Ayah, ini Kopimu

Ayah, ini Kopimu

 

Suara motor itu bernyanyi lagi

Bersama keringat yang siap terjatuh

Dengan senyum si jaket lusuh 

Sepotong harapan siap dikejar 

Mengukur aspal dengan keletihan

Panas, terik mentari terlalu menggigit siang ini

Ibu, semenjak doamu terpanjat 

Ayah sudah memeluk jalan dengan semangatnya

Ibu, sebelum lelapmu menikam kesadaran

Ayah bergandengan dengan malam 

Meja dan kursi telah menunggu

Secangkir kopi dan keheningan malam

Siap bercengkrama dengan alunan jiwa

Ayah…  berdebat dengan keheningan

Apa yang akan mengenyangkan esok

Dengan harapan atau dengan kenyataan

Secangkir kopi tak membalas, hanya tersenyum

Asap rokok seakan mengerti sesaknya

Bagaimana langgam hati bertarung dengan keraguan

Namun sunyi mengetuk pintu kamar

Dan lelah menolak kembali 

Tapi Ayah telah masuk dalam mimpi 

Walau lelahnya tetap terjaga hingga esok pagi

Ayah tetaplah mengukur jalan 

Hingga jalan yang kita impikan bersama.

 

 

 

Senjakala Ibu

 

Menatap masa demi masa

Uban mulai mewarnai rambut cantikmu 

Goresan kulit mulai mengukir manis senyummu

Masih terbayang masa kecilku, 

Bagaimana pagi dihiasi aroma masakanmu 

Nasi goreng sederhana bergandengan dengan sepotong telur, 

Itu bukan sarapan, tapi cintamu 

 

Akankah dunia tahu sebesar apa cintamu 

Samudera hanya setetes bagi luasnya cintamu

Saat dunia membisu, suaramu tetap merdu untukku 

Saat dunia pergi, bahkan bayanganku pun tak sudi menemani

Bayanganmulah yang melindungiku dari sengatan matahari

 

Ibu… 

Aku tak peduli surga… 

Aku mencintaimu karena kau ibuku

Tuhan… sampaikan maafku

Rasa malu, 

Hingga senja masamu

Tak setitik bahagia pun 

Mampu kuberi padamu.

 

 

 

Pemintal Asa

 

Arunika menerpa bumi

Menampar embun agar berganti

Rasa sejuk menembus rasa

Manusia berseragam mulai menjalar

Tergantung nasib di dalam pabrik

Nyanyian mesin dengan dentuman perkasa

Merasa berjalan di atas matahari

Kepatuhan menjadi ketakutan

Rasa takut memeluk bagai duri bunga mawar

Upah kecil dengan kebutuhan seabrek

Sanubari tak terkutik hanya bertanya dalam kulum waktu

Akankah ada hari cerah selain menunggu gaji

Langkah di bawah sinar senja 

Sendu dengan lelah yang menyatu

Suara motor, lampu jalan, sahabat perjalanan

Berenang kepada nasib 

Bermuara dengan peluh dan sakit

Terbalut semuanya dalam senyuman 

Rotasi waktu seakan memakan masa 

Menghabiskan harapan pada cerahnya pagi

Pagi cerah tanpa rasa takut

Pagi indah tanpa rasa cemas

Terbang dari bebasnya belenggu korporat

Mendongak pada indahnya rembulan

Menjadi burung perkasa yang tak seekor pun lalat mampu mengganggunya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!