

di langit, burung-burung bersayap hitam memiliki udara. sementara orang-orang mengejar koin dari delman-delman, dari keringat-keringat, dari keinginan-keinginan—
meski harus jatuh ke lubang. setan memainkan rezeki-rezeki. ular yang mengikat tanganmu untuk mengemis, untuk menjadi rendahan. kau persembahkan daging, anak, cucumu untuk menghilangkan kelaparan. daging anak cucumu menjadi rawon hangat meja makan.
seperti lilin, kau terus terbakar dan meleleh. kau menjadi pahlawan untuk sinar rumah. tetapi lupa kau sangat tersiksa—
melihat awan-awan dipaksa hitam oleh hujan, oleh keputusasaan. kau adalah tulang yang mengering dan digigit anjing. dikencingi kucing. tanah dan rumput tak menerima pocongmu. tak mendengar doamu. petang keunguan hanya mengingat, kau melupakan iman untuk dosamu:
untuk koin-koin dari delman-delman, dari keringat-keringat, dari keinginan-keinginan.
27 Maret 2026
sungai menggendong bayi, eceng gondok mengantar menuju hilir. orang-orang memotret dan menghujat. sebuah tanda tanya, matahari tepat di atas kepala.
bayi adalah kertas polos, tidak mempunyai kejahatan dalam tangisnya. tidak menggunakan utang orangtua-nya. bayi seolah daun lepas dari ranting, terbang berkeliling. di mana ia jatuh ia tentukan sendiri. daun yang menggenggam pendar kunang-kunang—
entah akan selalu menyala, redup, atau bahkan mati. setelah matahari digiring pergi, setelah bayi boneka itu berkembang tangan dan kaki. bayi akan merasakan tanah untuk pertama kalinya, dan merasakan siapa yang menggenggam tangan seimut kecambah.
tangan yang mencoba tabah, meski dunia menghadirkan seorang ibu peri lain. ibu peri itu menghadirkan buku dongeng tentang Hansel dan Gretel. tentang keputusasaan dan kehilangan. sebab manusia hanya memiliki cinta di matanya—
cinta itu yang mengajarkan untuk menggenggam. meski terkadang dipermainkan oleh anjing kawin. dan tetes bening sperma pada seprai. mata yang sudah tak lagi telaga itu berkata, “mari mengulang kembali cerita ini dari awal.” seolah masa lalu telah resmi digembok dan takkan diintip lagi.
27 Maret 2026
kita pernah melahirkan setan di pikiran. saat pohon-pohon dimandikan bensin, dilukai api. setan yang menumbuhkan semak-semak berduri. kerakusan begitu tajam, begitu kejam.
setan bercermin, memantulkan otot di perutnya. birahi menyulapnya sebagai kucing meraung sebelum pagi. kucing kawin mengejar betina seperti pelari memperjuangkan piala. jika piala itu tidak didapatkan, maka kucing harus membuatnya musnah.
sebab setan tak menyukai kemenangan setan lain. hanya demi kemenangan, setan bisa melenyapkan saudara, tetangga, bahkan sahabat karibnya sendiri.
setan tidak mempan ditembak hukum, selama ia memiliki kekuasaan dan kekayaan. hukum adalah camilan kacang goreng hangat penghilang gabut. setan tidak akan dinobatkan sebagai tersangka pembunuhan, hanya sekadar numpang lewat di depan penjara.
bicara tentang duit, setan bisa menjadi apa saja untuk mendapatkannya. penceramah, petugas loket wisata, keamanan, dan bahkan pemimpin negara. setan dengan janji semanis gula tebu ini membuat seluruh dunia memujinya. tetapi di baliknya, ia hanya musang berbulu ayam. kapan saja akan menyerang—
menghancurkan musuh sampai selapuk abu pembakaran. sebab setan terlalu berani untuk mengirimkan racun, menyiramkan air keras, mengirimkan teror kecemasan. agar tidak ada yang berani menentangnya. namun hingga saat ini, banyak yang tidak takut dengan setan.
27 Maret 2026
Bukunya yang sudah terbit diantanya Akar Kuning Nenek, Lima Sekawan, dan Sebelum Air Itu Berubah Wangi. Karyanya banyak dimuat di media online dan beberapa antologi bersama.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!