“Sejarah bilang pedang dan tombaklah yang menggoyahkan Majapahit. Ada
cerita lain. Cerita yang cuma diketahui segelintir orang. Cerita tentang seorang raja
dan bunga agung yang sengaja disembunyikan dari rekam sejarah. Mahesa Guning
dan Puspa Karsa.” Raras Prayagung, seorang wanita yang mewarisi perusahaan
kosmetik bernama Kamara memutar kembali ingatan suara almarhumah neneknya.
Suara yang terngiang-ngiang di kepala, rasanya masih hangat bagiakan belaian lembut
selendang ibu di atas kepala putri tercintanya.

Bagi seorang Raras, almarhumah Janirah Prayagung lebih dari seorang nenek.
Orang-orang yang sempat bertemu dengan mereka berdua cepat atau lambat akan
menyadari, bahwa Janirah sepenuhnya menitis pada Raras. Keuletan, kerja keras, dan
kemauan untuk maju yang dimiliki keduanya tampak sangat mirip dan luar biasa. Hal
ini terlihat jelas dari bagaimana kemudian nasib berpihak kepada mereka. Janirah,
hanya putri seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta, berhasil menaklukan
hati seorang pria dari kalangan ningrat Prayagung dan mendirikan perusahaan Kamara
sebelum akhirnya mencapai kesuksesan dan memindahkan perusahaan tersebut ke Ibu
Kota.

Kamara sempat mengalami masa sulit saat dinakhodai oleh putra Janirah yang
tak lain adalah ayah Raras. Tapi berkat etos kerja warisan neneknya, Raras yang
mengambil alih perusahaan itu dengan telak berhasil menjungkir-balikkan keadaan.
Bahkan, menyihirnya menjadi perusahaan yang lebih besar dengan parfum sebagai
salah satu ikonnya.

Namun, bukan itu sejatinya tujuan hidup seorang Raras. Baginya Kamara
hanyalah sebuah kendaraan. Ada hal lain yang sangat ingin ia capai. Hal itu, berkaitan
erat dengan dongeng dan cerita tentang bunga Puspa Karsa yang kerap didoktrinkan
nenek kepadanya. Doktrin, yang pada akhirnya berubah menjadi obsesi seorang Raras
Prayagung untuk mencari bunga yang sama sekali tidak pernah dikenal sebelumnya
itu selain dari dongeng.

Tanpa perlu dijelaskan sekalipun, Puspa Karsa adalah sebuah rahasia besar
yang seharusnya tidak diketahui. Namun siapa sangka, Janirah kecil menemukan
sebuah kotak besi seukuran kotak sepatu dengan kondisi kusam dan sederhana saat
masih menjadi anak abdi dalem Kraton. Entah kekuatan apa yang menariknya.

Janirah seperti terpengaruh dan sangat berhasrat untuk membuka. Ia pun berhasil dan
menemukan tiga tube perunggu duduk di atas setumpuk lontar hanacaraka, tulisan
kuno Jawa di dalamnya. Lontar itu memperkenalkan Janirah pada Puspa Karsa yang
ceritanya lama-lama merasuki dan memberikannnya sebuah tujuan.

“Porsi pertama akan mengubah nasibmu. Porsi kedua akan mengubah nasib
keturunanmu. Sementara porsi ketiga, akan mengubah dunia sebagaimana
keinginanmu.” Demikian yang tertulis di atas catatan di antara lontar-lontar itu seolah
merujuk kepada tiga tube yang juga berada di dalam kotak di tangan Janirah. Janirah
pun membuka tube pertama dan mengoleskannya di sekujur badannya.

 

***

 

Konon, bunga Puspa Karsa adalah bunga sakti yang mampu menundukkan
dunia di bawah kendali pemiliknya. Barangkali karena itu, informasi tentang
keberadaan bunga ini sangat dirahasiakan hingga seorang raja bernama Mahesa
Guning pun dihilangkan dari catatan sejarah karena sempat berhubungan dengannya.
Obsesi Raras untuk menemukannya bukan perkara yang mudah untuk
direalisasikan. Bukan hanya karena belum pernah ada yang melihat bunga tersebut,
tapi konon Puspa Karsa juga tidak memilih sembarangan orang. Bahkan, di antara
orang-orang pilihannya itu pun, tidak semuanya dapat mencari. Lagi-lagi konon,
Puspa Karsa hanya dapat ditemui dengan kepekaan indra penciuman saja.
Gayung pun bak disambut, oleh takdir Raras dipertemukan dengan Jati Wesi,
seorang laki-laki dengan usia dua puluh enam tahun yang memiliki kepekaan indra
penciuman luar biasa. Di tempat tinggalnya, TPA Bantar Gebang, Jati mendapatkan
julukan si hidung tikus karena ketajaman indra penciuman. Saking tajamnya, Jati
pernah menyelesaikan kasus hilangnya seorang warga yang tertimbun meteran
sampah. Lantas lewat tragedi yang penuh intrik, Jati Wesi yang bekerja sebagai
peracik parfum di toko kecil akhirnya terikat kontrak bekerja dengan Raras Prayagung
seumur hidup.

Akan tetapi Jati sendiri adalah sebuah misteri, bahkan untuk dirinya sendiri. Ia
tidak pernah tahu asal-usulnya di masa lalu. Dari mana ia, juga kemampuan indra
penciuman yang ia punya, dan apa hubungannya dengan Puspa Karsa. Yang Jati tahu
hanya satu. Berdasar desas-desus, ayah Jati yang baru Jati ketahui saat SMP dan
mendekam di penjara sekaligus sudah gila itu, adalah seorang pembunuh yang
menggorok leher istrinya dan mengeringkan darahnya dengan keji.

Dalam kegilaannya, ayah Jati selalu mengulang-ulang nama-nama yang sama.
“Randu, Malini dan Empu Smarakandi.” Anehnya, bahkan nama Jati pun lelaki tua
itu tidak mengenalnya.

 

***

 

Kedatangan Jati Wesi di keluarga Raras Prayagung pun ternyata tidak berjalan
dengan lancar. Alih-alih mendapat sambutan yang hangat, baru pertama kali melewati
pintu depan saja Jati sudah disambut dengan muntahan seorang perempuan seusianya,
Tanaya Suma yang tak lain adalah putri dari Raras Prayagung. Suma ternyata
memiliki kemampuan yang sama persis dengan Jati. Hanya saja karena sejak kecil
hidup di TPA, Jati lebih mampu beradaptasi dengan beragam bau yang terdeteksi oleh
indra penciumannya.

Konflik demi konflik pun terjadi antara Jati dan Suma. Suma yang memang
terlihat membenci kehadiran Jati sejak awal, membongkar rahasia terbesar sekaligus
sisi gelap yang Jati miliki dalam hidupnya. Jati yang marah besar, awalnya menolak
berangkat ekspedisi mencari Puspa Karsa dengan berdalih hal tersebut tidak dalam
kontrak kerjanya bersama Raras. Namun dengan satu stimulan, petualangan Jati yang
mengandalkan indra penciumannya bersama tim ekspedi untuk mencari Puspa Karsa
pun dimulai. Sebuah petualangan yang akan mengungkapkan siapa sebenarnya
seorang Jati dan masa lalu mengerikan seperti apa yang ia miliki.

 

Yang Seringkali Lupa Kita Syukuri

Aroma Karsa, boleh dibilang sebuah novel yang unik –paling tidak menurut
saya pribadi. Bagaimana tidak, membaca halaman demi halamannya tidak lantas
menghadapkan kita sekadar pada konflik berbelit-belit tentang misteri, keluarga,
romantis, mitologi dan petualangan saja. Akan tetapi, penonjolan sisi aroma dan
segala hal yang berkaitan dengan indra penciuman, seolah memberikan dimensi dan
kelas tersendiri bagi novel setebal 696 halaman ini.

Barangkali –mungkin saya saja yang masih awam, namun sejauh novel yang
pernah saya baca, Aroma Karsa-lah satu diantara novel yang memberikan porsi
sedemikian besar terhadap indra penciuman. Dalam dunia tulis-menulis, DEE Lestari
yang menulis novel ini, berpendapat begitu timpang penggambaran dari indra
penciuman dibandingkan diskripsi dari jendela lain semisal visual, pendengaran dan
pengecapan. Menurutnya, aroma tidak mudah untuk diungkapkan karena terlalu
kompleks untuk sekadar digambarkan dengan kata-kata.

Namun agaknya, bagi saya itu mungkin hanya “sikap merendah” seorang DEE
Lestari. Dengan lihai dalam Aroma Karsa-nya, DEE mampu menjelaskan
kompleksitas aroma-aroma yang hanya membuat saya berdecak kagum untuk
kemudian berpikir, “Bagaimana bisa DEE berpikir sejauh itu?”
Lalu, ditambah dengan latar yang memang mendukung untuk menonjolkan
indra penciuman –seperti TPA, pabrik parfum dan hutan, rasanya tidak mengherankan
jika dengan mentelaah dan mentadaburi novel satu ini, kita jadi ‘tergelitik’ untuk
mensyukuri nikmat Tuhan yang satu itu. Nikmat yang sangat jarang disadari oleh
manusia. Nikmat penciuman.

DEE tetaplah DEE

Inilah kalimat pujian yang bisa saya berikan untuk seorang DEE Lestari saat
ini. Seperti karya-karya DEE sebelumnya, dari Intelegensi Embun Pagi, Partikel,
hingga Gelombang dalam serial Supernova, novel terbarunya ini jelas adalah sebuah
manifestasi dari seorang penulis yang melakukan riset mendalam sebelum melahirkan
karya. Bukan hanya soal hal-hal yang berkaitan dengan aroma yang menjadi fokus
utama, tapi dengan detail DEE juga mengaitkan cerita dalam novel Aroma Karsa
dengan mitos yang melingkupi gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa tengah
dan Jawa timur sebagai salah satu latar penting yang membangun cerita.
Kekayaan kosakata bahasa Indonesia yang dimiliki DEE juga tetap menjadi
salah satu ujung senjatanya. Tidak sedikit kita akan menemui kata yang rasanya tidak
pernah kita dengar, tapi ketika membuka Kamus Besar, kita akan mendapati kata
tersebut bersanding dengan kata-kata lain yang biasa kita temui. Kita pun kemudian
hanya bisa tersenyum simpul sambil merasa betapa bodohnya kita di hadapan bahasa
milik kita sendiri.

Kemudian bersama kekayaan kosa kata, imajinasi yang ‘liar’ dan kepekaan DEE
dalam menerjemahkan bahasa lingkungan ke dalam diskripsi detail, hal-hal itulah
yang menjadi tiga ujung trisula DEE dan membuat novel satu ini, rasanya layak sekali
untuk dikaji.

 

Identitas Buku
Judul : Aroma Karsa
Penulis : DEE Lestari
Penerbit : PT Bentang Pustaka

Tahun terbit : cetakan pertama; Maret 2018
Tebal : 696 hal

:

*Nama ; Munandar Harits Wicaksono, pelajar yang masih harus banyak
belajar. Di sela-sela kesibukannya menulis masih mencari inspirasi dari banyak
sumber, termasuk film. Dapat dihubungi di cakmun15@gmail.com
*Alamat : Jungke, Kec. Karanganyar, kab. Karanganyar, jawa tengah.

Profil Penulis

Munandar Harits W
Munandar Harits W
Pria kelahiran Boyolali 15 Juli 1996