

Macet di kawasan JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate) Gresik sebenarnya bukan hal baru. Volume kendaraan yang tinggi, lalu-lalang truk besar, dan aktivitas industri yang padat membuat ritme jalan di sana memang tidak pernah benar-benar lengang. Tapi belakangan ini, ada satu sumber kemacetan yang terasa berbeda. Bukan karena lonjakan kendaraan, melainkan karena keberadaan lampu merah di salah satu titiknya.
Awalnya saya mencoba memahami bahwa JIIPE tentu bukan kawasan biasa. Ia dirancang sebagai zona industri terpadu, dengan mobilitas tinggi dan kebutuhan pengaturan lalu lintas yang serius. Jalan dibuat lebar, akses ditata rapi, dan sistem keamanan diperketat. Semua itu masih terasa masuk akal.
Namun, semakin sering melintas, rasa janggal itu muncul juga. Di titik lampu merah tersebut, arus kendaraan sebenarnya sudah padat sejak awal. Kendaraan melaju dengan ritme cepat meski tetap penuh, orang-orang sering bilang ramlan alias ramai lancar. Truk, mobil pribadi, dan kendaraan operasional bercampur dalam satu jalur yang sibuk.
Lalu ketika lampu merah menyala, semuanya harus berhenti total. Yang tadinya macet tipis-tipis, kini benar-benar diam.
Antrean mengular, bahkan di jam tertentu terasa lebih panjang dari biasanya. Di situ saya merasa sedih 🙁
Saya pun bertanya-tanya, apakah ini benar-benar solusi, atau justru menambah satu titik hambatan baru?
Disclaimer, saya bukan ahli transportasi, saya hanya pengguna jalan. Namun, saya berhak merasa seolah sistem lampu merah ini memang belum sepenuhnya cocok untuk diterapkan dengan kondisi di daerah Manyar ini.
Tidak Semua Solusi Cocok di Semua Tempat
Lampu merah tentu bukan sesuatu yang keliru. Di banyak persimpangan, justru itu cara paling efektif untuk mengatur lalu lintas. Ia memberi jeda, mengatur prioritas, dan membuat arus lebih tertib.
Tapi setiap jalan punya karakter berbeda. Jalan yang relatif sepi tentu berbeda pendekatannya dengan jalan yang sejak awal sudah padat. Ketika pendekatan yang sama diterapkan di kondisi yang berbeda, hasilnya tidak selalu ideal.
Di JIIPE ini, kesannya seperti itu. Ada upaya penataan, tapi dampaknya belum terasa pas. Bahkan dalam beberapa situasi, kemacetan justru terasa lebih berat karena kendaraan dipaksa berhenti dan bukan sekadar melambat saja.
Ruang Evaluasi masih Terbuka
Hal seperti ini sebenarnya wajar untuk dipertanyakan. Bukan untuk menyalahkan, tapi sebagai bagian dari evaluasi karena kebijakan lalu lintas tidak hanya dilihat dari niatnya, tapi juga dari dampaknya di lapangan.
Kalau setelah diterapkan justru memicu antrean panjang, berarti ada ruang untuk penyesuaian. Mungkin pengaturan waktunya perlu diubah. Bisa juga diperlukan pendekatan lain yang lebih fleksibel sesuai kondisi arus kendaraan.
Yang sering terlupakan, jalan di kawasan seperti ini dipakai oleh banyak pihak. Ada pekerja yang mengejar waktu, distribusi barang yang bergantung pada kelancaran jalur, dan masyarakat umum yang hanya ingin lewat tanpa terjebak macet terlalu lama.
Jalan Publik, Kepentingan Bersama
Di titik ini, rasa janggal yang muncul dari pengguna jalan sebenarnya penting. Ia menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya klop. Tidak harus dianggap keluhan, tapi cukup sebagai bahan pertimbangan.
Sebab pada akhirnya, kawasan seperti JIIPE tentu ingin tampil modern. Tidak hanya dari tampilan fisik, tapi juga dari cara mengelola hal-hal mendasar seperti lalu lintas. Modern itu bukan sekadar terlihat rapi, tapi juga terasa pas saat dijalani. Iya, kan?
Oh iya, satu hal juga yang tidak boleh dilupakan, jalan di sana tetap bagian dari ruang publik. Yang menggunakan bukan hanya pelaku industri, tapi juga masyarakat luas. Yang membayar pajak pun sama.
Jadi wajar kalau publik ikut merasa punya hak untuk bertanya. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi supaya yang sudah dibangun dengan baik benar-benar bekerja sebagaimana mestinya.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!