“Kamu harus mulai menulis!” kata Rusdi.

Lambat laun aku menulis beberapa, mungkin puluhan puisi, entah untuk apa dan kepada siapa tulisan itu bermuara. Yang penting aku menulis. Kadang karena pesanan teman atau jatuh cinta, atau bahkan karena iseng. Pokoknya seperti kata Rusdi, yang penting aku menulis.

Beberapa puisi aku abadikan dalam buku meski kawanku yang membaca cuma iya-iya-saja, yang penting aku menulis. Namun sering kuurungkan niat untuk mengirim tulisan ke media cetak karena takut ada salah kata. Bisa-bisa aku masuk bui, pikirku.

Mungkin tersesat atau apa namanya, aku masuk kelas Ilmu Sosial dan Politik yang pada masa remaja tidak aku suka. Padahal seusai lulus di bangku Sekolah SMA, aku berkeinginan masuk kelas Kesenian atau Sastra, namun apa daya, “toh, yang bayar orang tuaku, bukan orang tuamu” sambil makan kacang hangat aku bicara dengan nada kesal di hadapan Rusdi.

Tentu aku punya alasan mengapa pada usia remaja tidak begitu suka dengan politik. Ada banyak kebohongan di dalamnya. Menguntungkan atau merugikan, jelas aku lebih suka kejujuran. “Haha, dasar bocah” sesakali aku ngedumel, menukas pikiranku sendiri yang terasa sempit.

Masabodo, ah, salah sendiri kenapa gak pandai bersiasat” sambil tertawa, Usep melihatku cemberut karena ia berhasil mengelabuiku sewaktu di bangku sekolah SMA.

“Dasar bangsat!” bersungut-sungut aku sembur si Usep.

Begitu banyak kejadian yang membuat orang-orang geram terhadap politik, dan semakin pening dibuatnya. Gara-gara harga sembako tak kunjung turun, akibatnya ibu di rumah merongseng terus,

“Bapak cari duit gak sih? Ini harga beras makin naik saja, loh. Bapak mau ngasih makan anak kita kecoa dan tikus? Atau mau burungnya aku jual saja?” kurang lebih seperti itulah sekilas percakapan keluarga harmonis yang hampir setiap hari pecah di rumahku, tetanggaku, tetangganya tetanggaku atau mungkin ibu-ibu sekampung. Rasanya kepala ini ingin disimpan saja andai dapat dilepas kemudian diganti. Seperti celana dalam jika sudah bau pesing dan terasa gatal dapat dilepas dan diganti. Tapi sayang, ini kepala.

“Pokoknya kamu harus menulis.” kata Rusdi.

Sambil menyeruput kopi yang hampir dingin diselingi menyesap rokok yang tinggal separuh. Setelah menimbang-nimbang dibantu keheningan yang maha tertib, juga berkat salah satu buku yang tertulis kalimat ‘manusia adalah makhluk politis’ sampailah aku menemukan tangga menuju kehidupan baru yang menyimpulkan bahwa, “aku harus ngerti politik.” Dan sialnya selama aku menyumpah-serapah, ternyata aku sudah bergaul dengan politik sedari dalam kandungan atau bahkan dalam raga bapakku hingga kini. Entah.

“Bagaimana kalau setelah lulus kamu masuk partai saja? Kebetulan bapakku sekarang menjabat sebagai pimpinan cabang. Nah, pendidikanmu, kan ilmu sosial dan politik pasti cocok.” rayu Tarno, temanku semasa di Sekolah Dasar membujuk agar aku masuk ke ranah organisasi.

“Buat apa? Aku gak berminat.” aku menjawab.

“Di sana hidupmu akan terjamin. Jangan khawatir” dalihnya.

“Gak mau, untuk saat ini. Gak tahu, kalau bapakmu sudah lengser, haha.” kataku sedikit bergurau dengan serius.

“Sialan!”

“Jangan lupa, kamu harus menulis.” kata Rusdi.

Aku lulus tanpa kendala bahkan cukup puas dengan nilaiku. Mungkin karena rajin mengisi absen dan tak pernah menyudutkan dosen ketika mengajar di kelas. Pernah pada suatu hari teman sekelasku, Buyung, menentang dosen karena terlalu mambesar-besarkan pemerintah. Buyung menganggap apa yang dikatakan dosen tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

“Sudah hampir tiga dekade sejak dirinya menjadi presiden negara ini jadi banyak yang tidak beres. Mengatasnamakan dasar negara demi kepentingan pribadi. Apa Bapak menganggap itu hal yang beres?” tegas Buyung sambil menunjuk ke luar jendela.

Perdebatan antara siswa melawan dewa tak terhindarkan, seketika kelas menjadi riuh dan dosen meresa dipermalukan.

Nampaknya si dosen tidak tinggal diam. Saat di akhir semester, dosen itu memberikan nilai kelewat buruk terhadap Buyung. Padahal ia siswa yang cukup rajin mengisi absen bahkan tugas-tugas yang dosen itu beri, ia kumpulkan tepat waktu. Dengan otomatis Buyung menjadi sulit untuk menyelesaikan pendidikannya karena harus mengulang mata kuliah dosen tersebut. Tapi apa pun yang Buyung lakukan itu barangkali agar si dosen merasa jera. Sebab mau bagaimanapun “dosen yang menganggap dirinya dewa bagi para siswanya, harus diubah menjadi manusia.” kata Rusdi.

Ya, Rusdi gencar melakukan diskusi kecil dengan mahasiswa yang lain terkait rencana menggulingkan pemerintahan, sembunyi-sembunyi. Bentukan sifatnya yang temperamental dan berani membuat Rusdi dianggap siswa berbahaya. Sampai beberapa kali Rusdi diinterogasi oleh pihak keamanan kampus tapi ia tangkas dan berhasil mengelak. Rusdi terus diawasi di luar maupun dalam kampus. Bahkan pernah suatu hari Rusdi diteror lewat sepucuk surat kaleng misterius.

“Bocah ingusan seperti kamu gak akan hidup berlama-lama.” begitulah kurang lebih isi suratnya.

Rusdi hanya memberi tahu kepadaku dan melarang memberitahukan ke kawan sepergaulan sebab tidak mau mereka merasa takut dan was-was.

“Kamu harus menulis.” bisik Rusdi.

“Kenapa kamu tidak masuk birokrasi saja? Kamu, kan punya pengetahuan dasar soal pemerintahan.” Rusdi mengingatkan.

 

***

 

“Termasuk Rusdi. Rusdi hilang.” kata Oman yang pada waktu itu ikut berdemonstrasi di depan gedung Walikota bersama Rusdi dan mahasiswa jurusan Teknik Mesin yang lain.

Mereka menuntut kenaikan harga bahan pangan yang berakibat tidak stabilnya sektor sosial dan ekonomi. Mereka dihadang aparat keamanan negara. Bentrokan pecah, mahasiswa melawan aparat bertameng loreng dilengkapi pentungan simbol kekuatan. Mahasiswa dipukul mundur.

Teror terus meluas. Manusia jadi buas, rakyat kelimpungan cari makan, pengusaha bangkrut, penguasa panik.

Rusdi hilang beberapa hari kemudian sejak kejadian itu. Dicarinya Rusdi oleh teman sepergaulannya di rumah, ibunya tidak tahu dan menangis. Bertanya kepada pemelik kosan tempat Rusdi tinggal tidak ada.

“Tapi kamu harus menulis.” terasa betul bisikan Rusdi di lubang kupingku beberapa waktu silam.

Setelah berlama-lama menganggur, akhirnya aku bekerja di media percetakan yang memproduksi koran harian. Mereka bekerja sama dengan instansi negara. Namun sialnya, sejak beberpa tahun ke belakang, pemerintah mengawasi perusahaan percetakan di kota karena takut dijadikan sebagai ladang propaganda dari gerakan akar rumput. Jika ada perusahaan media cetak terlihat menerbitkan tulisan propaganda, maka perusahaan tersebut akan bangkrut. Orang-orang yang terlibat akan dibui karena dianggap mengancam persatuan negara.

Sebagai bawahan, aku harus turut dan patuh terhadap majikan, jika tidak, aku akan diberhentikan secara tidak hormat lalu dianggap berbahaya. Media cetak hanya menulis pencitraan negara dan presiden.

“Tapi kamu harus menulis dengan jujur. Tulisanmu harus sampai ke penjuru kota. Kalau bisa ke penjuru negeri bahkan dunia. Jangan takut, akupun akan menulis tentangmu.” Rusdi bicara kepadaku. Matanya menatap penuh harap.

Sejak Rusdi hilang, aku kerap berpikir kenapa Rusdi rela jadi buron.

“Apa, sih maunya kamu, Rus?” aku jadi merasa bersalah sebab berita yang kutulis tidak sesuai kemauan Rusdi.

Apa yang dapat dilakukan seorang perempuan tanpa juntrungan seorang kekasih? sedang perempuan itu sedang dalam jeruji? Ya, aku harus keluar dari tempat sial ini.

“Nah, coba kamu tulis” kata Rusdi saat berduaan di dalam kamar.

Sebelum hari keberhentian, ada yang harus aku lakukan untuk Rusdi. Walau sampai hari ini tak satu pun kawan yang menemukan tubuh Rusdi barangkali ia sedang bersembunyi di bawah gerbong kereta atau gelantungan di balik tubuh macan, aku tidak tahu. Jelas karena keyakinanku terhadap Rusdi, aku ingin jadi pemberani.

Perlahan dengan sembunyi-sembunyi aku masukan berita orang-orang hilang, termasuk Rusdi. Aku mendapatkan banyak kabar dari teman sepergaulan yang masih aktif dalam gerakan akar rumput. Mau bagaimanapun aku masih dikatakan aman meski beberapa kali bertemu dengan mereka berkat Rusdi.

Lega lahir batin karena tulisanku sudah sampai ke sudut-sudut kota. Aku sudah menulis dengan jujur, Rus. Sekarang tinggal mencarimu.

Sejak saat itu aku hilang, hingga kini tak ditemukan.

Begitulah cerita Rusdi kepada anak-anak dan istrinya yang sekarang hidup bahagia di sutau tempat di Jakarta.

Profil Penulis

Fahad Fajri
Fahad Fajri
Lahir 28 Januari 1996 di Karawang. Sedang menempuh pendidikan strata satu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Singaperbangsa Karawang. Menyenangi bacaan bergenre prosa fiksi dan puisi. Dapat dihubungi melalui fahadfajri26@gmail.com .