Apa yang Salah dengan Cara Kita Berpuasa?

Sumber foto cover: https://www.antaranews.com/

Ada satu gejala yang nyaris selalu muncul setiap ramadan, yaitu meningkatnya pola konsumtif di kalangan masyarakat muslim. Hal ini tampak kontras ketika siang hari diisi dengan menahan lapar dan dahaga, sementara malam justru berubah menjadi ajang balas dendam dengan mencicipi aneka hidangan. Ungkapan “from fasting to feasting” yang pernah disampaikan Gerard Theraviam rasanya jadi pas sekali. Siang-siang menahan diri, malam-malam lupa diri. Argh! 

Di banyak kota di Indonesia, suasana ramadan memang sangat khas dan mudah dikenali bahkan dari baunya saja. Jalanan dipenuhi penjual takjil, tenda makanan bermunculan di pinggir trotoar, aktivitas ekonomi hidup hingga larut malam, bahkan sampai sahur. Orang-orang sering pulang dengan kantong belanja yang aduhai bejibun. 

Fenomena ini tidak sepenuhnya buruk memang, sebab orang yang jarang bertemu bisa duduk satu meja. Pedagang kecil dapat juga rezeki tambahan, dan merasa lebih aman karena meskipun malam hari, tapi ruang-ruang publik terasa hidup saja. Saya rasa, di saat-saat seperti ini kita mesti sepakat bahwa ramadan justru memperlihatkan wajah solidaritas masyarakat.

Namun di balik keramaian itu, terselip sebuah fakta yang sulit diabaikan, setidaknya oleh saya dan semoga oleh banyak kawan-kawan. Puasa sejak awal dimaksudkan sebagai latihan pengendalian diri, kan?

Tujuannya melatih manusia untuk menahan dorongan paling dasar seperti lapar, haus, menggunjing, dan berbagai bentuk hasrat lainnya. Barang pasti puasa bukan sekadar ritual menahan makan, tapi juga merupakan latihan mental untuk mengatur keinginan.

Namun kenapa yang sering terjadi justru sebaliknya?

Puasa berubah menjadi momen konsumsi besar-besaran. Orang membeli makanan dalam jumlah yang jauh melampaui kebutuhan perut. Meja makan penuh dengan takjil ABC. Sebagian dimakan dan sebagian lagi berakhir di tempat sampah hanya karena lapar mata. Ketika pola ini terjadi secara masif, dampaknya menjadi nyata, bukan hanya pada finansial, tetapi juga pada lingkungan.

Menurut Rian Mantasa Salve Prastica dalam tulisannya di sini, selama Ramadan, jumlah sampah organik dari sisa makanan di Indonesia meningkat sekitar 20 persen. Angka ini cukup mencengangkan saat Indonesia sendiri sudah lama dikenal sebagai satu diantara penyumbang sampah makanan terbesar di dunia. Ramadan yang seharusnya menjadi bulan pengendalian diri justru ikut memperbesar beban ekologis tersebut. Sampai sini gimana?

Pertanyaan sederhana lain kemudian muncul,

Bagaimana fenomena ini bisa terjadi?

Jawabannya tentu tidak semudah itu, Ferguso. Ada banyak faktor yang bekerja bersamaan. Utamanya tentu saja budaya konsumsi modern. Iklan makanan bermunculan di semua platform, media sosial dipenuhi foto menu berbuka, sehingga keinginan membeli makanan sering kali didorong oleh imajinasi visual bukan oleh kebutuhan tubuh.

Di sisi lain, persoalan ini juga berkaitan dengan cara kita memahami puasa. Dalam sebuah yang bisa juga dibaca di sini, Syamsul Arifin mengingatkan bahwa agama sebenarnya menyediakan mekanisme moderasi bagi manusia. Ajaran agama berfungsi sebagai penyeimbang agar manusia tidak mudah terseret dalam ketamakan. Dalam Islam, moderasi itu tidak hanya berlaku dalam hubungan antaragama atau dalam politik, tapi juga hadir dalam cara manusia mengelola sumber daya kehidupan. Puasa menjadi salah satu latihan penting dalam proses tersebut.

Jika kembali pada definisi puasa secara bahasa, ia merupakan kata dari bahasa Arab ṣiyām yang berarti menahan diri. Prof. Muhammad Abbas Abdurrahman Al-Mughni, pengajar Komunikasi dan Kebudayaan Islam di Universitas Al-Azhar Mesir menguatkan bahwa makna ini tidak berhenti pada menahan lapar, haus, dan nafsu saja, tapi juga memberikan metode untuk menumbuhkan empati sosial dalam diri kita, yang mencakup pengendalian dorongan yang bisa merusak keseimbangan hidup manusia. Dalam kerangka tersebut, puasa sebenarnya mengajarkan kesadaran ekologis yang sangat halus. Manusia belajar memahami batas tubuhnya sendiri dan belajar bahwa kebutuhan tidak selalu sebesar keinginan.

Pemikir Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid pernah mengkritik kecenderungan keberagamaan Indonesia yang terlalu sibuk pada simbol. Dalam pengamatannya, sebagian umat lebih fokus pada detail ritual dibanding makna spiritual yang lebih dalam. Orang bisa berdebat panjang tentang posisi tangan setelah takbir, tetapi jarang memikirkan bagaimana menempatkan hati ketika salat.

Fenomena yang sama sering terlihat dalam praktik puasa. Banyak orang sangat disiplin menahan makan sepanjang hari. Namun pada saat berbuka, kendali itu menghilang. Nafsu konsumsi justru menjadi lebih besar. Puasa akhirnya dipahami sebagai aktivitas biologis semata. Ia sekadar menjadi jeda makan dari subuh hingga magrib, padahal inti puasa terletak pada kemampuan manusia mengelola keinginan.

Kesadaran ini penting karena manusia dalam tradisi agama samawi diposisikan sebagai pengelola bumi. Dalam Alquran, manusia disebut sebagai khalifah. Istilah ini sering dipahami sebagai ‘pemimpin’ atau ‘penguasa’ bumi. Tafsir seperti itu kadang membuat manusia merasa memiliki legitimasi untuk mengendalikan alam semaunya. Padahal, kata khalifah lebih dekat pada makna ‘wakil’.

Sebagaimana yang seharusnya, seorang wakil tidak bertindak atas kehendaknya sendiri. Ia membawa mandat dari pihak yang diwakilinya. Sehingga dalam perspektif teologis, mandat itu berkaitan dengan sifat kasih Tuhan terhadap seluruh ciptaan-Nya. Gagasan tentang hubungan setara antara manusia dan alam pernah disampaikan oleh Robertus Robert melalui konsep yang ia sebut sebagai ekosipasi. Istilah ini menggabungkan kata ekologi dan emansipasi. Intinya sederhana, mendorong alam sebagai subyek yang setara dengan manusia, sebagai ‘warga’ yang patut didengar suaranya.

Dalam kerangka ini, puasa dapat dibaca sebagai latihan etika ekologis. Ia mengajarkan kesederhanaan dalam menumbuhkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Selain itu, ia juga menumbuhkan kesadaran bahwa konsumsi manusia memiliki konsekuensi terhadap alam. Dengan itu, puasa yang dipahami secara mendalam tidak akan membuat seseorang menjadi makhluk yang terasing dari realitas sosial. Justru sebaliknya, ia menumbuhkan kepekaan terhadap kehidupan di sekitar.

Orang yang berpuasa tidak hanya memikirkan rasa lapar dirinya, tapi melihat orang lain yang masih kesulitan makan. Ia tidak hanya menikmati hidangan berbuka, tapi mulai mempertanyakan ke mana sisa makanan itu akan pergi setelah malam berakhir. Di titik inilah puasa mengajarkan dimensi sosialnya, bahwa ia bukan sekadar ibadah privat yang berlangsung antara manusia dan Tuhan, tapi juga menjadi cara dalam merekonstruksi hubungan manusia dengan sesamanya, sekaligus dengan lingkungan tempat ia hidup.

Ramadan kemudian dapat dilihat sebagai ruang latihan, sebuah kesempatan tahunan untuk merapikan ulang kebiasaan konsumsi. Bukan dengan meniadakan kegembiraan berbuka, tetapi dengan menghadirkan kesadaran dalam setiap pilihan. Mungkin dari sana kita bisa mulai melihat makanan tidak sekadar sebagai komoditas semata, tapi sebagian hasil kerja panjang bumi: tanah, air, cahaya matahari, dan tenaga manusia.

Pada akhirnya, ketika pemaknaan kita terhadap puasa sebagai ‘ibadah privat’ saja, sejatinya tidak membuat seseorang menjadi tunasosial. Justru ritual tersebut memuat sisi spiritual yang lebih menekankan mentalitas sosial dalam melihat kehidupan di sekitar, baik orang-orang yang masih kelaparan, atau sekadar melihat sampah yang masih terus menumpuk tak tahu tempat pulangnya.

Author

  • Ryan Saputra

    Alumni salah satu universitas di Kota Kairo. Tertarik pada kajian-kajian keislaman dan kebudayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | jojobet | jojobet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | betebet | meritbet | galabet | Meritbet | jojobet giriş | Report Phishing |