Anak-anak Nyimpang itu Goblok atau Nekat, sih? Mari Kita Berhitung!

Jumlah  yang hadir di acara launching sekalian syukuran buku “Museum Sakit Hati”, karya Aji Setiaji, di Kedai Veteran 155, Sabtu (30/05) lalu, jelas kalah telak jika dibandingkan dengan halal bihalal ormas.

Tapi, kayaknya, pantang bagi Ahmad Farid, founder Pustakaki Press untuk ngebatalin acara. Pemberani memang. Tanpa fa fi fu Harga Tiket Masuk (HTM), dukungan sponsor, apalagi hitung-hitungan jumlah kerumunan.

Acara ‘ajaib’ ini bergulir begitu saja. Sedingin salju. Selancar anggaran MBG. Filosofinya, mungkin, hasbunallah wa ni’mal wakil. Cukuplah Allah sebagai pelindung. Rispek, habibi!

Jujur, impresi demikianlah yang paling awal terbit di benak saya.

Nyimpang & Pustakaki and the genk-nya begitu persisten (kalau bukan nekad dan bebal) hadir sebagai penulis sekaligus bertahan sebagai pelaku bisnis penerbitan di Kabupaten Purwakarta. Sebab ada dua “hitungan” yang saya lakukan sehingga berpikir demikian.

Hitungan Pertama: Seberapa Prospektif Bisnis Penerbitan di Purwakarta Sebetulnya?

Begini. Paulo Freire, teman-teman, selalu menekankan bahwa kata atau kalimat mestilah melekat dengan konteks sosial dan historis (Freire, 2022).

Maka, sebagai penghayat teori Freire, saya punya alasan kuat untuk menyematkan kata “nekad” dan “bebal” terhadap semesta kerja  Ahmad Farid dan kolektif Pustakaki Press-nya.

Secara prospek bisnis, usaha penerbitan di Kabupaten Purwakarta nggak cuan-cuan amat! Mari berhitung bersma-sama.  Biar nggak disangka sekedar misuh-misuh.

Pertama dan utama, mari kita tengok struktur ekonomi Kabupaten Purwakarta, merujuk pada data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Purwakarta (BPS Kab. Purwakarta, 2026).

FYI, PDRB di sini mencerminkan keseluruhan cuan yang dihasilkan dari setiap sektor usaha di Kabupaten Purwakarta, termasuk bisnis penerbitan. Semakin besar nilai cuan-nya, otomatis si bisnis shahih prospektif.

 

Gambar 1 Nilai PDRB Sektor Informasi dan Komunikasi berikut share terhadap total PDRB Kabupaten Purwakarta

Perlu saya jelaskan terlebih dahulu, teman-teman, bisnis penerbitan sesungguhnya masuk pada sektor usaha informasi dan komunikasi (infokom), bersama dengan bisnis layanan provider seluler, internet, koran, ebook, dan bisnis lain yang kontekstual.

Nah, Gambar 1 di atas memperlihatkan keseluruhan cuan dari sektor ini beserta kontribusinya terhadap total pendapatan seluruh sektor usaha se-Kabupaten Purwakarta.

Secara kasuistis, total cuan dari bisnis sektor Infokom mencapai 1,2 triliun rupiah di tahun 2021 dan terus meningkat selama lima tahun terakhir. Hingga 2025 menembus 1,6 triliun rupiah. Angka yang kelihatan besar dan menggiurkan, bukan?

Tapi tahan dulu, angka tersebut bukan keseluruhan nilai bisnis penerbitan di Kabupaten Purwakarta.

Besar kemungkinan, porsi cuan terbesar ada di kategori provider seluler, layanan internet, dan bisnis media massa. Polanya begitu di banyak kota, apalagi pada Kabupaten di Indonesia.

Lalu, tengok pula berapa kontribusi pendapatan sektoral Infokom terhadap total pendapatan seluruh sektor usaha se-Kabupaten Purwakarta (Gambar 1).

Selama lima tahun ke belakang, kontribusinya bertahan pada rentang 1,6%-1,7%. Persentase itu jelas minim. Belum lagi jika dibagi dengan faktor kompetisi versus bisnis provider seluler, layanan internet, dan media massa. Gampangnya itulah market size alias ukuran pasarnya.

Lalu berapa persisnya kontribusi riil bisnis penerbitan atau cuannya bisnis ini? Wallahu a’lam. Yang jelas kalau Pustakaki ingin makmur, mesti putar haluan buka dapur MBG saja!

 

Hitungan Kedua, Struktur Pengeluaran Kabupaten Purwakarta

Agar hitungan ini terasa lebih akurat mari kita cek struktur pengeluaran Kabupaten Purwakarta.

Lima tahun ke belakang, besaran pengeluaran dari kategori rumah tangga di Kabupaten Purwakarta konsisten dominan dibanding pengeluaran pemerintah daerah (government expenditure) dan pengeluaran investasi fisik dari sumber dana swasta/pemerintah daerah (BPS Kab. Purwakarta, 2026).

Berturut-turut, porsi pengeluaran dari kategori rumah tangga menyentuh lebih dari 50% pengeluaran agregat se-Kabupaten Purwakarta (Gambar 2). Ekstrimnya, kalau seluruh rumah tangga kompak mogok belanja, Kabupaten Purwakarta bangkrut seketika!

 

Gambar 2 Share pengeluaran pada kategori rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

Di satu sisi, harus diakui, kondisi tersebut merupakan sinyal positif. Artinya, geliat konsumsi warga Purwakarta signifikan. Tetapi, di sisi lain, kita perlu melacak pola pengeluaran rumah tangga itu sendiri. Untuk apa pengeluarannya? Bagaimana porsinya?

Tabel 1 Pengeluaran Per Kapita Rata-Rata Rumah Tangga di Kab. Purwakarta Tahun 2025
Kelompok PengeluaranShare per kategori (%)Persentase Kelompok Pengeluaran (%)
Makanan51,63
Nonmakanan48,37
a.       Perumahan & fasilitas rumah tangga

b.       Aneka komoditas dan jasa

c.        Pakaian, alas kaki, dan tutup kepala

d.       Komoditas tahan lama

e.       Pajak, pungutan dan asuransi

f.         Keperluan pesta dan upacara

23,19

12,22

2,82

4,45

4,38

1,30

Sumber: Diolah dari Purwakarta Dalam Angka Tahun 2026

Pengeluaran rumah tangga di Kabupaten Purwakarta per tahun 2025 (Tabel 1) mayoritas dialokasikan untuk kebutuhan makanan (51,63%). Sementara, 48,37% pengeluaran digunakan untuk komoditas non-makanan.

Dari pola konsumsi begitu, pertanyaannya, berapa kira-kira pengeluaran yang rela dikeluarkan untuk produk penerbitan?

Pembelian buku bacaan ada di urutan kesekian dari list kebutuhan rumah tangga.

Sebesar 23,19% pengeluaran rumah tangga non-makanan habis untuk keperluan rutin, seperti bayar kontrakan/KPR, sabun mandi, pasta gigi, deterjen, dan lainnya. Lalu, pengeluaran untuk pajak, pungutan, dan asuransi (4,38%), serta pengeluaran sandang (2,82%) tak terhindarkan meskipun bersifat sekunder.

Kans paling mungkin adalah dari pos komoditas dan jasa. Tapi, lagi-lagi, postur 12,22% itu juga mepet untuk bayar uang sekolah, listrik, paket data, dan layanan internet.

Selebihnya, tidak lain adalah pos pengeluaran yang syukur-syukur bisa bertahan sebagai tabungan (saving), seperti keperluan resepsi dan komoditas tahan lama (1,30%).

Bayangkan! Ahmad Farid cs dan Pustakaki Press berada di antara dua ‘jurang’ tantangan yang sama-sama ‘curam’ itu. Lantas, apa diksi paling rasional untuk menggambarkan para insan yang dirahmati Allah ini selain “nekad” dan “bebal”?

 

Yang Tak Terhitung dan Barangkali Tak Terhingga

Jika dari hitung-hitungan tadi sudah jelas hasilnya, kalau Nyimpang bebal dan keras kepala… lalu apa yang tersisa?

Sepulang dari bedah buku “Museum Sakit Hati”, karya Aji Setiaji yang diinisiasi Pustakaki Press, Sabtu (30/05) lalu itu, saya berpikir agak panjang.

Buat saya itu bukan hanya “event” saja. Alih-alih sekadar tapak, acara itu boleh jadi adalah sebuah monumen. Bahwa ada angkatan baru penulis Purwakarta yang telah dan sedang berlahiran dari ‘rahim’ Pustakaki Press.

Jika Pustakaki sungguh-sunngguh ingin secara kebersinambungan merawat para penulis Purwakarta, maka mesti menyadari harga yang mesti dibayar.

Karena niscaya akan sangat mahal. Sebab secara bisnis, jelas belaka ia tak lebih cuan dari gerobak Teh Poci.

Meski demikian saya berharap agar Farid and The Genk selalu punya siasat. Saya tidak sedang melankolis. Tapi, betulan, saya berharap Pustakaki Press bisa terus eksis hingga berpuluh tahun ke depan.

Sebab, artinya, akan selalu ada harapan untuk penulis-penulis baru Purwakarta. Mereka yang butuh platform untuk karya-karyanya. Sekedar gurat awalan atau siapa tahu calon masterpiece.

Tentu saja Pustakaki Press sebagai bisnis serba terbatas, wabil khusus finansial.

Berbeda dengan tenaga aktor publik, sebut saja Pemerintah Kabupaten (Pemkab), BUMN, BUMD, yang jauh lebih ajeg dan mapan.

Tapi, ya, apa mau dikata, ketersediaan anggaran tidak lantas berbanding lurus dengan kehendak memajukan literasi. Lebih jauh: memajukan anak bangsa. Tersumbat kesumat siasat kultus popularitas. Dan literasi, tentu saja, tidak semeriah derai air mata ‘politik kemiskinan’.

Pada akhirnya, yang tersisa dan paling mungkin adalah kita sendiri. Rumusnya: baku dukung. Baku bantu. Sekecil apapun. Sesederhana ngopi bareng dan hadir di perhelatan Pustakaki Press. Lain waktu dan seterusnya.

 

Kebun Merdesa, 02 Juni 2026

Penulis adalah Peneliti Sosial Lab. Data Desa Presisi, FISEMA - IPB University. Berakar dari Desa Wanayasa, Purwakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!