

Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa hampir dalam semua budaya, laki-laki selalu yang diharapkan untuk “nembak” duluan?
atau,
Kenapa perempuan yang berani menyatakan cinta lebih dulu sering dibilang “terlalu berani” atau malah “kegatelan”?
Padahal cinta kan urusan dua hati, kenapa harus diatur siapa yang memulai?
Berangkat dari pertanyaan inilah saya menemukan jawaban menarik dari tulisan etnografi tentang suku Pamona di Sulawesi Tengah. Jawabannya bikin saya berpikir ulang tentang siapa yang sebenarnya “berkuasa” dalam percintaan.
Pembagia Hak menurut Dewa Suku Pamona
Menurut kepercayaan orang Pamona seperti yang dicatat etnolog Belanda Dr. A.C. Kruyt, pada mulanya para dewa memberi hak yang sama kepada laki-laki dan perempuan.
Masing-masing dapat dua hak prerogatif. Kedengarannya adil, namun ternyata malah bikin macet. Laki-laki tidak mau datang ke perempuan. Perempuan juga tidak mau datang ke laki-laki. Sama-sama punya hak, sama-sama nunggu yang lain bergerak. Ini versi kuno dari drama “tungguin siapa yang chat duluan”. Bedanya, dulu ini urusan adat yang serius!
Melihat kebuntuan, para dewa turun tangan. Mereka mengambil satu hak dari laki-laki dan memberikannya kepada perempuan. Hasilnya, laki-laki cuma punya satu hak, perempuan punya tiga hak. Karena itulah, kata mitos, laki-laki harus meminang perempuan. Bukan karena laki-laki lebih hebat atau lebih berkuasa, justru sebaliknya: laki-laki harus bergerak karena mereka kekurangan. Mereka yang miskin hak harus berusaha. Perempuan, dengan tiga hak di tangannya, bisa duduk tenang dan memilih.
Di titik ini coba bayangkan kalau laki-laki itu seperti fresh graduate yang mengirim lamaran ke banyak pabrik. Semetara si perempuan seperti HRD perusahaan bonafide yang duduk manis sambil memilih kandidat terbaik. Jadi, siapa yang sebenarnya punya kuasa?
Legenda Pantako: Bukti di Tepi Sungai
Selain mitos dewa, ada folklor lokal yang lebih menarik. Konon, di tepi Sungai Poso, terjadi perdebatan sengit antara laki-laki dan perempuan.
Laki-laki dengan pede berkata “Perempuan tidak akan bisa hidup tanpa kami!”
Perempuan membalas “Justru laki-laki yang tidak akan bisa hidup tanpa kami!”
Untuk membuktikan, mereka sepakat berpisah. Laki-laki di tepi kiri, perempuan di tepi kanan. Masing-masing hidup sendiri. Hasilnya?
Baru beberapa hari, para perempuan berenang menyeberang ke tempat laki-laki. Bukan karena mereka mengaku kalah, tapi karena mungkin laki-laki terbukti tidak bisa memasak dan mencuci sendiri.
Tempat mereka berenang menyeberang sampai kini bernama Pantako yang bermakna “datang untuk sesuatu yang dibutuhkan”. Folklor ini memberi tahu tentang laki-laki yang membutuhkan perempuan.
Tapi perhatikan, meskipun para perempuan yang berenang menyeberang, dalam tradisi perkawinan, laki-laki tetap yang harus meminang. Mereka tetap yang harus datang melamar. Para perempuan, meski secara fisik “datang lebih dulu”, secara kultural tetap pihak yang “dilamar”.
Menarik, kan?
Feminisme ala Pamona
Nah, ini yang bikin saya tertarik. Dalam mitos Pamona, konstruksi “laki-laki harus meminang” sama sekali tidak ada hubungannya dengan superioritas laki-laki. Justru sebaliknya, laki-laki meminang karena mereka pihak yang kurang, yang harus membuktikan diri, yang harus bergerak.
Perempuan, dengan tiga haknya, adalah pihak yang kaya. Mereka bisa menunggu, memilih, menerima atau menolak. Posisi tawarnya jauh lebih kuat. Ironisnya, yang terlihat ke permukaan justru laki-laki yang aktif dan berkuasa. Padahal kalau digali lebih dalam, struktur kuasanya bisa terbalik.
Coba bandingkan dengan fenomena modern. Di banyak tempat, cewek yang “nembak” cowok dianggap kurang pantas. Dibilang “mudah”, “gatel”, atau “tidak punya harga diri”. Sementara cowok yang nembak dianggap wajar, bahkan heroik.
Padahal, pakai kacamata mitos Pamona, realitasnya bisa kita baca ulang, cowok “nembak” cewek bukan karena mereka superior, tapi karena mereka harus berusaha mendapatkan restu dari pihak yang punya kuasa lebih. Cewek yang “diam” bukan karena pasif, tapi karena posisi mereka memang sedang menilai, memilih, menentukan siapa yang layak.
Ini bukan berarti saya membenarkan semua konstruksi tradisional. Di era sekarang, semua orang punya kebebasan menyatakan cinta lebih dulu. Tidak ada yang salah dengan perempuan yang mengambil inisiatif.
Tapi yang menarik dari mitos Pamona adalah cara pandangnya yang berbeda. Mereka tidak melihat relasi kuasa dalam cinta secara hitam-putih. Laki-laki aktif secara lahiriah, tapi secara hak dan kuasa, perempuan justru lebih unggul. Ini keseimbangan kosmis, satu hak melawan tiga hak, dan dari ketidakseimbangan itulah tercipta harmoni.
Siapa yang Sebenarnya Berkuasa?
Pada akhirnya, mitos ini mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan. Dalam soal cinta dan kuasa, penampilan luar bisa menipu. Yang aktif belum tentu yang berkuasa, dan yang diam belum tentu yang lemah.
Di era kita sibuk mendekonstruksi ketidaksetaraan, kadang kita lupa bahwa nenek moyang sudah punya cara pandang yang cukup adil, setidaknnya di Pamona. Mungkin tidak sempurna menurut standar modern, tapi jauh dari stereotip “perempuan selalu tertindas”.
Jadi, kalau kamu perempuan dan sedang menunggu dia “nembak”, ingatlah bahwa secara kultural, dalam kerangka berpikir tertentu, kamu sedang menggunakan tiga hak prerogatif milikmu. Kamu dalam posisi menilai, memilih, menentukan. Nikmati saja.
Sementara kalau kamu laki-laki dan sedang deg-degan mau menyatakan cinta, ingatlah bahwa kamu memang pihak yang punya satu hak. Justru di situ lah letak asyiknya~ Kamu membuktikan bahwa satu hak cukup untuk memenangkan hati seseorang yang punya tiga hak.
Pada akhirnya, cinta bukan soal siapa yang memulai. Tapi soal bagaimana dua orang dengan hak yang tidak sama bisa bertemu di tengah, saling melengkapi, dan menciptakan keseimbangan baru. Tapi kalau boleh memilih sepertinya menjadi pihak yang punya tiga hak kayaknya lebih enak, ya?
Duduk manis, tunggu lamaran datang, tinggal pilih. Tapi resikonya harus sabar. Siapa tahu yang datang bukan pangeran tampan, tapi kuda nil.
Ah, sudahlah. Mungkin lebih baik kita semua, laki-laki maupun perempuan akan berani menyatakan cinta ketika hati berkata “iya”. Soal hak satu atau tiga, urusan nanti. Yang penting jangan menyesal karena terlalu lama menunggu dewa mengatur ulang pembagian hak.
*Esai ini ditulis berdasarkan catatan etnografi Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaas Adriani tentang suku Pamona di Poso, Sulawesi Tengah (1950), khususnya pada salah satu bab yang mencatat soal pernikahan dan aturannya dalam suku Pamona. Semua cerita tentang dewa, pembagian hak, dan legenda Pantako adalah dokumentasi etnografis, bukan karangan penulis.*