Barangkali Dunia Mengingatku

Barangkali Dunia Mengingatku

 

barangkali dunia mengingatku sebagai

keturunan yang ahli menafsirkan mimpi buruk

menenangkan hati seseorang alangkah herannya

malah semakin memburuk.

barangkali aku ahli menafsirkan mimpi

burukku sendiri yangku warnai penuh darah

mens di punggung kucing hitam.

 

barangkali dunia mengingatku sebelah mata

dan lupa kebenaran berbahaya di sorot

lebih sering di bunuh dan di penjarakan

barangkali ingatan itu menjelma manusia:

ia akan paling jadi pendendam yang membabi buta kesalahan.

 

barangkali dunia mengingatku

dan aku mengingatnya

seringkali dunia merasa besar

dan aku mengecilkan separuh sombongku

berulang kali aku membesarkan kepala

dan lupa rahim hampir memasung tubuhku

 

betapa sering semesta seolah menjegalku

gilanya mulutku terus berbohong

barangkali langit dan bumi terlahir dan

kita menghidupinya seperti mengingat siapa itu Tuhan? Seolah lupa hidup tentang berserah

percaya di pangkuan Tuhan.

 

 

 

Melihat ke Dalam

 

manakala hidup berlari pada pertarungan

bising kota menampar realita hingga lebam

terjatuh lesu sukma meniti jalan

buntu berlubang.

mungkin hampir semua peristiwa selalu

di tutupi kabut lalu tangan kita di atas di paksa berdoa,

agar nasib baik mengejar balik.

menatap muka bantal di keruh air bak

mandi yang mengabur,

seperti dosa lama yang bersarang melumuti batu

tangan menggosoknya di peluh merasuk ke inti lubang diri.

manakala kota banjir menghanyutkan dua mimpiku, menyeret ribuan mimpi orang tua lainnya yang berakhir di laut.

di setiap masa kusisipkan sedikit api di jantung,

sesaat apapun menghadang; aku bukan pecundang!

setiap kerja-kerja yang bergelantungan

di tangan kita, kuatkan jiwanya,

seperti rekah hidup dunia; berbahagia lah setidaknya hari ini

 

 

 

Ingatan Kanak-Kanak

 

ingatan kecil itu meluntur di pelukan hujan

di kantong sobek kunci masa kecil bersembunyi

sesaat musim berayun menjatuhkannya ke danau

mematahkan dahan dan tangan kiriku yang kecil

kini bertato abstrak berwarna merah di lutut dan kedua telapak tangan.

 

sementara ibu adalah guru kelas satu

menyumpal kepalaku serupa pustaka

mengeja huruf-huruf sehalus jam pasir.

lemah otakku dipaksa menebak susunan kata

yang tertulis lalu dieja terbata-bata di papan bolong

hampir serak karena lupa memasukkan koma

 

sementara di sampingku anak seorang pelukis

di kertas itu ia arsir sepucuk senapan dan bom tangan

yang lupa di kokang dan burung-burung kertas berhamburan

meledak di wajah meja

Muhamad Supriyatna Bintang. Duta Baca Kab. Karawang 2025. Sering berbaur bersama pelaku sejarah Rengasdengklok dan Penutur di Perpustakaan Humanity. Instagram @deadnomaden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!