Anime Attack on Titan Mengajarkan Saya bahwa Menjadi Mahasiswa Sejarah Ternyata Ada Gunanya

Ada masa-masa ketika menjadi mahasiswa sejarah itu saya merasa sedang melakukan hal tak berguna. Meski banyak orang bilang jurusan ini tetaplah penting.

Sejarah selalu dipuji sebagai ilmu yang mulia. Kalau kata Soekarno itu, “Jas merah” atauJangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah”. Bukan berarti kedua dan ketiga kali boleh seperti menteri kalcer kita, ya 🙁

Semua orang sepakat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Tapi pujian semacam itu biasanya hanya slogan saja. Begitu berhadapan dengan mahasiswa sejarah sungguhan, pertanyaannya berubah jadi lebih praktis, lebih membumi: Nanti kerja apa?”

Saya tidak akan sok idealis dan bilang pertanyaan itu tidak pernah mengganggu. Kadang mengganggu. Kadang bahkan membuat saya ikut curiga pada jurusan sendiri.

Lebih parahnya lagi, kadang saya merasa insecure dengan jurusan yang saya tempuh sekarang ini.

Di tengah dunia yang serba cepat, serba praktis, dan serba ingin hasil instan, belajar tentang masa lalu memang kadang terasa seperti pilihan hidup yang terlalu sabar. Sampai kemudian saya menonton Attack on Titan.

Awalnya, seperti banyak orang lain, saya mengira anime ini cuma soal manusia yang hidup di balik tembok sambil dikejar titan. Cerita survival yang brutal, menegangkan, dan penuh darah. Saya pikir ya sudah, paling banter ini akan jadi tontonan yang bikin deg-degan lalu selesai. Ternyata tidak.

Semakin jauh saya menonton, semakin saya sadar Attack on Titan bukan sekadar anime monster-monsteran. 

AOT menarasikan sejarah yang diwariskan, dipelintir, disembunyikan, lalu dipakai untuk membentuk cara manusia membenci satu sama lain.

Di situ lah saya merasa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama kuliah, bahwa menjadi mahasiswa sejarah ternyata memang ada gunanya.

Setidaknya, untuk tidak terlalu gampang percaya pada cerita yang terdengar paling meyakinkan.

Bukan kebetulan kalau AOT jadi fenomena global. Manga karya Hajime Isayama itu telah terjual lebih dari 140 juta kopi di seluruh dunia, dan popularitas adaptasi anime-nyaikut menjadikannya satu di antara karya pop culture paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir.

Menurut saya, daya tariknya bukan cuma karena titan-titannya besar atau adegan aksinya brutal tok.

Daya tarik utamanya justru karena AOT ini tahu satu hal yang sering dilupakan banyak orang: manusia sering kali tidak hidup dari fakta, tapi dari cerita tentang masa lalu, dan cerita semacam itu, kalau salah tangan, bisa sangat berbahaya.

 

Saya Baru Paham Bahwa Sejarah Bisa jadi Penjara

Satu momen yang paling membuat saya ngahuleng tarik  saat menonton Attack on Titan adalah ketika kebenaran tentang dunia di luar tembok mulai dibuka.

Selama beberapa musim awal, penonton diajak percaya bahwa ancaman terbesar manusia adalah titan. Bahwa dunia di balik tembok adalah satu-satunya dunia yang tersisa. Bahwa umat manusia sedang bertahan dari kepunahan. Semua terasa sederhana: ada korban, ada monster, ada perjuangan.

Attack on Titan memang cerdik. Ia sengaja membiarkan penonton hidup cukup lama di dalam kebohongan yang terasa masuk akal. Lalu pelan-pelan, semuanya dibongkar.

Sebuah adegan yang menurut saya paling penting adalah ketika Eren, Mikasa, dan Armin akhirnya sampai ke laut di Season 3 Episode 22, “The Other Side of the Wall”

Bagi Armin, laut adalah kebebasan. Bagi penonton, itu seharusnya jadi momen kemenangan. Tapi bagi Eren, laut justru datang dengan kesadaran yang pahit.  Hamparan yang selama ini dianggap simbol dunia luas, lalu berkata kira-kira seperti ini: kalau semua musuh di seberang sana dibunuh, apakah mereka akhirnya akan bebas?

Kalimat itu sederhana, tapi efeknya tidak sesederhana itu, Ferguso. Di titik itu, Attack on Titan berhenti jadi cerita tentang bertahan hidup, lalu berubah jadi karakter manusia yang dibentuk oleh musuh yang diwariskan kepadanya. Sebagai mahasiswa sejarah, saya langsung merasa akrab dengan pergeseran itu. Sebab satu pelajaran paling penting dari sejarah adalah bahwa musuh sosial-politik hampir tidak pernah lahir secara alamiah, tapi dibentuk lewat cerita. Lewat pendidikan, trauma, dan repetisi yang muncul melulu.

 

Sejarah Memang dibuat oleh Pemenang

Kalau ada satu hal yang paling membuat saya merasa “Oh, ini anak sejarah banget,” itu adalah ketika Attack on Titan mulai memperlihatkan  satu momen yang sama bisa punya makna yang sangat berbeda bergantung pihak yang menceritakannya.

Puncaknya, menurut saya, ada di Season 4 Episode 5, “Declaration of War”

Pada episode itu, Willy Tybur berdiri di atas panggung dan menyampaikan kisah besar tentang sejarah Eldia, Marley, dan ancaman dari Pulau Paradis.

Adegan itu sangat teatrikal. Penonton di dalam anime terdiam. Penonton di luar anime pun ikut tegang. Di satu sisi, Willy tampak seperti sedang menyampaikan kebenaran. Di sisi lain, kita tahu betul bahwa yang ia lakukan bukan sekadar menceritakan masa lalu.”

Willy sedang mengatur cara orang memahami masa lalu. Bukankah itu juga yang sering terjadi di dunia nyata?

Sejarah sering dibayangkan sebagai kumpulan fakta yang tinggal dicatat. Padahal, dalam praktiknya, sejarah sangat dekat dengan seleksi.

Apa yang diingat?

Apa yang dibuang?

Siapa yang disebut pahlawan?

Siapa yang jadi “iblis”?

Siapa yang jadi antek asing? 🙁

Sebagai mahasiswa sejarah, saya rasa inilah guna kami belajar sejarah supaya sedikit lebih peka bahwa setiap cerita besar selalu ada kepentingannya.

Dengan kata lain, kuliah sejarah tidak selalu membuat saya pintar. Tapi setidaknya ia melatih saya untuk tidak langsung takjub pada cerita yang kedengarannya ngaco.


Yang Paling
Menyeramkan dari AOT

Kalau dipikir-pikir, yang paling menakutkan dari Attack on Titan sebenarnya bukan titan. Titan memang besar, brutal, dan cukup mengganggu secara visual. Namun monster yang paling konsisten merusak dunia di anime itu justru bukan makhluk raksasa. Monster utamanya adalah dendam yang diwariskan.

Saya rasa ini terlihat sangat jelas ketika anime mulai banyak menunjukkan kehidupan di Marley.

Di sana, anak-anak Eldia seperti Gabi dan Falco tumbuh dalam sistem yang dari awal sudah menanamkan keyakinan bahwa mereka harus menebus dosa sejarah leluhurnya. Bayangkan itu.

Seseorang dibesarkan bukan cuma dengan nama, keluarga, dan kebiasaan, tapi juga dengan rasa bersalah yang diwariskan, lengkap dengan rasa malu tujuh turunan begitu. 

Menurut saya, inilah sisi paling mengganggu dari Attack on Titan.

Puncak refleksi saya justru datang di Season 4 Episode 21, “From You, 2,000 Years Ago”

Episode yang memperlihatkan latar belakang Ymir Fritz. Saya melihat bahwa banyak kekerasan besar yang diwariskan selama ribuan tahun ternyata berakar pada relasi kuasa, penaklukan, dan perbudakan yang sangat tua.

Sebagai mahasiswa sejarah, saya jadi merasa bahwa anime ini sedang mengulang fenomena di suatu negeri yang dolarnya makin melemah tapi gakpapa karena rakyat desa gak pakai dolar.

Setelah menonton ini, saya merasa punya satu pembelaan kecil yang cukup jujur terhadap jurusan saya sendiri bahwa menjadi mahasiswa sejarah ternyata memang ada gunanya, minimal tak mudah dimanipulasi “pemenang” lagi. Uhuy.

Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang. Kegiatan sehari-hari membaca novel fantasi sembari membuat tulisan yang gak tahu mau dipost ke mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!
bets10 | bets10 | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş |