

Di malam itu…
langit tampak mendung,
tapi seperti tidak ingin hujan itu turun.
Apakah ia sedang bingung?
Ataukah ia sedang berpura tidak menurunkannya?
Pada malam itu juga,
aku melihat ayahku terbaring tak berdaya.
Ia bagaikan singa yang kehilangan taringnya.
Aku duduk di sampingnya
dan menaruh kepalanya di atas tanganku,
menuntunnya untuk terakhir kalinya
dengan kalimat tauhid.
Saat itu juga ia gagal menjadi seorang ayah.
Ia gagal melihat sang anak mulai sedikit berhasil.
Ia bagai petani
yang tak menikmati hasil dari jerih keringatnya sendiri.
Tetapi aku berharap
dia bisa melihatnya walau ia sudah jauh di sana,
agar tidak menjadi seorang ayah yang gagal.
Sungguh beruntung aku menjadi anakmu,
sehingga amat banyak kata yang tak bisa kuungkapkan.
Walau aku sadar, masih belum bisa membanggakanmu.
Rasanya aku ingin memelukmu.
Naasnya, rasa maluku terlalu besar untuk mendekapmu.
Aku ingin memelukmu dengan hangat,
tapi rasanya aku masih belum pantas untuk itu.
Mah…
Aku tahu umurmu tidak lagi muda,
tapi kau masih berusaha memberikan yang terbaik untuk anakmu.
Kau bagai tanah yang selalu menyuburkan tumbuhan di atasmu.
Apakah kau tahu hari paling bahagia dalam hidupku?
Itu adalah hari di mana kau melahirkanku dan mengangkatku menjadi anakmu.
Terima kasih, Mamah…
Peluk hangat dariku untukmu, Mamah.
Kenapa?
Adalah sebuah pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.
Ada hal yang seharusnya dijawab dengan kata “karena”,
namun kini justru menjadi misteri bagi diriku sendiri.
Bagaimana?
Merupakan ungkapan bingung yang tak menemukan jalan.
Aku tersesat dalam jurang tanpa harapan,
hingga saat kusadar, derai hujan telah membasahi wajahku.
Kuhapus perlahan dengan dedaunan kering
yang kusebut sebagai rasa sadar.
Siapa?
Kini aku bertanya, kepada siapa harus kubagi segala yang kurasakan.
Karena aku takut
tak ada lagi benua yang bisa kusinggahi,
tak ada telinga yang benar-benar mendengarkanku.
Kapan?
Ini adalah puncak dari perasaan yang kupendam.
Seakan bertanya, “kapankah aku mulai bangkit dari semua ini?”
Tanpa ragu aku menjawab:
“mulai detik ini juga aku siap—
bahkan meteor sekalipun tak akan membuatku hancur.”
Tak peduli berapa kali terjatuh,
aku akan terus berdiri,
melawan arusnya.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!
Bagus, setiap kalimatnya nyentuh bgt
bikin mellow kata katanya hohohooo
🥹🥹🥹
Sangat menyentuh disetiap kataa nya🥲🤗