Batu Kali

Pada saat umur lima belas, aku jatuh cinta pada sebuah batu kali. Bukan, bukan batu giok atau akik. Hanya batu biasa seukuran kepal tangan. Berwarna semestinya batu—abu-abu kusam dan menjadi gelap saat basah. Tidak ada jin di dalamnya, tidak ada udang di baliknya. Hanya batu normal yang biasa kalian jumpai di sungai, di tepi jalan, atau di banyak tempat biasa.

Sebelumnya, aku juga pernah jatuh cinta pada sepeda, sebatang pohon, botol minum, dan tentu saja perempuan-perempuan cantik. Aku tidak tahu alasannya, yang ku tahu, itu terjadi sejak aku memercayai harapan konyol dari seorang paman gila.

Pamanku gila. Entah sejak kapan. Tidak ada yang ingat ia pernah waras. Hari-harinya hanya seputar memperbaiki rantai sepeda yang lepas.

Jika pagi ia suka berkeliling dengan sebuah ontel butut. Ketika siang ia memperbaiki rantainya. Jika tidak lepas, maka ia akan sekuat tenaga mengayuh ontel itu di tempat, hingga rantainya lepas. Kemudian memperbaikinya sampai sore. Sampai lelah, lalu lelap di samping sepedanya sepanjang malam.

Sisanya ya seperti orang gila pada umumnya, tidak suka mandi, tidak pernah demam, suka bicara sendiri dan tidak mau dipotong rambutnya. Dalam kegilaan semacam itu, aku lebih gila karena percaya pada sebuah kalimat bodoh yang keluar dari mulutnya,

“Cinta ada di mana-mana, cari saja.”

Demi kalimat itu aku terus mencari-cari sesuatu yang namanya cinta itu. Mungkin dalam film SCTV berjudul Cintaku Kepentok Tukang Sayur, mungkin dalam cerita Rama Shinta yang diceritakan guru pelajaran Bahasa Jawa, mungkin dalam bentuk lain, pohon, daun, kapas, sepeda.

Aku menyatakan cinta pada apa pun, dan siapa pun yang kucurigai membawa cinta. Pernah pada teman-teman mengajiku seperti Julia, Ratna, Arum dan terutama yang cantik-cantik. Terkecuali Ningrum karena dia paling tidak menarik.

Pernah juga pada Mbak Yuyun penjual sarapan depan balai desa. Pernah juga pada sepeda sandal jepit yang kubawa ke mana-mana. Yang paling aneh adalah ketika aku jatuh cinta pada batu kali yang kutemukan di depan rumah setelah semalam hujan badai. Bentuknya montok seperti bakpao Srijaya, tapi keras. Tentu aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, awalnya aku hanya menendangnya berkali-kali selama aku berjalan menuju sekolah setiap pagi, lalu pulangnya juga demikian.

Dia menggelinding menemani perjalanan pulang dan pergiku seperti kami sedang kasmaran. Besoknya lagi, besoknya lagi, setiap hari. Meskipun lama-lama rasanya sol sepatuku mengkap-mengkap, menurutku semakin hari dia semakin cantik, maka kunamai batu itu Si Cantik. Dari situlah aku mulai berdebar-debar ketika bersamanya. Kalau pagi sampai siang kuajak Si Cantik ke sekolah, kusimpan di laci meja paling belakang di kelasku, yang tidak dihuni siapa pun. Kalau malam Si Cantik kusimpan dekat tempat tidur pamanku yang gila, artinya dekat juga dengan sepeda rusaknya itu, di pojok beranda rumahku.

Tidak usah membayangkan bagaimana mungkin ada orang gila tinggal di beranda rumahku, karena bagiku itu mungkin-mungkin saja. Dia sudah di sana sejak aku lahir. Kalau siang melayap semaunya—seringnya mencari tetangga yang punya gawe, kemudian dia akan menjadi laden gratisan, cukup diberi kopi dan gorengan. Kalau sudah capek dia akan pulang dan mengulangi rutinitasnya memperbaiki sepeda di beranda rumahku.

Apakah tidak mengganggu kenyamanan tamu berkunjung?

Mungkin iya, tapi bagi keluarga miskin seperti kami itu tidak pernah menjadi pertimbangan.

Siapa yang mau bertamu ke rumah reyot yang hanya ditinggali janda anak satu dan adiknya yang gila?

Ya, kecuali bank plecit yang setiap Rabu sore mampir. Sepertinya toh dia sudah terbiasa dengan orang gila. Lagi pula pamanku tidak mengganggu, apalagi mengejar.

Aku juga terbiasa dengan Paman, setiap hari aku bercerita padanya tentang semua hal yang membuatku jatuh cinta. Gadis-gadis di tempat mengaji, Mbak penjual nasi kucing, kucing, ikan koi di toko Cina, dan Si Cantik batu montok.

Aku bercerita di saat-saat dia sibuk membetulkan rantai sepedanya, sesekali menyambung dengan kalimat tidak nyambung, sesekali mendengarkan seperti paman yang bijak, kadangkala memberi nasihat seperti filsuf—aku tidak tahu benar apa itu filsuf, sepertinya itu sebutan untuk orang bijak yang suka berbicara ngalor ngidul.

Aku tahu dia tidak waras, tapi barangkali ketidakwarasannya adalah hadiah buatku. Emak tidak punya waktu mendengarkan omongan tidak pentingku, setiap pagi sampai siang dia berjualan apa saja yang bisa dijual di pasar, sore sampai malam dia mencuci baju-baju orang. Kalau beruntung ada tetangga habis panen, emak akan ikut ocek kacang atau upil jagung.

Seandainya Paman waras, dia juga sudah pasti tidak sempat mendengarkan ocehanku, sibuk sebagaimana laki-laki dewasa biasanya. Lagi pun orang gila tidak menghakimi, maka dari itu aku suka bercerita padanya. Dia biasa saja saat aku bilang aku mendekati tiga perempuan dalam satu waktu. Dia biasa saja saat aku bilang aku menaruh hati pada sebuah batu kali, dan dia juga biasa saja saat aku bilang bahwa gadis paling tidak menarik di sekolahku bernama Ningrum.

Ningrum adalah satu-satunya gadis yang tidak membuatku ingin menyatakan cinta. Sebab dia tidak menarik. Postur badannya suka bungkuk, kulitnya kusam dan ekspresi wajahnya seperti selalu sungkan pada siapa pun—dan apa pun—yang dia temui.

Gesturnya seperti seorang babu dan semua orang di dekatnya adalah majikan galak. Padahal tidak ada juga yang mau memukulnya. Satu-satunya keuntunganku mengenalnya adalah karena dia bisa disuruh-suruh. Setiap pagi, buku PR-nya bergantian diputar seisi kelas, dan aku kebagian contekan bergilir itu. Kalau jam istirahat juga dia sering terbirit-birit mencatat pesanan jajan anak sekelas, lalu membawanya dari kantin sehingga kami semua tidak perlu capek-capek antri. Sialnya dia duduk di sebelah bangkuku. Maka setiap aku menoleh, yang kuingat adalah ratapan mengapa dari sekian gadis-gadis lain, harus Ningrum yang di sebelahku. Tidak pernah ada obrolan di antara kami, bukan hanya karena dia tidak menarik, tetapi juga karena dia tidak pernah terlihat nyaman diajak bicara.

“Kau kenapa diam terus?”

Dia menggeleng, menunduk dan tersenyum sungkan.

“Pinjam penghapus.”

Dia mengangguk sungkan, lalu memberikan penghapus.

“Kalau ke kantin, aku nitip kerupuk mercon.”

Dia cepat-cepat ke kantin dan kembali membawa kerupuk mercon dengan sungkan.

Demikian interaksi kami setiap hari. Toh juga belakangan aku lebih sering duduk di bangku kosong paling belakang kalau tidak ada guru, tentu untuk menemui Si Cantik, batu kaliku.

“Lha namanya juga Ningrum, dia tentu perempuan, sang pembawa kasih sayang, tak dung tak dung … ” Begitu tanggapan paman saat aku bercerita dengan Ningrum, lalu dia malah nyanyi-nyanyi tembang tidak jelas. Ya, maklum, sudah biasa, namanya juga orang gila.

Di lain waktu, dia bicara mirip orang waras saat aku menceritakan tentang Si Cantik, “Nyatakan, Nang! Lho ya harus dinyatakan. Cinta itu memang dicari, diperjuangkan, kalau tidak nanti kamu menyesal.” Lalu dia bicara entah ke mana ujungnya.

Segila-gilanya paman, aku lebih gila sebab ketika itu aku sungguhan memikirkan kalimatnya, bahwa cinta memang harus dicari, dinyatakan. Aku memandang Si Cantik semakin berdebar, menimbang barangkali harus kukatakan perasaan ini supaya lega. Perjalanan pergi dan pulang sekolah semakin romantis dan sol sepatuku juga semakin mengkap-mengkap.

Tapi demikianlah cinta, ada saja masalahnya. Pada suatu pagi saat aku sudah siap berangkat sekolah, hendak mengajak Si Cantik seperti biasanya, tiba-tiba tidak kutemukan Si Cantik di tempatnya. Rasanya seperti runtuh, lebih panik daripada ketika guru matematika memberikan ujian mendadak.

Paman masih molor di samping sepedanya, langsung kugoyang-goyang badannya yang bau itu supaya bangun, “Lihat Si Cantik?”

Dia tidak bangun.

“LIHAT SI CANTIK TIDAK?” Aku membentaknya karena geram sampai dia tersentak sadar. Kemudian matanya riyep-riyep seperti orang mabuk dan bergumam tidak jelas.

Lha wong namanya juga cinta, sarat kehilangan dan kesucian di dalamnya tidak abadi, penuh taburan debu sana sini …”

Sial, dia bangun hanya buat meracau ngawur.

Aku geram, semakin membentak-bentak. Lalu kudengar emak ngamuk dari dalam rumah, “Cepat berangkat, jangan ngurusin orang gila.”

Suara emak mengingatkanku bahwa sehari sebelumnya, aku pulang dari sekolah dengan buru-buru sebab harus cepat-cepat membantunya membungkus pecel—dia memang menjual apa saja. Kemudian aku pulang tanpa membawa Si Cantik.

Aih! Si Cantik tertinggal di laci bangku belakang. Tergesa-gesa aku ke sekolah setelah itu, ingin lekas memastikan Si Cantik memang masih ada di sana.

Kepalaku seperti mau meledak setiap langkah. Kakiku hampa, seperti kehilangan sesuatu yang bernyawa. Cinta memang terkadang berlebihan. Sampai kelas, langsung kuhampiri bangku paling belakang, kulihat setiap sudut laci. Tapi nihil. Si Cantik tidak di sana. Aku ingin marah, tapi tidak ada paman yang bisa kubentak-bentak, jadi hanya kuteruskan mencari Si Cantik di laci-laci lain sampai menyerah. Aku berjalan hampa ke bangkuku sendiri, di samping Ningrum.

“Mencari apa?”

Tumben, dia menanya duluan.

Aku diam, memalukan mencari sebuah batu.

“Itu?” Ningrum memberi isyarat ke dalam laciku sendiri, dengan sungkan.

Dan benar, ya Tuhan, Si Cantik ada di sana.

Ningrum tersenyum sungkan. Mungkin dia yang menemukannya, mungkin dia tahu aku suka batu itu, mungkin dia peduli saat tahu batu itu kutinggalkan di kelas. Atau mungkin dia hanya sedang piket sebelum pulang sekolah kemarin dan menemukan Si Cantik. Aku tidak tahu pastinya, tapi ketika itu, senyum sungkan Ningrum tiba-tiba saja berubah menjadi menarik dan Si Cantik tidak lagi terlihat cantik. Aku berterima kasih, kemudian memandangi Ningrum yang terlihat cantik.

Perjalanan pulang sekolah hari itu tidak lagi bersama batu kali—aku lupa di mana menaruhnya, barangkali dia memang harus kembali menjadi batu sebagaimana semestinya batu. Sekarang aku pulang sekolah bersama sebuah perasaan menggebu-gebu untuk segera menceritakan kecantikan Ningrum kepada paman. Berharap saat sampai rumah, paman kebetulan juga sudah ada di sana. Sol sepatuku mungkin sudah bernapas lega karena tidak lagi berjuang menendangi batu kali sepanjang jalan. Meskipun tentu masih mengkap-mengkap.

Kuterka bagaimana paman akan menasihatiku dengan kalimat-kalimat cinta yang biasa dia rancaukan. Atau mungkin dia akan nembang dan cekikikan sendiri seperti yang selalu dia lakukan saat bicara denganku. Barangkali nanti akan kubantu dia membenahi rantai sepedanya sebagai permintaan maafku karena marah-marah pagi tadi. Oh, atau aku tidak perlu minta maaf? Tentu orang gila tidak peduli dengan kata maaf.

Rumahku sedikit ramai saat aku sampai, bukan ramai seperti acara hajatan, hanya kira-kira belasan orang tapi cukup untuk memenuhi pemandangan rumahku yang kecil. Mereka seperti datang membantu sesuatu, seperti sedang ada acara. Setelah aku masuk rumah, baru kutahu mereka adalah pelayat. Melayat kematian pamanku.

Tidak ada kesedihan di wajah mereka, juga wajah Emak, seperti hanya melakukan serangkaian ritual ketika seseorang meninggal. Dibungkus kafan, disalatkan, dikubur, kemudian tahlilan. Emak menyuruhku mengikuti sisa ritual, dan aku melakukannya. Bukan dengan perasaan sedih. Hanya tidak tahu.

Seperti apa rasanya tidak ada yang membetulkan rantai sepeda di beranda rumah?

Kepada siapa nanti aku menceritakan tentang Ningrum?

Bagaimana rasanya tidak ada siapa-siapa yang meracau tidak jelas?

Besoknya semua berjalan normal. Aku berangkat sekolah. Ningrum sungkan mengucapkan turut berduka. Emak jualan, mencuci baju orang, kebetulan juga mocok ngupas bawang di juragan desa tetangga. Ontel buntut paman lumayan membawa berkah, bisa ditukar beberapa rupiah ke tukang rosok. Dan beranda rumah sejak saat itu jadi kosong melompong.

Beberapa hari kemudian aku mendengar orang-orang bercerita bahwa pamanku mati gantung diri. Ada juga yang bilang bahwa mati karena minum Wipol, yang lain bilang bahwa bukan Wipol, melainkan Baygon. Gosipnya berbeda-beda, tapi penyebabnya sama, ia mati bunuh diri. Sepanjang waktu aku memikirkan, mungkin karena aku membentak-bentaknya pagi itu?

Lailiya Futiha Ainurrohmah, tapi nama panggilannya Fatiha bukan Futiha. Perempuan Jawa berumur 20an tahun yang sedang belajar baca di Mesir. Penggemar berat sastra Indonesia sejak lahir dan suka ulat bulu. Kenalan lebih lanjut bisa ke Instagram @fatihah.dian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!