Balon

Balon

 

‎barangkali genggamanku terpaksa merenggang. tak seperti dulu ketika hujan hujah datang berlalu-lalang. “aku bukan balon, sayangku,” katamu saat hujan waktu itu. ‎barangkali ciuman adalah suvenir terakhir. boleh jadi kita sudah lelah berhujah, sehingga akhir jadi kata yang kita baca di kamus besar bahasa indonesia. dari tas kecil yang kamu apit, diambilnya lipstik berwarna merah kemudian dijejakan pada dahiku:

‎                                                      se

le

sa

i.

 

 

 

Cium

 

barangkali ini cium terakhir paling sentimentil

—di semesta seluas tiga x tiga.

 

‎ombak menggulung gaun luasmu

—yang terimba-imba itu.

‎                        “apakah kamu ingat bagaimana

‎                        pertama kali kita saling lumat?”

‎                        katamu ketika hujan mulai jatuh

‎                        merasai rasa lidahmu.

‎aku ingat, apa yang hendak kaubawa?

 

‎pada ujung pantai, matahari mengintip

‎dari celah langit:

‎            aku baru saja sadar kalau matahari

‎            yang kamu bawa adalah khianat.

‎            ia terbit dari barat. dan kita sedang

‎            di ujung masa di mana ciuman kita

‎            hanya mengulur datangnya Al-Mahdi.

& kemudian ‎para cecamar terbang melingkar-lingkar

di atas pagar waktu. ‎sayangku‎, suntikan bisamu pada leherku, jangan mulutku. minggatlah. Ciumku adalah racun. barangkali Al-Mahdi

cukup ‎melihat kita jadi belulang belaka.

 

 

 

Polaroid

 

dan ingatanku tetap

‎berserak. merebak ke

‎sepenjuru kamar yang nisbi

 

‎dan aku akan kembali lagi

‎kembali pada meja.

‎sambil menatap polaroidmu:

pantai yang beku.

‎    saat laut menjahit gaunmu

‎    memalu ombakmu dengan gemas.

‎dan laut telah pindah ke sini:

‎       ke dalam tumpukan kopi.

‎bulan susu merubah malam

‎jadi pucat pasi. dan bibir pantai

‎adalah bibir terakhir di mulutku

 

 

 

Dokter

 

mencintaimu adalah membatalkan segenap kata yang diutarakan oleh para rakawi, brahmin, pendeta, dan alim ulama.

dan pada jarum jam ini aku masih belajar—belajar selamanya–mengikat leherku pada scapula kepunyaanmu.  Dan aku masih mencari cara agar tidak merasa alah pada waktu.

mencintaimu artinya adalah melicinkan yang terasa kesat. Pada kulitmu yang penuh mangsi, olesan bulbouretralis rupanya tak cukup untuk melancarkan seluruh yang kesat pada tubuhmu.

dan ketika kita membunuh matahari, aku gagal (atau barangkali menunda berhasil) untuk menautkan kailku pada belikat yang tertutup deltoideusmu yang gagah itu.

 

 

 

Waktu-Tubuh

 

pada sebuah waktu,

aku mencicip:

bait-bait tubuhmu;

rima-rima bibirmu;

makna-makna di dadamu.

 

kita berhasil menghentikan waktu

kita berhasil menyatu bersama waktu.

 

kita:

aku dan kamu

yang terlapisi waktu:

merobek waktu;

melangkahi waktu;

menistakan waktu.

 

Kemudian,

pada sebuah besok

dan ketika waktu selesai dirobek

kita menghilang bersama waktu.

 

Kita sudah menjadi kemarin.

yang tersisa besok:

aku dan kamu.

Lahir pada bintang taurus lagi mengedar di langit. Selain menulis dan membaca, tidur menjadi hal favoritnya. Menjalankan laku baca-tulis di sekitar Bekasi-Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!