

I.
betapa sedih,
burung-burung merayap
menuju mati.
II.
ibu menangis,
pohon-pohon dirampas
dedaun gugur.
III.
angin mendesah
kehidupan terbenam,
aku terbunuh.
waktu adalah anjing gila, sayangku.
ia akan menggonggong sambil berlari
(secepat motor balap) mengejarmu.
angka tak lagi bisa menghitung
kecepatanya; di suatu tempat,
ilmuwan mencoba menghitungnya,
tapi malah berakhir dengan paradoks
yang sukar dicerna.
manusia memang tetap akan hidup
bersama tawa, tangis, dan berahi
bersama kekasihnya. namun, akan
tiba masanya anjing menggigit
lehernya dengan giginya yang
penuh lendir, sembari menyatakan,
“aku sedang lapar. aku ingin melahap
manusia. aku ingin melahap-lahap
segalanya!”
tentu tidak apa-apa, jika ingin
menghiraukannya. tapi ingatlah!
anjing itu gila, sayangku. ia lapar!
ia duduk di atas pohon mangga
milik seorang tetangga yang tak
jelas siapa dia, sebab tetangga itu
konon katanya hanya akan pulang
ketika unggas tak lagi memakan
padinya di sawah.
seorang lelaki tua renta
tengah tertidur di pondok sawahnya,
dan unggas sedang mematuki
saku celananya. “alamak,
mau makan apa kau esok hari,
jika unggas saja tak segan
memakan jatah makanmu,”
ucap istrinya yang mematung-diam
melihat suaminya.
ia jatuh dari atas pohon mangga
milik seorang tetangga, saat
ayahnya sudah teriak-teriak
memanggilnya, “turun kau bujang,
hari sudah maghrib. waktunya
sembahyang di surau.”
Lahir di Pasaman Barat, Sumatera Barat, pada 28 Januari 2007.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!