Bapak Saya yang Slow Living ini Mulai Dibuat Khawatir sama Rezim

Bapak saya sudah berusia 72 tahun lebih beberapa bulan. Sedangkan usia saya 20 tahunan, dan masih jadi mahasiswa di satu kampus swasta (bukan kampus kece). Artinya, saya lahir ketika umur Bapak 50 tahunan. Tentu jauh berbeda dengan orang tua teman-teman saya yang usianya setara dengan kakak saya.

Jadi, kalau saya punya pacar yang seumuran, saya bisa menyapa mertua dengan ucapan “Mas” atau “Mbak”

Idih, sok asik~

 

Tua yang Akomodatif

Slogan si Bapak adalah “ngarit is my life“. Meski begitu, saya memiliki pandangan bahwa ia adalah orang tua yang akomodatif. Anaknya saja dapat tiket masuk kuliah berkat usaha pemasaran yang dilakukannya.

Saat anaknya berkeluh kesah, ia mendengarkan. Soal memberi solusi? Itu tak ia lakukan, sebab ia mengaku buntu juga. Tak apa, mendengar tanpa judge sudah bagus untuk seumuran kakek tua itu.

Ia juga sosok orang tua yang pengertian betul. Hal ini baru saya sadari ketika masuk kuliah. Jurusan kuliah yang saya jalani adalah jurusan bagi orang-orang yang sudah selesai dengan perutnya. Jadi, gak akan dapat pertanyaan “Habis kuliah kerja apa?”

Lha iya, kan ini jurusan yang sangat bukan industri.

Waktu berjalan dan saya senang-senang saja dengan dunia ini. Membuat projek tulisan sesuka hati, membuat puisi berbentuk benda-benda (visual property), membuat acara stand-up comedy kecil-kecilan, membuat kabaret, dan tidak perlu memikirkan matematika!

Yang paling menyenangkan, si Bapak tidak pernah repot-repot bertanya dan mendebat saya soal itu.

Masalah datang ketika memasuki semester atas. Pertanyaan “Mau kerja apa?” sering muncul di kepala. Anak perempuan ini sering berkeluh kesah ke bapaknya.

Saya menceritakan proses perkuliahan, ilmu yang didapat dan juga yang tidak didapat, tak lupa juga bercerita soal teman-teman saya. Dalam merespons cerita saya, di situlah secara tersirat saya menjawab “Jangan berharap banyak pada saya, Pak. Dunia kerja saat ini sedang semrawut.”

Apalagi, jurusan saya tidak begitu dipersiapkan untuk masuk ke sebuah industri tertentu.

Bapak paham dan tertawa. Tentu saja itu karena penyampaian yang lihai dari saya. Tidak mudah menceritakan hal ini pada bapak-bapak berumur tujuh puluhan.

 

Tua yang Up to Date

Pada akhir pekan, saya biasanya menyempatkan pulang. Meng-update dinamika dalam keluarga. Si Bapak mempunyai delapan cucu dan ia gemar menceritakan hal-hal yang ia dengar di radio—walaupun harus dipancing dulu, sih.

Suatu hari, saat sedang di jalan pulang ke rumah, saya berhenti di lampu merah Jalan Timoho. Tepat saat itu, sorot mata penuh antusias ini tertuju pada seorang ibu penjual koran. Pada saat itu pula hati saya dan ibu itu sama-sama tahu jika saya menginginkan koran tersebut. Ia menghampiri dengan sumringah dan saya membeli koran itu—sebuah tindakan impulsif yang terjadi begitu cepat. 

Ternyata ini koran akhir pekan. Lebih mahal dan lebih bagus.

Pada kolom “Foto Pekan Ini”, terdapat foto Bernadya yang besarnya sepertiga halaman koran, ada juga foto penguin mungil yang sedang mencari makan di laut Australia. Wah, Menyenangkan!

Aktivitas membaca itu ditonton oleh Bapak. Sampai saya menemukan sebuah judul berukuran besar yang saya baca keras-keras, “Delapan juta sarjana berkerja sedapatnya.”

Gila, delapan juta! Miris.

Lalu, karena mendengar teriakan saya, Bapak bercerita mendengar hal serupa soal sulitnya mencari pekerjaan ini hari. Biasa, lah. Ditambah bumbu-bumbu membandingkan zaman baheula dan zaman sekarang.

Pada kesempatan pulang berikutnya, saya menceritakan soal urusan mencari tempat magang sendiri dan tidak ditetapkan oleh kampus. Saya pikir ini lebih baik karena ruang belajar dan tumbuhnya lebih besar.

Kemudian, sejumlah pertanyaan Bapak lontarkan. Pertanyaan yang kerap jarang dilontarkan. Mungkin, ia teringat soal peluang kerja yang sempit.

“Khawatir, ya?” tanya saya. 

Ia mengiyakan.

Damn, Bro! Simbah-simbah ini cemas!

Kalau dipikir-pikir, Bapak adalah tipe orang yang hanya hidup hari demi hari. Pikirannya sederhana, tak pernah ada kerumitan dalam kesehariannya.

Cita-citanya menanam pohon, memupuknya, menyayangi tanah, agar kalau ia mati, setidaknya ia meninggalkan pohon yang lebat buahnya. Namun, ia pun pasrah jika tanamannya tidak berbuah.

Jika saya menceritakan hal-hal yang rumit, biasanya Bapak akan langsung melupakan dan melanjutkan pekerjaanya, tetapi kali ini ia mendengarkan dan tidak lupa.

Wah, negara ini sukses bikin simbah-simbah khawatir ya, tidak hanya pemudanya!

Bapak-bapak usia tujuh puluhan yang biasanya sibuk memikirkan menanam, memupuk, dan ngarit, sekarang ikut memikirkan masa depan anaknya karena negara sedang dipimpin oleh rezim yang edan.

Rezim yang membuat masa depan terasa seperti barang mewah karena tidak semua orang bisa memilikinya, bahkan setelah bertahun-tahun sekolah!

Saya punya keyakinan si Bapak tidak paham istilah “krisis lapangan kerja”, “bonus demografi”, “ketidakpastian ekonomi”, atau “Indonesia emas”. Ya memang tidak perlu paham istilah-istilah itu juga, sih. Ia sudah cukup melihat anaknya yang sudah kuliah, tetapi masih bingung soal kerja.

Dan, untuk pertama kalinya, saya merasa kecemasan Bapak bukan lagi cuma kecemasan seorang bapak. Saya yakin ini kecemasan seorang WNI.

Seorang warga negara tua yang selama ini hidup sederhana, tetapi akhirnya ikut dibuat khawatir oleh negara yang seharusnya membuat anak-anaknya punya masa depan, bukan keracunan! Waw!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!