Tidak ada identitas dan indikator pasti untuk menyebutkan seperti apa mahasiswa yang ideal itu. Semua tergantung motivasi dan prinsip masing-masing individu. Namun, pelabelan terhadap insan yang disebut mahasiswa itu adalah sebuah norma dan tanggung jawab yang harus dipikul. Mahasiswa disebut sebagai agent of change. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan itu. Tak tahu tokoh mana dan pada buku apa yang mengatakan demikian.

Namun di setiap orientasi awal perkuliahan kita didengung-dengungkan ungkapan itu, bahwa mahasiswa adalah orang yang akan mengubah peradaban. Toh agent of change juga bisa dari selain mahasiswa, tapi kenapa lantas label dan persepsi macam itu sudah menjadi pandangan dari banyak orang?

Mungkin jawaban alternatifnya adalah sudah banyak catatan sejarah tentang citra heroik para mahasiswa dalam perjuangan melawan ketimpangan. Lagu-lagu dan kutipan tokoh menjadi bukti lain yang semakin mendramatisir bahwa memang mahasiswalah yang bisa melakukan perubahan. Jika memang demikian, kenapa harus mahasiswa yang dilabeli dengan pangkat agen perubahan? Toh ada banyak yang lebih layak dan lagi mahasiswa masih seorang pemuda dengan jalan pencarian jati diri yang amat panjang. Di tengah pencarian jati diri ini lantas dia dihadapkan pada tuntutan moral yang sedemikian beratnya. Lalu bagaimana dengan para pemuda yang seumuran dengan mahasiswa namun tidak kuliah? Apa mereka masih kurang pantas termasuk dari barisan agent of change?

Semua pertanyaan tadi serasa ingin saya tanyakan pada Eko Prasetyo yang dalam bukunya yang berjudul Bangkitlah Gerakan Mahasiswa ini dengan sangat sinis memunculkan tulisan-tulisan provokatif. Tak tahu pasti apa yang memotivasinya dalam buku ini. Apa karena sebuah kecemburuan atau memang murni panggilan moral? Tapi pada dasarnya pergolakan-pergolakan yang ada dalam buku ini membuktikan pada kita bahwa jati diri mahasiswa yang sebenarnya masih belum ditemukan dan belum sepenuhnya disepakati. Apalagi di zaman sekarang, pergerakan macam apalagi yang mustinya harus dan memang penting bagi mahasiswa. Apa memang seharusnya mereka yang menangani kasus-kasus yang sebenarnya bukan kewenangannya? Eko seolah menyatakan bahwa hanya mahasiswalah yang bisa melakukan perubahan.

Sangat skeptis dan sinis.

Walau memang pada kenyatannya mahasiswa sudah terbukti banyak melakukan perubahan, namun mereka juga harus mengerti bahwa perubahan yang pertama kali harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri. Mungkin bila dimaknai dengan kepala dingin dan plural, hal inilah yang menjadi maksud Eko dalam bukunya. Sebab penyadaran memang sesekali juga harus menggunakan bahasa yang sedikit keras dan provokatif bahkan cenderung terlalu berlebihan. Eko juga seolah ingin menyadarkan bahwa pendidikan dan kegiatan akademik tidak semestinya menjauhkan diri kita dari realitas sosial. Namun pada kenyataannya memang seperti itu yang terjadi. Belajar dan membaca buku menjadikan manusia semakin jauh dengan manusia lain. Lalu apa yang harus dilakukan?

Jawaban pastinya adalah dengan perlawanan. Apakah perlawanan harus dengan aspek fisik melulu? Tentu tidak. Melawan ketidaktahuan dan ketidaksadaran juga merupakan sebuah perlawanan. Ini yang kerap dilupakan oleh kita. Terlalu membabi buta beranggapan bahwa mahasiswa adalah penegak perubahan sehingga sering kali orang lupa melihat diri sendiri. Mengabaikan kewajiban yang seharusnya lebih penting dan berlagak heroik tak tahu kalau diri sendiri masih belum bisa apa-apa. Parahnya lagi, anggapan dan paradigma buta itu ditularkan pada orang lain , lalu akibatnya banyak korban berjatuhan dan mulai gamang memikirkan masa depan.

Buku seperti ini bisa dikatakan penting dan bisa juga membahayakan. Bila umpama ada pembaca yang menelan ungkapan-ungkapan yang ada di dalamnya secara mentah-mentah maka mereka akan beranggapan bahwa dunia tak lebih hanya sekadar sarang berantakan yang berisi masalah-masalah. Tak ada keindahan di dalamnya. Maka sebisa mungkin buku ini dibaca dengan pikiran yang luas dan terbuka. Bahwa masih ada hal lain di dunia atau bahkan di negara ini yang bisa kita nikmati dan perjuangkan. Tidak melulu sibuk mengurus kesalahan orang lain. Sesekali juga perlu memberi penghormatan juga apresiasi atas sebuah usaha walau misal pada akhirnya gagal.

Membaca dan memahaminya mentah-mentah hanya akan membawa pikiran kita untuk selalu menyalahkan pemerintah. Sebab bila digambarkan, seolah Eko mencoba memperbaiki rumah yang sudah rusak dengan cara mengobrak-abkrik orang yang tinggal di kamar yang masih bagus berharap peka dan ikut memikirkan kerusakan-kerusakan yang ada. Tidak ada pikiran dingin dalam buku ini secara keseluruhan. Bisa jadi cara seperti itu berhasil dan bisa jadi juga semakin memperparah keadaan.

Namun begitu, hasutan dan provokasi dalam buku ini memang bukan tanpa alasan. Ayemnya kondisi kampus menjadi suatu kenyataan yang pada dasarnya memang aneh. Dinamika peraduan gagasan di kelas-kelas semakin kehilangan nyawanya. Mahasiswa sudah banyak yang memilih untuk hanya mendengarkan tanpa ramai berdiskusi. Toh ini belum sepenuhnya menjadi kenyataan umum, tapi ini patut untuk dikhawatirkan. Jangan sampai mahasiswa hanya nama sebutan yang membedakannya dengan siswa namun masih sama dalam sikap dan perbuatan.

Dalam kondisi seperti itu maka pesan-pesan Eko Prasetyo akan sangatlah relevan. Mencoba memberi indikator tentang mahasiswa yang ideal walau sebenarnya sedikit absurd. Bahwa mahasiswa bukan lagi siswa. Bukan lagi orang yang belajar dengan hanya mendengarkan. Selain itu, semua yang bisa membuat kita terlena atas iming-iming hidup mapan berupa harta dan pangkat akademik tidak lantas menyurutkan kepekaan manusiawi kita sebagai makhluk yang berperasaan. Buat apa pintar kalau pintar sendiri. Buat apa kaya kalau kaya sendiri. Buat apa sukses kalau sukses sendiri. Inilah pesan tersirat yang tersembunyi di balik narasi-narasi sinis buku Eko. Semacam berlian yang berlumuran lumpur sehingga tak terlihat sebagaimana layaknya.

Selain itu juga,  yang paling penting adalah walau kita hidup di tempat atau kondisi yang jelek atau bahkan lebih parah, selama masih bisa menjaga dan membenah diri sendiri maka lingkungan tidak akan mempengaruhi kita. Kuncinya bukan lantas membenci lingkungan lalu menjauhinya. Bukan malah membabi buta menyalahkan kampus, pemerintah, dan keadaan. Tapi sebisa mungkin menyadarkan diri lebih-lebih orang lain bahwa lingkungan jelek pastilah juga disebabkan oleh sikap kita yang juga jelek.

Selebihnya, bacalah buku ini dengan pikiran terbuka dan bijaksana. Niscaya semua tak seburuk seperti yang kita pikirkan.

 

DATA BUKU

Judul: Bangkitlah Gerakan Mahasiswa
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Intrans Publishing
Cetakan: Pertama, Mei 2015
Tebal: 220 Halaman 15,3 cm x 21,5 cm
ISBN: 978-979-3580-77-7

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang