Asam Urat, Sebuah Persoalan Penyair

Asam Urat, Sebuah Persoalan Penyair

 

Usiaku tiga puluh tiga tahun ini

Dan aku khawatir diserang asam urat

Tidak penting lagi bangun pagi

Duduk di ruang tamu, menunggu koran terbaru

Penguasa berbicara ini dan itu

Tapi kita tahu kebenaran selalu sebaliknya

 

Tapak kaki pertama selalu bermasalah

Sakit di ujung tumit, nyeri sedikit

Sampai harus menjinjit ke kamar mandi

Menggosok gigi, menatap diri di cermin

Hai aku, baik-baik saja hari ini?

 

Sadar aku kemudian, yang tampak adalah bayangan

meski tegak dan sama besar

Selalu saja terbalik dan semu

 

Dokter bilang, aku harus menjaga pola makan

segala tahu dan tempe, kangkung dan bayam

cumi dan udang, dihindari. Aku harus makan apa?

 

Asam urat membuatku tak jadi Indonesia

yang maritim dan agraris.

 

Dalam hati aku bertanya apakah para penguasa

menderita asam urat yang sama

sehingga tak melindungi segala yang di laut dan tanah?

 

 

 

Dua Akar Gigi

 

Saya datang ke dokter gigi

dengan nyali lebih besar dari kudeta

Sebab dua akar gigi yang tersisa

Lebih susah dicabut

Ketimbang mencabut penguasa yang semena-mena

 

Sebelum proses operasi dimulai

Saya tanyakan kepada dokter itu

Dokter yang matanya sipit itu

Apakah dia pribumi asli atau tenaga kerja asing

Meski saya tak peduli

Senjata apa saja yang akan dia masukkan

ke mulut saya yang akan menganga nantinya

 

Saya hanya katakan kepadanya

Negeri ini sudah karib diliputi trauma

Dari Orde Lama ke Orde Baru

dan setelah reformasi, pura-pura bukan Orde Baru

 

Saya siap menghadapi semua penderitaan

Bahkan saya menolak suntikan bius

Dengan cara itu, saya akan mengkhidmati

setiap penderitaan

Sebab begitulah kemudian puisi berlahiran

 

 

 

Pelajaran Meminta Maaf

 

Sambil mengerjakan pekerjaan rumah

pelajaran berikutnya, ia menunggu gurunya datang

Sebab ilmu baru akan segera ia kenali, sebuah

cara sederhana meminta maaf

 

Seumur hidup, ia tak pernah mengatakan itu

Teman-temannya yang ia benci begitu mudah

mengucapkan maaf setelah puas saling menyakiti

Ayahnya di rumah, kerap pulang dengan raut marah

Tapi tak pernah mengucapkan maaf pada ibunya yang ramah

 

Ia berterima kasih pada pemerintah

yang membuat kurikulum baru, pelajaran meminta maaf

Ia betul-betul ingin tahu arti maaf sebenarnya

Bagaimana seharusnya meminta maaf, apa kata yang perlu

diucapkan terlebih dahulu, bolehkah berkata maaf

sambil tersenyum, ataukah memang harus terpiuh-piuh

berurai air mata, sambil mengaduh-aduh

 

Sambil mengerjakan pekerjaan rumah

pelajaran berikutnya, ia belajar mengartikan debar

menyiapkan sejumlah pertanyaan yang akan diajukan

 

Tetapi, guru yang ia tunggu tak datang-datang

Lonceng berdentang, pelajaran meminta maaf

tertinggal dalam bayang-bayang

 

Hari itu, ia tak yakin benar-benar ada orang tulus

meminta maaf, ia tak percaya orang bisa

mengakui kesalahan, sambil membuka silabus

pelajaran berikutnya: pelajaran memberi maaf.

 

 

 

Pelajaran Pertama Membeli Pembalut

 

Ia masuk minimarket, mengambil keranjang

mondar-mandir di lorong sambil berpura-pura melihat barang

Sesekali ia menengadah ke arah CCTV

Semoga ia tidak terlihat seperti pencuri

 

Ia tidak mencari tisu basah, tidak juga butuh popok

untuk anaknya yang baru berusia dua tahun

Yang lahir lebih kecil dari ukuran kebanyakan

Yang kini ia awasi betul-betul pertumbuhan, terutama
lingkar kepala dan berat badan

 

Ia melongok ke atas rak, mencari pembalut wanita

Meski ia laki-laki

 

Ia pikir begitulah cara memulai untuk bisa memahami perempuan

Misi berbahaya, tak boleh salah

Sebuah pembalut yang memiliki sayap

Tak boleh tak bersayap

Meski tak tahu betul apa bedanya

 

Begitulah salah satu cara menjadi lelaki sejati

Setelah tak mampu berbuat apa-apa saat melihat wanita datang bulan,

mengandung, melahirkan, menyusui, dan sendiri

di rumah, menunggu kereta yang tak punya perasaan

mengantarkan lelakinya pulang ke rumah

 

 

 

Pelajaran Kesadaran

 

Saat aku melihat kuda tua itu mengunyah rumput

Ada perasaan takut, aku akan sama

Tak lagi bisa memilih banyak makanan. Hanya yang lembut

Sementara daging-dagingan akan menolak kukunyah

Tak lagi ada zikir kecil, sebab yang ada telah enyah

Tersisa bekas luka, yang kini belum kering darah

 

Aku tak mengerti benar perasaan kehilangan ini

Usiaku 33, dan kata tua muncul di mana-mana

Tuhan menuliskannya di pintu, di bantal, di lantai

Aku sujud dan mencoba mengecup-Nya

Perasaan menyesal, sebab abai pada tanda-tanda

 

Tiba-tiba saja, mulai hari ini, aku adalah pria papah yang sama

Yang tak berarti di hadapan Negara

dan tak memiliki keberanian sedikit pun, selain menelan

segala sesuatunya mentah-mentah.

 

Terkurung dalam istal, kuda itu;

Aku merindukan peperangan besar, dengan lidah tajam

melebihi segala pedang. Apa pun yang datang

kusambut, kupotong, kucabik—tetapi kini hanya akan

sampai di sana. Tertahan untuk minta tolong

apa saja yang diracik, akan membuatku rindu

 

tetapi yang hilang tak akan lagi tumbuh

pepatah hanyalah pepatah

Author

  • Pringadi Abdi Surya

    Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus. Sekarang sedang bertugas di Banda Aceh. Buku terbarunya berjudul Bersahabat dengan Alien (Elexmedia).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
casibom | parmabet | roketbet | jojobet | jojobet giriş |