Balada Anak-Anak Kampang

Batok adalah anak kampang, dan sebagaimana anak kampang, ia tak peduli soal pendidikan.

Gagasan bahwa pendidikan dapat memperbaiki negeri ini, setidaknya 15 tahun dari sekarang, baginya hanya tahi pilat yang dikarang-karang pemerintah pusat di Jawa—pulau penjajah yang orang-orangnya hidup enak mengeruk alam Sumatra. Mana mungkin pendidikan bisa menghapus pengangguran dan membuat Batok jadi orang sukses? 

Lagipula, 15 tahun itu terlalu lama. Siapa yang mau menunggu selama itu?

Sesuatu yang menghasilkan itu, bagi Batok, seperti bermain rolet judi yang setelah diputar langsung kelihatan hasilnya—sekalipun membuat bangkrut dan bubuk.

Itulah sebabnya Batok berhenti sekolah. Tak akan ia membuang-buang waktunya dalam sirkuit tertutup rancangan kapitalis yang menghabiskan masa muda. Di usia 16 tahun, Batok seharusnya sudah produktif menghasilkan duit. Itulah sebabnya, setelah bangun tidur pukul 10 siang, Batok memulai hidupnya dengan memutar rolet. 

“AH, KAMPANG!” teriak Batok setelah memutar rolet untuk keseratus kalinya. Dia sadar duitnya sudah habis. Lebih jelasnya, duit bapaknya. Lebih jelasnya lagi, duit pensiunan bapaknya yang kini hanya bisa berbaring di ranjang sambil “A-U-A-U” tanpa menghasilkan lebih banyak duit.

Batok masih butuh duit bapaknya. Kalau duit bapaknya lebih banyak dan kalau admin judi di Kamboja berbaik hati, Batok bisa menjadi kaya raya walau cuma sehari.

Kalau Batok kaya raya, ia dapat memangkas kesenjangan daya belanja masyarakat lokal dengan membelikan teman-temannya AM atau Mansion House, sehingga bergeraklah roda perekonomian lapo-lapo tuak di sepanjang Pasar 16 hingga Tangga Buntung.

Meski kadang ia bangun sore atau Magrib, itu tak masalah, karena ia anak kampang yang brilian. Saat berkumpul bersama teman-temannya Batok jadi lebih brilian. Misalnya, mempreteli besi di tempat umum untuk dijual.

Setiap malam Minggu, mereka akan berkumpul di sudut trotoar Kota Palembang, menyedot “es kacang” dengan pipet dari kantong plastik sambil menandai lampu taman dan tutup got yang akan mereka gasak dan dijual ke pengepul besi bekas. 

Selain brilian, mereka juga sering menantang maut: memanjat rangkaian besi di Jembatan Musi VI hanya untuk mencopot lampu hias indah yang bergelantungan di sana. 

Besok-besok, jembatan itu tidak lagi bersinar dan media lokal segera memberitakannya. Batok tidak akan peduli, karena saat beritanya disiarkan di pagi hari, Batok masih mengorok di tempat tidur.

Batok tak perlu diajari lagi soal tanggung jawab, karena dia tak mau tahu, dan anak kampang memang tidak perlu bertanggungjawab pada apapun—kecuali asupan harian Samsu dan sabu.

Batok dan teman-temannya hanya perlu tahu apa itu kampang, pilat, kacuk, pile’, jalat, patok, biji kenain dan umpatan-umpatan nista lainnya dari daerah asal nenek moyang mereka di penjuru Sumsel, karena dengan sebutan itulah mereka memanggil satu sama lain meski di saat bercanda.

Di lain hari, setelah memutar slot untuk keseratus sepuluh kalinya dan berteriak “AH, KAMPANG!”, Batok  bersama kawan-kawannya akan berangkat membawa gergaji besi untuk memotong-motong rangka aluminium di Dermaga 7 Ulu.

Siapa yang butuh dermaga bagus?

Orang Palembang cuma perlu makan, dan tidak perlu dermaga warna-warni norak buat makan. Menjual aluminium itu sendiri kepada pengepul rongsokan sangatlah cukup untuk membuat mereka bisa makan. Bahkan kelebihan duitnya dapat kembali Batok setorkan ke Kamboja sebagai deposit, sebelum Batok kembali berteriak “AH, KAMPANG!!” saat putaran slotnya tidak memberinya apa-apa selain kebangkrutan yang lebih dalam.

Padahal dulu sekali, Batok pernah memenangkan 10 juta lewat slot. Itu tentulah berkat kepandaiannya yang tidak pernah dihargai pemerintah—itulah sebabnya dia mencuri bola lampu dan palang besi punya pemerintah, untuk mengajari orang-orang pemerintah itu supaya lebih memperhatikan rakyatnya yang punya kecerdasan potensial.

Bagi Batok dan kawan-kawan kampangnya, segalanya tidak melulu soal duit. Terkadang mereka berbuat sesuatu yang tolol karena mereka pikir itu keren saja.

Baru beberapa bulan lalu, halte-halte Teman Bus di Palembang dirobohkan, lalu dibangun ulang oleh pemerintah dengan desain yang lebih cantik. Namun, orang-orang cendikia lagi berbudi luhur macam Batok dan rekan-rekannya yang suka merusak fasilitas publik tak mau mengerti “cantik”.

Mereka mencoretnya, mengencinginya, dan menulisinya dengan kata-kata kotor yang mereka kira lucu. Mereka tidak bayar pajak, dan mereka mencuri duit lauk yang sudah susah-payah disembunyikan emaknya di bawah buntalan kain demi mendapat sabu-sabu. Mereka kemudian kencing lagi di fasilitas umum dan membuat grafiti yang tolol lagi jelek, yang tidak bernilai estetika meski dilihat dari ujung pipet. 

Meski begitu, tatanan masyarakat Palembang yang guyub nan toleran justru membuat Batok dan kawan-kawannya terpelihara dengan baik dan berumur panjang, seperti beruk peliharaan Pak Haji. Bahkan sampai mereka belajar caranya memakai baju dan berutang rokok di warung gerobak, menggunakan ponsel untuk mengakses situs porno dan judi bola via VPN, mengolok-olok orang lain dengan sangat tidak terhormat di media-media sosial yang mereka sudah lupa kata sandinya, sehingga saat ponselnya rusak, maka matilah media sosial mereka. Sampai mereka—akhirnya!—belajar caranya menemukan lowongan kerja di Facebook, hanya untuk kemudian mereka menghubungi HRD dengan pesan WhatsApp berisi:

P

Brp gajinyo?

Lantas di suatu malam Minggu lainnya, masih menganggur, mereka kembali berkumpul, duduk membuat lingkaran macam sekumpulan peri buruk rupa demi menyuapi ego mereka satu sama lain.

Awalnya, mereka menyalahkan pemerintah, lalu menyalahkan orang Cina, lalu orang Jawa. Mereka semua sebab mengapa Batok dan kawan-kawannya masih menganggur dan akan terus menganggur, bukan karena mereka malas.

Batok yakin, ada usaha terselubung dari keturunan-keturunan PKI di Indonesia yang ingin terus memperkaya orang keturunan Cina, sementara orang Palembang sengaja dimiskinkan dan dibodohkan agar tidak menjadi raja di tanahnya sendiri, dan mereka anak-anak kampang harus melakukan perlawanan.

Pertama-tama, mereka harus menodong turis yang sedang berfoto di Jembatan Ampera—sudah dilakukan—lalu kemudian, mereka akan memalaki bus pariwisata dari Jawa yang parkir di pelataran BKB—sedang direncanakan. Usaha menegakkan marwah Melayu Sumsel itu tentu akan membuat arwah nenek moyang mereka tersenyum. Sementara bapak Batok di rumah tengah meregang nyawa akibat tersedak air liurnya sendiri.

Semua itu tidak cukup. Siapa bilang hanya PKI dan Cina yang salah?

Mereka mulai menyalahkan para pendatang yang mengisi lapangan pekerjaan di kota mereka. Mereka beramai-ramai akan mencari alasan historis untuk menyalahkan orang-orang pendatang ini: mereka memang khianat.

Nenek moyang mereka dulu sering membantu Belanda menandai letak meriam-meriam maling di sepanjang Sungai Musi. Bapak-ibu mereka bertransmigrasi ke hutan-hutan di Sumatra, lantas membabatnya, membuka pemukiman, tapi mereka enggan membaur dengan masyarakat setempat dan kukuh mempertahankan adat mereka, bahkan logat mereka yang kampungan.

Padahal selayaknya mereka menyembah-sujud kepada Batok dan kawan-kawan kampangnya, pewaris Batanghari Sembilan, karena merekalah yang mampu lagi gemar mengencingi halte bus kota dan memberaki jembatan penyeberangan orang di depan Masjid Agung. Harusnya mereka menjilat kaki Batok dan kawan-kawannya, karena nenek moyang merekalah yang kerap menjegal truk pengangkut barang di Jalan Lintas Barat, sebelum merampok dan menggorok supirnya dengan heroik untuk menghidupi dusun-dusun mereka yang miskin dan mamang-mamang mereka yang sakau dan perlu menghisap sabu.

Setelah puas bermimpi basah bersama tentang kegagahan nenek moyangnya, mereka lantas pergi ke jalan-jalan yang gelap, menodong orang-orang yang lewat dengan pisau, atau mengamuki turis-turis lokal di Benteng Kuto Besak yang enggan membayar parkir Rp20.000,-. 

Jika sedang iseng dan bertenaga sehabis menenggak “es kacang”, mereka akan memanjat kembali tiang-tiang lampu yang indah itu, lantas menodai keindahannya dengan tangan mereka yang bau tuak, mencuri bola-bola lampu itu agar besok pemerintah yang katanya korup itu dapat menggantinya dengan duit masyarakat lain yang tertib bayar pajak, hanya agar di hari yang lain mereka dapat kembali mencolong lampu itu. Semasa adrenalin mereka tengah tinggi, mereka akan naik ke Jembatan Ampera, memukuli turis dari Kayu Agung yang telah terlebih dahulu mereka lucuti dompet dan ponselnya.

Keesokan harinya saat lapangan kerja semakin sedikit dan Palembang yang indah ini semakin buruk di mata semua orang, Batok dan perkumpulan anak kampangnya akan kembali menyalahkan pemerintah. Mereka akan bilang: mending zaman Soeharto, pembangunan lebih terasa! Mereka tidak paham bahwa jika hidup di zaman Soeharto, maka orang-orang macam merekalah yang pertama-tama akan dihabisi oleh Petrus, karena merekalah yang sebenarnya menghambat pembangunan. Merekalah yang jasad-jasadnya akan ditemukan tanpa kepala di kolong Ampera dan pesisir Pulau Kemaro.

“AH, KAMPANG!” umpat Batok, setelah dia memutar slot untuk ke-1343 kalinya dan kembali rungkat.

Lengit sudah uang hasil menggagahi turis di Jembatan Ampera. Habis pula lembar-lembar kusut yang diberikan pengepul besi bekas. Tidak ada yang tersisa, kecuali teman-teman kampangnya yang tengah teler. Mereka menerawang ke tempat yang sangat jauh, ke gugusan awan yang membentuk dari asap bong botol Aira.

Batok kedinginan. Padahal ritus mereka sudah tepat dan lingkaran mereka sudah lekat. Batok mencoba melihat ujung kakinya, tapi setiap dia mengerjap, yang tampak makin jelas justru sosok bapaknya yang mengenakan pakaian serba putih, melayang-layang di antara awan yang mereka hembuskan di ruangan sempit itu.

Di seberang sana, bapak sudah bersiap meludahi dan mengampang-ngampangi Batok tepat di depan mukanya, segera setelah Batok menyeberang menyusulnya.

Beberapa karyanya yang ditulis dalam nama lain, baik puisi, cerpen dan ilustrasi pernah diterbitkan dalam bentuk antologi, Kereta Kematian (2020), Tabung Air Anti Korona (2020), Antologi Puisi Semarangan (2020), serta yang paling anyar, Musi dan Manusia (2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!