah remah-remah yang tidak terasa. Sementara bagi kelas pekerja yang memaksakan diri, itu adalah bunuh diri.
Tragisnya, ketika jerat utang itu akhirnya mencekik dan membawa kehancuran, masyarakat kembali ke tabiat aslinya dengan menghakimi tanpa ampun. Publik dengan cepat mencap para korban ini sebagai orang-orang bodoh yang serakah. Namun, kita jarang mau melihat akar masalahnya secara jernih.
Kita hidup dalam ekosistem digital yang secara agresif mendorong orang melompat melampaui kapasitas ekonominya, membiarkan mereka hidup dalam ilusi, sambil menyediakan sekop utang untuk menggali kubur mereka sendiri.
Sadar kelas bukanlah bentuk kepasrahan atau membatasi impian, melainkan kewarasan untuk bertahan hidup. Mengetahui posisi diri di tengah dunia yang gila hormat dan pialang-pialang itu flexing adalah perisai agar kita tidak hancur oleh ekspektasi yang keliru dan teror pinjol.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi budak validasi visual dan menyembuhkan diri dari halusinasi menjadi kaya yang dipaksakan. Kebodohan terbesar di abad ini bukanlah menjadi miskin, melainkan menjadi miskin yang hancur berantakan hanya karena berpura-pura kaya demi memuaskan pandangan dunia yang sejatinya tidak pernah peduli pada nasib kita.
Berhenti berutang, realistis, kurangi makan enak, unfollow motivator-motivator yang doyan flexing, bacalah buku, dan berdiskusi. Ingat lagu Tombo Ati! Berkumpullah dengan orang-orang saleh, dalam konteks ini, saleh yang sadar diri dan sadar kelas.
Oh ya, jangan lupa. Banyak juga selebgram yang membeli likes dan followers. Kalau tak percaya, ya masa tak percaya? Sudah banyak contohnya.
Jangan percaya dengan yang terlihat di layar. Jadi, berhenti halu! Sadar kelas dan tahu diri lah, wahai manusia!
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAND, mengawali kuliah dengan fokus di dunia kopi sebelum beralih menjadi aktif di berbagai forum internasional dan organisasi lintas negara. Kini ia bergerak di bidang komunikasi, lingkungan, dan gerakan mahasiswa, dengan tulisan yang lahir dari pengalaman dan keresahan atas isu-isu kompleks. Merdeka, jaya, menang.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!