

Kalau tidak salah dua bulan lalu. Saya masih ingat perbincangan dengan Laoshi —panggilan untuk guru yang mengajar Bahasa Mandarin— mengenai idiom-idiom dalam bahasa Mandarin. Ada satu idiom Mandarin yang menarik untuk ditelaah lebih dalam dan kemungkinan memiliki hubungan antara sastra dan pendidikan untuk saat ini, yaitu:
Tóu xuán liáng yang berarti menggantung rambut di balok atap (anggaplah semacam kusen).
Dalam pelbagai catatan, ungkapan ini tertulis dalam kitab klasik yang berjudul “Tiga Karakter Klasik” pada masa Dinasti Song abad ke-13.
Sebenarnya idiom tersebut dinukil dari cerita rakyat pada masa Dinasti Han Timur abad ke-1. Alkisah, seorang anak muda bernama Sun Jing yang memiliki cita-cita untuk menjadi orang bijak yang berpengetahuan luas. Hari-harinya ia habiskan dengan membaca dan menulis buku. Sebagai seorang pembaca, maka tentu saja lawan utama Sun Jing adalah rasa kantuk. Maka ia menciptakan metode perlawanan dengan mengikat rambutnya dengan tali yang sudah dikaitkandengan balok atap rumahnya. Setiap kali ia tertidur, tali itu akan menarik rambutnya menyebabkan kesakitan yang nantinya mengusir rasa kantuknya. Ketidaknyamanan ini memaksa dirinya untuk terus belajar (Zhang, 2024).
Sementara kitab Tiga Karakter Klasik adalah buku wajib yang harus dibaca oleh para pelajar sejak mereka kanak-kanak. Di dalamnya terkandung banyak unsur budaya, sejarah serta ajaran konfusianisme. Kitab tersebut terdiri dari tiga bagian:
(1) Dasar-dasar hitungan dan sifat moral;
(2) Sejarah dinasti, dan
(3) Alasan perlunya belajar keras.
Dengan idiom dan kitab yang diajarkan oleh mereka, saya merasa terpanggil untuk membaca keadaan sastra dan pendidikan Indonesia. Saya mencoba memahami tema dan keberadaan sastra kita pada hari ini, terutama dalam lingkup pendidikan.
Kita tahu bahwa sastra Indonesia sudah melangkah jauh dan mendunia seperti karya Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk-nya, atau Pramoedya Ananta Toer yang namanya selalu disebut dalam pagelaran nobel sastra.
Pertanyaannya lantas, sudah sejauh mana sastra bergerak dalam dunia pendidikan kita?
Apa yang sudah diperbuat sastra kita dalam ruang kelas dan masyarakat?
Dalam kenyataannya, saya rasa sastra Indonesia bergerak di tempat. Tak ada pembaharuan terutama dalam ranah pendidikan saat ini, dan memang belum ada fokus dalam pendidikan kita mengenai mata pelajaran sastra di sekolah.
Gerak-gerik sastra hanya terlihat pada pembelajaran Bahasa Indonesia dan terbatas. Folklornya pun hanya ada pada materi cerita rakyat. Konten dalam buku teks pelajaran yang muncul hanya cerita-cerita rakyat yang memang populer sebut saja Si Pitung, Maling Kundang, Sangkuriang, dan Lutung Kasarung.
Lalu, apakah cerita tersebut tidak baik?
Bukan itu maksudnya, tetapi kenapa harus cerita rakyat seperti itu yang menjadi bacaan bagi peserta didik?
Bukankah sejak dari kanak-kanak kita harus menanamkan bagaimana pentingnya belajar dan bersungguh-sungguh?
Kalau kita pinjam teori Albert Bandura untuk tulisan ini, mengenai teori perkembangan koginitif sosialnya, ia mengatakan bahwa perilaku —dalam artian pikiran juga— manusia dibentuk dari interaksi dinamis dan timbal balik antara faktor-faktor pribadi manusia itu sendiri, seperti keyakinan dan efikasi diri (Stefano Calicchio, 2023). Keyakinan hadir atas proses yang berulang-ulang dan jelas arahnya seperti yang dilakukan oleh negara Cina. Anak- anak mereka sejak kecil menerapkan pembacaan wajib terhadap buku-buku yang sudah ditentukan. Mereka meyakini bahwa bahasa adalah alat budaya yang paling ampuh untuk menanamkan ideologi dan membentuk karakter.
Jadi, jangan heran jika anak-anak kita masih tawuran antar pelajar, sudah menyukai lawan jenisnya sejak di bawah umur. Perilaku ini memang kompleks musababnya, saking banyaknya faktor-faktor lain di belakang. Seperti lingkungan, pola asuh dalam keluarga, juga sistem pendidikan di sekolah.
Streotip masyarakat masih sama sejak dahulu hingga sekarang mengenai pendidikan di sekolah: bahwa ruang dalah tempat yang suci berisikan ilmu dan akal budi. Memang tidak ada yang salah dari pernyataan itu.
Tapi, apakah sistem pendidikannya sudah mampu menjalankan pendidikan itu sendiri? Atau jangan-jangan ruang pendidikanlah yang membuat anak-anak kita menjadi seperti sekarang?
Maka dari itu perbaikilah secara utuh sistem pendidikan kita terutama pada tingkat dasar.
Freud mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa di masa kanak-kanak memiliki pengaruh besar pada kehidupan dewasa atau membentuk kepribadian manusia (Hall, 2019).
Tentu kita harus menganggap bahwa peristiwa bukan hanya kejadian-kejadian yang fenomenal terjadi. Peristiwa juga bisa dikatakan sebagai suatu tindakan dalam ruang dan waktu tertentu seperti pembelajaran-pembelajaran di sekolah dan di rumah. Peristiwa di sekolah seperti membaca, menulis, menyimak dan berbicara harus diatur sedemikian rupa —bukan hanya metodenya, tapi juga pada muatan dan konten yang harus dipelajari— agar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Beberapa temuan saya pada buku pembelajaran tingkat dasar, hanya mengandung sedikit cerita-cerita karya sastra. Padahal, menurut Bandura, anak-anak suka mengamati sesuatu dari yang mereka simak dan lihat. Kemudian, dalam tingkat sekolah menengah pertama, buku teks dibanjiri dengan cerita-cerita sastra: seperti cerita rakyat, cerita pendek, juga puisi-puisi. Namun, cerita yang disuguhkan cenderung pada taraf kesesuaian dengan usia bukan pada penafsiran dan pemaknaannya.
Tak heran jika produk-produk yang kita gunakan hari ini berasal dari negara Cina, sebab pendidikan mereka jauh lebih jelas dan terarah. Kita tak perlu mengikuti sistem mereka, tapi setidaknya kita harus mencari sendiri yang dibutuhkan untuk masa depan bangsa ini.
Saya meyakini bahwa sastra harus ikut andil untuk itu semua. Sastra bukan hanya bacaan ringan, teman santai, dan hiburan semata, tapi sastra adalah catatan atas sesuatu yang pernah terjadi dan bahkan hal yang belum terjadi (imajinasi). Para penemu-penemu hebat di dunia ini, mereka belajar berimajinasi sebelum membuat sesuatu, bahkan Freud menciptakan teori Oedipus Complex dari naskah drama karya Sophokles yang ditulis 400 SM berjudul Oedipus Tyranoos. Maka sekali lagi, saya katakan bahwa sastra harus ikut andil untuk itu semua.
Referensi
Hall, C. S. (2019). Psikologi Freud Sebuah Bacaan Awal (Tia Setiadi (ed.)). IRCiSoD.
Stefano Calicchio. (2023). Albert Bandura dan Faktor Efikasi Diri: Sebuah Perjalanan ke Dalam Psikologi Potensi Manusia Melalui Pemahaman dan Pengembangan Efikasi Diri dan Harga Diri. Stefano Calicchio.
Zhang, W. L. dan X. (2024). The Chinese Educational Idioms That the Chinese Shall Live By. Sage Journal, 60(1).
Lahir di Tangerang 18 Desember 1999. Bapaknya Hayzea Lanna Kagumi. Menamatkan S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, (2023). Beberapa karyanya telah dimuat Biem.co dan Logawa.id. Kini mengajar di SMA Ekayana Ehipassiko, Tangerang Selatan. Instagram @inialiakbarr
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!