Bedug Robek Membuktikan Manusia memang Mudah sekali Berubah

Jujur saya tidak tahu apakah semua orang tua selalu menceritakan keunggulan hal-hal menyenangkan yang terjadi di masa muda mereka kepada anak-anaknya?

Atau hanya orang tua saya saja yang punya hobi semacam ini?

Bagian paling menyebalkannya adalah saya selalu bingung caranya untuk menunjukkan reaksi. Di satu sisi merasa kesal, tapi di banyak sisi yang lain jujur saya malah sangat suka mendengar dongeng asik semacam yang disampaikan kedua orang tua saya tadi pagi.

Kami pergi ke kecamatan sebelah mengendarai sepeda motor (tentu saja dengan sistem boti alias bonceng tilu) untuk bertemu seorang dokter yang seminggu sebelumnya mengurus saya saat rawat inap di sebuah RS.

Sepanjang perjalanan, kedua orang tua saya asik bercerita ngalor ngidul soal jam masuk kerja mereka di masa muda yang cukup asyik. Tidak seperti sistem kerja zaman sekarang, kata mereka.

Sebagai anak baik, tentu saja saya lebih banyak merespon dengan “Hah?” karena suara mereka yang tak terlalu terdengar di telinga. Namun setelah cukup memahami garis besar cerita mereka, saya tutup obrolan kami dengan satu statement paling klise di dunia

”Namanya juga hidup manusia. Jangankan yang jeda waktunya puluhan tahun, beda waktu 10 menit aja isi otak manusia mah bisa berubah”

Obrolan soal membandingkan dua zaman muda yang berbeda ini tentu saja tidak langsung berhenti saat kami sudah sampai RS. Obrolan itu bisa dibilang baru hampir berhenti saat alunan takbir menyambut Lebaran Haji yang saling bersahutan mengalun dari masjid-masjid yang ada di sekitar rumah kami yang membuat saya tiba-tiba ingin membuka laptop dan menuliskan sesuatu yang akan kamu baca berikut. Eh itu juga kalau kamu sudi membacanya, deng.

Jadi inilah hal yang saya maksud. Malam takbir ini entah kenapa membuat saya teringat pada dua geger keributan yang pernah ramai sebelumnya dan berubah menjadi ironi setelah saya menyadari sesuatu di baliknya.

 

Pertama

Saat saya masih jadi pemakai seragam merah putih dulu, di sela-sela takbir yang dikumandangkan di masjid hampir selalu ada pengumuman alias wanti-wanti yang sama dari pengurus masjid. Intinya kami para anak kecil dilarang berisik dan bermain di masjid dan sekitarnya.

Hal ini tentunya tidak salah, tapi sebagai anak kecil sudah pasti kami tidak pro. Kami sebal karena karena kami (yang dulu dianggap anak kecil) seperti hewan haram di mata para orang-orang itu.

Namun hari ini (sebenarnya sejak beberapa takbiran terakhir sudah mulai terjadi) yang terjadi justru sebaliknya. Para pengurus masjid bahkan kudu rela membuang segala jenis rasa malu untuk menggunakan microphone masjid sebagai alat pemanggil para anak yang bahkan secara usia jauh lebih kecil ketimbang kami dulu agar mau datang ke masjid. Segalanya dilakukan demi lestarinya tradisi dan tak hilangnya penerus, katanya.

Lalu ada geger soal bedug robek. Saya lupa tanggal dan tahun persisnya peristiwa itu terjadi. Yang jelas, saya ingat para orang dewasa di sekitar kami bilang kalau robekan pada bedug itu kelihatan seperti sayatan pisau yang sengaja dibuat oleh orang usil. Saya juga ingat para pengurus masjid yang ada di dekat rumah saya pernah melarang anak-anak pada zaman angkatan saya dulu menyentuh bedug selama bertahun-tahun.

Hari ini, setelah tahu fakta kalau robekan itu adalah hasil karya seorang yang kini jadi pasien RSJ, para pengurus masjid itu  malah memohon supaya bedug itu dimainkan sekeras-kerasnya, bahkan kalau perlu sampai jebol. Pihak pengurus bahkan siap dan akan dengan senang hati mengganti kulit bedug dengan yang baru.

Tadinya saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan singkat “Lucu, kan?” tapi jujur saya khawatir akan ada yang membaca tulisan saya sampai ke titik ini lalu tersinggung, maka izinkan saya tutup tulisan saya ini dengan satu statement paling klise di dunia yang saya sampaikan ke kedua orang tua saya tadi pagi

”Namanya juga hidup manusia. Jangankan yang jeda waktunya puluhan tahun, beda waktu 10 menit aja isi otak manusia mah bisa berubah”

 

Cilempuyang, 26 Mei 2026

Pekerja Teks Komersial dengan skill sambat profesional yang terjerat kasus perecehan tekstual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!