

Usiaku tiga puluh tiga tahun ini
Dan aku khawatir diserang asam urat
Tidak penting lagi bangun pagi
Duduk di ruang tamu, menunggu koran terbaru
Penguasa berbicara ini dan itu
Tapi kita tahu kebenaran selalu sebaliknya
Tapak kaki pertama selalu bermasalah
Sakit di ujung tumit, nyeri sedikit
Sampai harus menjinjit ke kamar mandi
Menggosok gigi, menatap diri di cermin
Hai aku, baik-baik saja hari ini?
Sadar aku kemudian, yang tampak adalah bayangan
meski tegak dan sama besar
Selalu saja terbalik dan semu
Dokter bilang, aku harus menjaga pola makan
segala tahu dan tempe, kangkung dan bayam
cumi dan udang, dihindari. Aku harus makan apa?
Asam urat membuatku tak jadi Indonesia
yang maritim dan agraris.
Dalam hati aku bertanya apakah para penguasa
menderita asam urat yang sama
sehingga tak melindungi segala yang di laut dan tanah?
Saya datang ke dokter gigi
dengan nyali lebih besar dari kudeta
Sebab dua akar gigi yang tersisa
Lebih susah dicabut
Ketimbang mencabut penguasa yang semena-mena
Sebelum proses operasi dimulai
Saya tanyakan kepada dokter itu
Dokter yang matanya sipit itu
Apakah dia pribumi asli atau tenaga kerja asing
Meski saya tak peduli
Senjata apa saja yang akan dia masukkan
ke mulut saya yang akan menganga nantinya
Saya hanya katakan kepadanya
Negeri ini sudah karib diliputi trauma
Dari Orde Lama ke Orde Baru
dan setelah reformasi, pura-pura bukan Orde Baru
Saya siap menghadapi semua penderitaan
Bahkan saya menolak suntikan bius
Dengan cara itu, saya akan mengkhidmati
setiap penderitaan
Sebab begitulah kemudian puisi berlahiran
Sambil mengerjakan pekerjaan rumah
pelajaran berikutnya, ia menunggu gurunya datang
Sebab ilmu baru akan segera ia kenali, sebuah
cara sederhana meminta maaf
Seumur hidup, ia tak pernah mengatakan itu
Teman-temannya yang ia benci begitu mudah
mengucapkan maaf setelah puas saling menyakiti
Ayahnya di rumah, kerap pulang dengan raut marah
Tapi tak pernah mengucapkan maaf pada ibunya yang ramah
Ia berterima kasih pada pemerintah
yang membuat kurikulum baru, pelajaran meminta maaf
Ia betul-betul ingin tahu arti maaf sebenarnya
Bagaimana seharusnya meminta maaf, apa kata yang perlu
diucapkan terlebih dahulu, bolehkah berkata maaf
sambil tersenyum, ataukah memang harus terpiuh-piuh
berurai air mata, sambil mengaduh-aduh
Sambil mengerjakan pekerjaan rumah
pelajaran berikutnya, ia belajar mengartikan debar
menyiapkan sejumlah pertanyaan yang akan diajukan
Tetapi, guru yang ia tunggu tak datang-datang
Lonceng berdentang, pelajaran meminta maaf
tertinggal dalam bayang-bayang
Hari itu, ia tak yakin benar-benar ada orang tulus
meminta maaf, ia tak percaya orang bisa
mengakui kesalahan, sambil membuka silabus
pelajaran berikutnya: pelajaran memberi maaf.
Ia masuk minimarket, mengambil keranjang
mondar-mandir di lorong sambil berpura-pura melihat barang
Sesekali ia menengadah ke arah CCTV
Semoga ia tidak terlihat seperti pencuri
Ia tidak mencari tisu basah, tidak juga butuh popok
untuk anaknya yang baru berusia dua tahun
Yang lahir lebih kecil dari ukuran kebanyakan
Yang kini ia awasi betul-betul pertumbuhan, terutama
lingkar kepala dan berat badan
Ia melongok ke atas rak, mencari pembalut wanita
Meski ia laki-laki
Ia pikir begitulah cara memulai untuk bisa memahami perempuan
Misi berbahaya, tak boleh salah
Sebuah pembalut yang memiliki sayap
Tak boleh tak bersayap
Meski tak tahu betul apa bedanya
Begitulah salah satu cara menjadi lelaki sejati
Setelah tak mampu berbuat apa-apa saat melihat wanita datang bulan,
mengandung, melahirkan, menyusui, dan sendiri
di rumah, menunggu kereta yang tak punya perasaan
mengantarkan lelakinya pulang ke rumah
Saat aku melihat kuda tua itu mengunyah rumput
Ada perasaan takut, aku akan sama
Tak lagi bisa memilih banyak makanan. Hanya yang lembut
Sementara daging-dagingan akan menolak kukunyah
Tak lagi ada zikir kecil, sebab yang ada telah enyah
Tersisa bekas luka, yang kini belum kering darah
Aku tak mengerti benar perasaan kehilangan ini
Usiaku 33, dan kata tua muncul di mana-mana
Tuhan menuliskannya di pintu, di bantal, di lantai
Aku sujud dan mencoba mengecup-Nya
Perasaan menyesal, sebab abai pada tanda-tanda
Tiba-tiba saja, mulai hari ini, aku adalah pria papah yang sama
Yang tak berarti di hadapan Negara
dan tak memiliki keberanian sedikit pun, selain menelan
segala sesuatunya mentah-mentah.
Terkurung dalam istal, kuda itu;
Aku merindukan peperangan besar, dengan lidah tajam
melebihi segala pedang. Apa pun yang datang
kusambut, kupotong, kucabik—tetapi kini hanya akan
sampai di sana. Tertahan untuk minta tolong
apa saja yang diracik, akan membuatku rindu
tetapi yang hilang tak akan lagi tumbuh
pepatah hanyalah pepatah