Anjing Gila

Tiga Haiku untuk Perampas Alam 

 

I.

 

betapa sedih,

burung-burung merayap

menuju mati.

 

II.

 

ibu menangis,

pohon-pohon dirampas

dedaun gugur.

 

III.

 

angin mendesah

kehidupan terbenam,

aku terbunuh.

 

 

 

Anjing Gila

 

waktu adalah anjing gila, sayangku.

ia akan menggonggong sambil berlari

(secepat motor balap) mengejarmu.

angka tak lagi bisa menghitung

kecepatanya; di suatu tempat,

ilmuwan mencoba menghitungnya,

tapi malah berakhir dengan paradoks

yang sukar dicerna.

 

manusia memang tetap akan hidup

bersama tawa, tangis, dan berahi

bersama kekasihnya. namun, akan

tiba masanya anjing menggigit

lehernya dengan giginya yang

penuh lendir, sembari menyatakan,

“aku sedang lapar. aku ingin melahap

manusia. aku ingin melahap-lahap

segalanya!”

 

tentu tidak apa-apa, jika ingin

menghiraukannya. tapi ingatlah!

anjing itu gila, sayangku. ia lapar!

 

 

 

Di Suatu Kampung

 

ia duduk di atas pohon mangga

milik seorang tetangga yang tak

jelas siapa dia, sebab tetangga itu

konon katanya hanya akan pulang

ketika unggas tak lagi memakan

padinya di sawah.

 

seorang lelaki tua renta

tengah tertidur di pondok sawahnya,

dan unggas sedang mematuki

saku celananya. “alamak,

mau makan apa kau esok hari,

jika unggas saja tak segan

memakan jatah makanmu,”

ucap istrinya yang mematung-diam

melihat suaminya.

 

ia jatuh dari atas pohon mangga

milik seorang tetangga, saat

ayahnya sudah teriak-teriak

memanggilnya, “turun kau bujang,

hari sudah maghrib. waktunya

sembahyang di surau.”

Lahir di Pasaman Barat, Sumatera Barat, pada 28 Januari 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!