Tawa Badut di Pabrik Tekstil
Ketika kegelapan bangkit, ngeri pun menelan tanpa ampun.
Ketika kegelapan bangkit, ngeri pun menelan tanpa ampun.
Kelelahan ibu yang ditelan kerja dan insomnia, kelaparan di tengah malam yang membangkitkan kenangan, serta pertemuan pahit dengan memori lama yang tak kunjung pudar.
Kesunyian dalam perjalanan pulang, keterasingan dalam rutinitas, dan kegelisahan yang merampas istirahat.
Esai ini mengulas bagaimana menulis esai dapat menjadi solusi kreatif untuk melawan kegabutan sambil memberikan manfaat personal dan sosial.
Kumpulan puisi ini menyuarakan ironi kekuasaan, pergulatan kerja di malam sunyi, dan kegelisahan jiwa yang terus mencari arah di tengah absurditas kehidupan.
Getir dalam PPN 12% Kabarnya PPN 12% bakal munculAda makan bergizi gratis sudah kadung jadi sumpahBuzzer-buzzer nalarnya tumpulMengikut klausa-klausa sampah Ada harga dari peraturan dan keputusanKhalayak aduh pening berbondong-bondongKarena dompet sudah mutlak ditodongUntuk merawat setiap ketidakberdayaan Siapa yang mau peduli pajak?Kalau kesejahteraan plak-plak retak gedubrak! Desember, 2024. Kehidupan Urban dan Kursi Minimarket Tengah malam sudah […]
Yang Terhempas di Perjalanan Petang itu senandung tak menggema Fragmen ingatan mulai bertamu Kau, aku, dulu saling berdarma Setiap cerita adalah temu Jantung siap meledak kapan saja Layaknya ranjau untuk serdadu Melempar nasib seumpama dadu Perjalanan sampai di titik senja Kisah lampau kerap kali memikat Untuk yang masih bermimpi terikat. 2024. Dilahap Kelam Apa yang […]
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.