Yang Belum Dibahas dari “Bunuh Diri” (Bag. 1)

Beberapa hari yang lalu seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bandung ditemukan meninggal bunuh diri. Ia menggantung diri di kamar indekosnya, dengan tubuh sudah mengeluarkan bau busuk ketika “ditemukan” oleh pacarnya. Di perguruan tinggi itu ia sudah semester 13 dan sedang berusaha merampungkan skripsi. Kabarnya, kepada pacarnya ia kerap mengeluh tentang hal tersebut, juga tentang masalah-masalahnya yang lain seperti masalah finansial.

Membaca berita ini di sebuah media daring, seketika saya teringat film The Three Idiots (2009) garapan sutradara Rajkumar Hirani. Di film ini seorang mahasiswa juga meninggal bunuh diri dengan masalah yang kurang lebih sama: skripsi. Mendapati hal ini, si tokoh utama yang diperankan oleh Aamir Khan melancarkan protes kepada pihak perguruan tinggi yang dinilainya telah menjalankan sistem yang keliru, yang bukannya mendorong si mahasiswa itu untuk berkreasi dan berinovasi namun justru malah menekannya untuk menyesuaikan diri dengan sistem dan mengebiri kreativitasnya, dan akhirnya membuatnya stress, depresi, Serta akhirnya bunuh diri. Apa yang ditawarkan film ini menarik karena ia memosisikan si mahasiswa yang meninggal bunuh diri itu sebagai korban alih-alih pelaku. Itu artinya, kritik atas peristiwa tersebut difokuskan ke hal-hal di luar si mahasiswa ketimbang si mahasiswa itu sendiri.

Dan itu saya kira sudah tepat. Bunuh diri, kendati pun ia dilakukan oleh seseorang atas keinginannya sendiri, pada dasarnya bukan sesuatu yang terbebas dari pengaruh-pengaruh dari luar seseorang itu; pikiran bunuh diri itu mungkin saja berawal dari depresi sedangkan depresi mungkin berasal dari stress dan stress, sebagaimana dijelaskan Matt Ridley dalam Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab (2005), berasal dari situasi-situasi tak menyenangkan yang dihadapi seseorang itu—situasi-situasi tersebut mendorong tubuh memproduksi hormon-hormon stress. Di kasus mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung tadi, misalnya, terlihat bahwa bunuh diri yang dilakukan korban berkaitan erat dengan situasi-situasi tak menyenangkan yang dihadapinya, yaitu ia sedang mengalami kesulitan finansial dan di saat yang sama merasa sangat tertekan sebab belum juga bisa merampungkan skripsinya—dan mungkin ia tidak punya bayangan kapan skripsinya itu akan bisa ia rampungkan. Tentu, selain dua masalah ini mungkin saja ada masalah-masalah lain yang ikut menambah berat beban hidup yang dirasakan korban, seperti tekanan dari keluarga atau bangkit kembalinya ingatan-ingatan tentang pengalaman yang sifatnya traumatik.

Bunuh Diri dan Kritik Atas Sistem Sosial

Keterhubungan bunuh diri dengan situasi-situasi di luar korban juga tergambarkan di film dokumenter mengenai fenomena bunuh diri di Jepang garapan Rene Duignan, Saving 10.000: Winning A War on Suicide in Japan (2012). Seorang perempuan berusia tiga puluhan menggantung diri di kamar orang tuanya. Ya, di kamar orang tuanya. Ia konon sengaja memilih kamar orang tuanya sebagai bentuk pernyataan bahwa ia teramat kecewa dengan kedua orang tuanya itu, bahwa sosok-sosok tersebut, yang setiap harinya ada di dekatnya ketika ia tengah menjalani masa-masa sulit, dinilainya sama sekali tak membantunya; ia merasa dibiarkan sendirian menghadapi masa-masa sulitnya itu dan kedua orang tuanya ini dinilainya tak memahami bahwa ia sangat menderita, bahwa ia sangat membutuhkan pengertian dan penerimaan dan kasih sayang mereka. Di film dokumenter ini dijelaskan bahwa orang tua korban, karena usia korban sudah di atas tiga puluh, kerap menekannya untuk segera mencari pasangan dan menikah, bukannya mendekam di kamarnya, “menumpang” di rumah mereka. Korban sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan di kota dan tinggal di asrama yang disediakan perusahaan, namun ia diberhentikan dan ia pun kembali ke rumah orang tuanya,. Kemudian, sejak itu tak juga berhasil memperoleh pekerjaan baru. Selain itu, dari mantan pacarnya ia kerap menerima perlakuan kasar; sesuatu yang pada akhirnya semakin menyulitkannya untuk menghadapi “dunia luar” dan membangun hidupnya kembali.

Kasus ini dengan jelas menunjukkan bahwa bunuh diri sejatinya adalah sebentuk kritik. Si perempuan dengan mengakhiri hidupnya di kamar orang tuanya, berusaha melontarkan kritik kepada orang tuanya itu, mencoba membuat mereka mengerti bahwa ada sesuatu krusial yang semestinya mereka sadari dan itu berkaitan dengan dirinya, anak mereka satu-satunya. Mengapa kritik ini tidak dilontarkan si perempuan dengan cara lain saja? Mengapa ia sampai harus mengorbankan nyawanya sendiri? Tentulah karena si perempuan melihat cara-cara lain itu terlampau sulit untuk dilakukan olehnya; di saat yang sama ia pun sudah merasa teramat lelah berada di dalam situasi yang menyiksanya itu. Di sini jelas juga bahwa bunuh diri yang dilakukan si perempuan adalah bentuk kritik atas tidak terbangunnya situasi yang memungkinkannya berkomunikasi dengan kedua orang tuanya itu, sebuah situasi ketika ia bisa mengutarakan kepedihan-kepedihannya, kegelisahan-kegelisahannya, dan ketakutan-ketakutannya kepada mereka.

Di sini kita mendapati bahwa bunuh diri, yang oleh kaum agamawan dikategorikan sebagai perbuatan penuh dosa dan tak terampuni itu, ternyatalah memiliki semacam fungsi, baik itu bagi kita (individu) maupun masyarakat (sistem). Ia menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan kehidupan ini, dengan sistem—masyarakat, hukum, budaya, dlsb.—di mana korban selama ini hidup.

Kasus si perempuan tadi dengan baik menunjukkan itu. Sepintas memang kasus ini terlihat “hanya” sebatas konflik dalam sebuah keluarga, namun kenyataannya jauh lebih dalam dari itu. Si perempuan tak bisa juga memperoleh pekerjaan baru selama ia “menumpang” di rumah orang tuanya dan itu menandakan betapa keras dan kejamnya sistem ekonomi kapitalis Jepang. Si perempuan kerap ditekan orang tuanya untuk segera menikah dan itu menunjukkan betapa keras dan diskriminatifnya perlakuan masyarakat Jepang terhadap perempuan—orang tua dalam hal ini adalah simbol dari masyarakat. Jadi jelas, bunuh diri si perempuan adalah juga bentuk kritik atas masyarakat, atas sistem perekonomian dan kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tersebut, terlepas dari ia memaksudkannya sejauh itu atau tidak.

Penting untuk menyadari hal ini sebab jika tidak maka bunuh diri yang dilakukan si perempuan akan menjadi “sia-sia”. Tentu saja, sekadar menyadarinya tidaklah cukup; perlu dilakukan sesuatu yang nyata untuk mengubah kedua sistem itu, untuk memperbaikinya dan terus memperbaikinya. Dan sudah pasti dampak yang kita harapkan dari itu adalah tidak lagi adanya kasus bunuh diri serupa di masa depan. Mengabaikan hal ini, namun tetap berharap kasus bunuh diri serupa itu tak lagi terjadi, adalah sebuah kekonyolan—jika bukan kedunguan. Itu seperti kita berharap ikan-ikan peliharaan kita sehat-sehat saja sedangkan air di akuarium tempat mereka hidup kita biarkan kotor.

Bunuh Diri dan Kritik Atas Evolusi

Selain bentuk kritik atas sistem sosial, bunuh diri bisa jadi juga sebentuk kritik atas evolusi yang dialami manusia. Yuval Noah Harari, sejarawan yang sedang naik daun itu sering mengatakan bahwa evolusi yang dialami manusia menjadikan manusia mengungguli organisme-organisme lain; dan itu berarti evolusi itu baik, sebab ia mengantarkan kita menjadi sosok yang unggul itu. Namun bagaimana jika ternyata keunggulan tersebut sesungguhnya hanyalah keunggulan semu? Bagaimana jika bunuh diri yang ditemukan pada manusia, yang dipandang negatif oleh manusia, justru adalah konsekuensi dari evolusi itu sendiri?

Di dunia hewan, seperti dijelaskan Richard Dawkins dalam The Selfish Gene (1976), umum terjadi bunuh diri altruistik. Beberapa ekor lebah, misalnya, bisa mengorbankan diri mereka untuk kelangsungan hidup koloninya, seperti ketika ada ancaman dari beberapa ekor tawon yang berusaha mengangkut persediaan madu mereka. Bunuh diri ini adalah semacam mekanisme agar gen-gen egois di dalam diri para lebah itu tetap hidup, diturunkan si ratu lebah ke generasi-generasi selanjutnya. Dan yang memungkinkan mereka mengembangkan mekanisme ini adalah evolusi, adalah adaptasi selama puluhan juta tahun. Pada manusia, tidak selalu hubungan bunuh diri dan evolusi sepositif ini.

Dan perlu ditekankan di sini bahwa bunuh diri tersebut tidak selalu bunuh diri altruistik. Sebagian misalnya, adalah bunuh diri egoistik. Dan tidak mungkin gen-gen egois di dalam diri manusia itu diuntungkan ketika si manusia, yang di mata mereka hanyalah “kendaraan” itu, melakukan bunuh diri egoistik; bunuh diri yang dilakukan tanpa “kesadaran” untuk menjaga kelangsungan hidup gen dalam koloni—dalam hal ini keluarga. Evolusi yang dialami manusia, rupanya, memungkinkan mereka melakukan bunuh diri seperti ini.

Dalam Suicide: A Study in Sociology (1952), Emile Durkheim menjelaskan bagaimana relasi seseorang dengan sistem masyarakat di mana ia berada sangat berkaitan dengan fenomena bunuh diri. Apabila ikatan seseorang dengan sistem masyarakat itu sangat lemah, ia lebih berpeluang untuk melakukan bunuh diri. Begitu juga apabila ikatan itu begitu kuat, bahkan terlampau kuat, di mana seseorang itu pada akhirnya merasa terkekang, dan tersiksa. Yang pertama cenderung ditemukan di masyarakat liberal, sedangkan yang kedua di masyarakat yang hidup dalam kekangan otoritarianisme. Bahwa tipe-tipe masyarakat seperti ini bisa terbentuk, tak pelak lagi, adalah karena manusia mengalami evolusi.

Jadi, terkait evolusi yang dialami manusia ini kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tidak begitu menyenangkan. Pertama, evolusi memungkinkan manusia membentuk sistem-sistem sosial yang berpotensi mendorong sebagian dari mereka untuk melakukan bunuh diri. Kedua, evolusi memungkinkan manusia untuk melakukan bunuh diri yang tak altruistik, yang tak mendukung kelangsungan hidup manusia-manusia lain dalam “koloni”-nya. Melihatnya seperti ini, kita terdorong untuk berpikir bahwa bunuh diri pada manusia, yang tak altruistik itu, barangkali adalah sebentuk kritik atas evolusi yang dialami manusia itu sendiri; ia menyadarkan kita bahwa mungkin ada yang salah dengan evolusi yang kita alami itu. Barangkali, evolusi kita itu masih belum sempurna. Atau bisa jadi, evolusi yang kita alami selama ini ternyata menuju ke arah yang salah.

Masih ada banyak hal yang bisa dibicarakan tentang bunuh diri pada manusia. Misalnya, kita bisa bertanya-tanya seperti apa bangkitnya pikiran bunuh diri pada seseorang berelasi dengan bangkitnya kesadaran filosofisnya; atau kita juga bisa bertanya-tanya apakah pikiran bunuh diri pun, seperti halnya orientasi seksual, adalah sebuah informasi yang sesungguhnya tertanam di dalam gen, hanya saja ia baru akan bangkit dengan syarat-syarat tertentu, yang mungkin bisa menjelaskan kenapa tidak setiap orang yang mengalami masalah-masalah hidup serupa memiliki pikiran bunuh diri.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menarik dan semestinya diberi perhatian yang cukup. Jika kita berhasil menemukan jawaban-jawaban yang meyakinkan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, pemahaman kita tentang bunuh diri mestilah menjadi jauh lebih baik lagi, terutama soal fungsinya bagi kita dan masyarakat. Sejauh ini ketika orang-orang bicara tentang bunuh diri atau pikiran bunuh diri fokusnya selalu pada bagaimana mencegah seseorang melakukan bunuh diri atau membantu kesembuhan para penyintas bunuh diri juga penyintas kehilangan bunuh diri.

Itu memang sesuatu yang baik, tetapi saya kira itu hanya separuhnya saja. Sudah semestinya kita pun membahas yang separuhnya lagi, segelap dan sekelam apa pun yang akan kita hadapi nantinya. Sebagai seseorang dengan pikiran bunuh diri (suicidal person) saya sungguh berharap kita mau mengambil risiko untuk membahas sisanya tersebut.(*)

—Bogor, 26 Desember 2018

Lanjutan dari topik “Bunuh Diri”:
Bag 1.Yang Belum Dibahas dari Bunuh Diri
Bag 2.Pikiran Bunuh Diri dan Kesadaran Filosofis
Bag 3. Simplifikasi Pikiran Bunuh Diri

====================================

Catatan Editor:

  • Tulisan ini dimaksudkan sebagai tulisan bersambung.
  • Jika Anda mengalami dorongan atau tendensi untuk melakukan “bunuh diri” kami sangat menyarankan Anda untuk datang berdiskusi pada ahlinya, seperti psikolog,psikiater, atau klinik kesehatan jiwa.