Pilkada serentak tinggal menghitung jam saja. Sudah menentukan pilihan? Itu pasti berat sekali. Memilih memang bukan perkara yang mudah, bahkan jika kamu memilih golput sekalipun. Sebab rasanya semua pilihan pasti punya alasan.

Nah, alasan-alasan ini jelas punya landasan ideologis dan ekspresif yang bermacam-macam. Cuma untuk akun-akun media sosial yang saya miliki, alasan ekspresif yang paling sering muncul di beranda adalah #2019GantiPresiden. Sungguh wagelaaazeeeh! betul.

Teman-teman pasti sudah tahu hashtag ini dikomandai oleh Sekjen PKS, Mardani Ali Sera tersebut mengusung calon-calon yang mana. Yha kali nggak tahu. Tapi relevan nggak sih kalau Pilkada tahun ini dihubungkan dengan Pilpres tahun depan?

Memangnya pilihan di Pilkada bisa menentukan siapa yang akan menjadi Presiden, yha?

Hmmm.. menurut saya, kita tidak bisa menghubungkan satu pilhan ke pilihan lain. Pemimpin Jabar adalah pemimpin Jabar. Mereka adalah seseorang yang bisa menentukan nasib Jabar, bukan nasib presiden dan Indonesia. Wilayahnya agak berbeda. Bupati, ya bupati. Gubernur, ya gubernur, dan Presiden, ya jelas bukan ketua RW.

Maka teman-teman penting kiranya untuk mendasari pilihan kita pada gagasan mereka untuk Jabar ke depan seperti apa. Bukan hanya soal hashtag (tagar) seperti di atas, gaes.

Saya tidak sedang jadi juru kampanye di sini, tetapi apakah kamu yakin dengan pilihanmu? Apalagi kalau kamu menjatuhkan pilihan hanya karena  hashtag.

Maksud saya begini, gaes, kalau memang kamu memilih berdasarkan hashtag 2019 Ganti Presiden, bukan hesteknya yang kamu banggakan ke semua kanal sosial media, tetapi gagasannya untuk Jabar ke depan. Sebab ya hal itu cara berpikir yang lebih waras saja.

Persoalan Pilkada Jabar tahun ini mirip-mirip dengan Pilkada di DKI tahun lalu. Bedanya adalah jika Jabar tahun ini memilih isu ganti presiden, kalau DKI tahun lalu memilih isu pemimpin seiman. Sedangkan persamaannya adalah kedua isu tersebut datang dari narasi partai tuhan dan partai setan yang hits itu.

Kita bisa lihat bagaimana teman-teman di Jakarta tergiring ke dalam isu pemimpin seiman. Harapan mereka kepada calon pemimpin DKI hanya sebatas parade identitas agama. Sehingga setelah semuanya berhasil mereka capai, DKI tetap saja tidak menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Tidak ada yang bisa menepis bagaimana kecewanya mereka terhadap isu reklamasi teluk Jakarta dengan Pergub nomor 58 tahun 2018-nya.

Namanya juga kampanye, ya kan… biasalah omongannya pada manis-manis kayak menu takjil.

Teman-teman kita yang di Jakarta bisa menjadi contoh agar bisa memiliki pemimpin yang baik, gaes. Kita nggak boleh terjebak ke dalam hal yang remeh seperti harus punya pemimpin seiman atau hashtag 2019 ganti presiden. Tetapi sekali lagi, apa gagasan mereka untuk Jabar. Itu yang harus kita perhatikan sebenar-benarnya.

Saya berharap teman-teman tidak merasa puas dengan hashtag 2019 ganti presiden itu sehingga hal tersebut membuat kamu tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk Jabar. Lagi pula partai yang mendeklarasikan hashtag-hashtag itu nyatanya belum memiliki calon untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Mereka hanya mengatakan memiliki 9 calon, tetapi belum satupun yang mereka umumkan. Menunjukkan betapa… ya gitu deh…