Aubameyang dan Suntikan Duo Madrid ke Tubuh Arsenal

43

Di musim 2020/2021 Aubameyang berhasil mencetak hattrick pertamanya saat menghadapi anak asuh Marcelo Bielsa yang terkenal atraktif . Walau Leeds meladeni permainan Arsenal hingga peluit akhir, penantian Aubameyang terbayar dalam kemenangan 4-2 serta keberhasilannya tembus 200 gol selama karir profesional.

Leeds merupakan salah satu tim promosi dengan penampilan terbaik. Ketika tim promosi lainnya, Fulham dan West Brom bergulat menghindari jurang degradasi, Leeds terus memanjat sepuluh besar klasemen.

Mereka petik sembilan poin dalam empat laga sebelum bertamu ke Emirates Stadium. Leicester dihajar 1 – 3. Tim yang terkenal menyulitkan seperti Newcastle dan Crystal Palace pun tunduk. Mereka ceploskan delapan gol dengan hanya kecolongan empat gol. Kekalahan diperoleh hanya dari Everton. Sementara Arsenal, menang sekali dalam kesempatan yang sama. Mencetak empat gol dan kemasukan dalam jumlah yang sama.

Kita semua tahu kebuasan Aubameyang lenyap di musim 2020/2021. Bila Chelsea mengejutkan fans dengan pemecatan Lampard, Tottenham dengan inkonsistensi yang membawa merosotnya posisi, lalu West Ham menjadi tim London dengan peringkat teratas di EPL, maka Gooner harus kaget dengan menurunnya performa Aubameyang.

Ada banyak faktor mengapa kapten The Gunners itu redup. Selain posisi Left Wing yang membuatnya sulit menjangkau gawang lawan, keharusan bertahan akibat  sisi defensif Arsenal mudah dibongkar, Aubameyang seperti kehilangan umpan matang dari tengah. Setiap kali gagal mengirim kepanikan ke kubu musuh. Drive Tierney terasa lebih menghibur.

Beruntung formula baru ditemukan Arteta. Ia tidak terpaku untuk terus memanfaatkan skema 4-3-3 yang seringkali bikin sial. Auba ditaruh sebagai Target Man dalam taktik 4-2-3-1. Di belakangnya, Smith Rowe, Odegaard dan Saka terjun mengeksplorasii sisi liar Auba. Sedangkan tugas bertahan bertumpu pada kerjasama Granit Xhaka dan Ceballos; pemain central yang sanggup menjadi breaker.

Laga yang berjalan menegangkan itu dilalui Aubameyang dengan mencetak tiga gol. Ketenangan menyontek bola di antara Ayling dan Cooper mengingatkan kita seberapa berbahaya Auba. Gol tersebut mirip dengan aksinya di laga pertama melawan Fulham (12/9/20) sebuah hujaman yang muncul sebelum trek nirgol panjang. Sementara gol kedua mudah dilesakkan dari titik putih, menyusul pelanggaran Meslier kepada Saka. Insting striker Auba muncul sebagai tandukan yang memanfaatkan assist Smith Rowe.

Arsenal bukan lagi raksasa yang bertarung gelar dan spot Liga Champions. Mereka berkutat di papan tengah. Menuju fase yang lebih medioker. 24 pertandingan EPL berjalan, Arsenal terus gugur di berbagai ajang. Carabao Cup dan FA Cup lolos dari genggaman. Kalaupun ada pelipur lara, selain keikutsertaan di UEL, itu adalah konsistensi Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Keduanya sukses mengirim Willian dan Nicholas Pepe ke bangku cadangan.

Ekspektasi dalam bersaing gelar muncul seiring banyaknya paun yang digelotorkan. Meski bukan termasuk tim yang menghambur-hambur uang demi pemain berkelas. Pembelian Pepe dan kesepakatan gaji baru untuk Auba cukup mahal. Apalagi pemain-pemain baru terus datang semisal Tierney, Saliba dan Gabriel. Investasi dalam diri Pepe dan Auba musim ini belum menguntungkan. Willian yang bergabung dengan status free transfer untuk mendorong Arsenal kembali ke habitat Liga Champions juga melempem.

Kesabaran Gooner kembali diuji dalam bentuk pemain under perform seperti Willian, juga penyelesaian peluang Pepe yang terkendala nafsu pembuktian dirinya. Lupa jika sepak bola adalah kerja kolektif, Pepe seringkali menyia-nyiakan positioning rekan di kotak pinalti. Merasa mampu mengatasi bek dengan driblenya, Pepe lebih sering gagal ketika lawan saling kaver membayang-bayanginya. Aksi melewati Semedo saat kalah dari Wolves hanya salah satu yang berhasil dari banyaknya upaya.

Mobilitas Saka dan Smith Rowe untuk menyambung antar lini lebih berguna dibanding akselerasi Pepe. Khusus Saka, memang ada inisiatif untuk beberapa kali melakukan cut inside sebelum menembak, tetapi kejeliannya melihat ruang kosong yang diisi rekan seringkali mendukung efisiensi peluang.

Pelipur lara berikutnya ada dalam sosok Odegaard dan Ceballos, pemain Real Madrid yang berhasil dipinjam Arsenal. Dua laga melawan Leeds dan Benfica membuktikannya. Umpan-umpan vertikal sering dibuat Ceballos ketika Xhaka berfungsi mematahkan agresi lawan lewat menyapu bola dan duel udara. Bermain satu dua dengan Odegaard dan berhasil melepas Arsenal dari pressing lawan.

Menjamu Leeds United (14/2) Ceballos mengirim nutmeg assist kepada Bellerin untuk gol ketiga Arsenal. Saat bermain imbang dengan Benfica (18/2), through pass kepada bellerin yang lebih dulu mengokupasi sayap kiri lawan, bisa menjadi umpan kunci kalau saja Aubameyang tidak gagal meneruskan peluang. Kedua aksi tersebut mengirim kode kepada Mikel Arteta soal senjata pamungkas yang diam-diam dimiliki Arsenal. Ketika bola bergulir membosankan di tengah, dan pemain-pemain kebingungan dengan strategi low blocking lawan, Ceballos dapat mengakali kebuntuan tersebut lewat umpan vertikalnya.

Ceballos berfungsi juga dalam fase bertahan. Ia mampu merusak momen counter attack persis seperti yang dilakukannya terhadap pemain Benfica. Dua kali ia berhasil merebut bola mengerahkan kembali mode serangan Arsenal. Ketiadaan Lacazette sebagai pemantul bola tidak terlalu berdampak berhubung Odegaard sukses mengomandoi transisi Arsenal. Proses build up terasa mengalir lewat kakinya. Berbeda dari Pepe yang sibuk otak-atik bola dalam sepertiga lapangan lawan, Odegaard tipikal pengumpan visioner yang bermain hanya dengan dua sentuhan.  

Sekarang Arsenal memiliki Saka – Odegaard – Smith Rowe yang saling terkoneksi untuk menopang Aubameyang dalam skema 4-2-3-1 dan 4-4-2. Meskipun skema kedua yang dipakai melawan Benfica sedikit bermasalah bagi Smith Rowe yang hanya mengirim tiga kali crossing gagal tanpa sekalipun shoot yang menakuti kiper lawan, Ceballos dan Odegaard sama cemerlang.

Menyenangkan melihat Odegaard bermain kompak dengan punggawa lainnya. Tenang  mengakali pressing. Paham mengirim bola ke depan. Sedangkan Ceballos tak kalah moncer. Cedera betis yang memaksanya absen tak sedikitpun mengurangi keliarannya untuk tracking back mengejar setiap bola yang direbut musuh untuk memulai serangan balik. Melakukan through pass dua kali lebih ampuh dari penampilannya tahun lalu.

Masalahnya, Arteta belum memiliki taktik terkuat untuk mengarungi sisa laga. Skema yang kadang berubah sebab mesti beradaptasi dengan lawan kuat, tidak dibarengi dengan performa apik pemain pilihannya. Ketika kalah dari Manchester City (21/2) Arteta memasang Nicholas Pepe di sayap kanan. Mencadangkan Ceballos demi berfungsinya El Neny untuk mengamankan Arsenal dari kondisi rentan diserang. Selagi upaya counter attack dibangun usai para bek dan gelandang memutus umpan-umpan lawan, Pepe malah kesulitan mengalirkan bola.

Aubameyang seperti lelucon ketika beradu sprint dengan John Stones . Tierney kehabisan cara selain melepas crossing sesering mungkin yang mudah dimentalkan. Pemain-pemain Arsenal yang minim inisiatif itu, bahkan tidak berani melepas tembakan langsung dari luar kotak penalti, menghadirkan solusi berhubung pertahanan City sulit terurai. Ceballos yang dalam kualitas terbaik saat melawan Benfica (98 touches, 8 ball recoveries, 5 duels won) justru hanya dimainkan empat menit sebelum bubar. Peran  Odegaard kurang maksimal karena Smith Rowe sebagai tandem yang lebih cocok dibanding Pepe, malah dimainkan untuk menggantikan dirinya.

Di tiga pertandingan terakhir. Tampak inkonsistensi Aubameyang berlanjut. Tiga golnya ke gawang Leeds tidak berhasil mengerek insting bertarung. “Dia sudah melewati masa emasnya. Dia akan memiliki momen, dia akan mendapatkan hattrick, ketika saya melihatnya, terkadang dia seperti kehilangan kekuatan supernya”, sebut Jamie Rendknapp, pelatih Spurs yang berhasil mengorbitkan pemain macam Gareth Bale dan Luka Modric. Aksi Holding yang hanya mematung dan membiarkan umpan lambung Mahrez ditanduk Sterling sehingga City unggul saat laga baru berjalan dua menit, memang mengecewakan. Terlebih dalam sisa waktu yang tersedia Aubameyang selalu mudah dijinakkan bek City.

Biarpun di sisa musim macam piala sulit terengkuh, keberadaan Duo Madrid; Ceballos dan Odegaard saya rasa sanggup menyuntik stabilitas Arsenal dalam bertahan dan menyerang. Gooner pun hanya bisa bersabar dan berdoa – seperti musim yang sudah-sudah – semoga penampilan Pepe dan Willian membaik sehingga alternatif mencetak gol tidak bertumpu pada Auba seorang.

Bertemu Benfica dalam fase knock out UEL (26/2) adalah kesempatan emas bagi Arsenal. Kemenangan akan membuat beban psikis pemain terangkat. Sebab menjadi tugas sulit bagi Arteta untuk meyakinkan pemainnya soal seberapa tangguh mereka bila pertandingan yang dilalui hanya berujung kalah.  

Februari 2021

Leave A Reply

Your email address will not be published.