Anak-Anak Muda di Indonesia Agaknya Lebih Takut Salah Jurusan daripada Salah Pilih Presiden

Meskipun kerap merasa heran dengan orang yang merasa berdosa akibat salah memilih jurusan, tapi di sisi lain aku juga bisa memahami hal-hal yang ada di benak orang-orang yang merasa tak kalah gagalnya waktu milih presiden.

Orang-orang yang salah pilih jurusan kuliah akan mengalami sensasi kesasar dan menyesal tiap kali masuk kelas.  Begitu juga dengan orang yang salah pilih presiden.

Mungkin si empunya hak pilih ini awalnya terpikat oleh kampanye calon presiden yang ia pilih. Ia yakin bahwa calon presiden pilihannya akan membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Namun nyatanya calon presiden pilihannya bersikap lebih buruk dari kopet.

Sejak SMA, aku sudah dicekoki ketakutan soal jurusan. Jangan sampai salah. Jangan main-main. Jangan asal ikut teman, karena salah jurusan bisa bikin masa depan hancur, ekonomi runtuh, dan hidup penuh penyesalan. Itu kata guru BK-ku waktu SMA, sungguh ancaman yang menyeramkan.

Anehya, ketika bicara soal pemilihan presiden, nadanya jauh lebih santai. Salah pilih? Ya sudah. Namanya juga manusia yang penting sudah nyoblos, yang penting partisipasi, yang penting tidak golput. Seolah-olah dampaknya tidak terlalu personal. Padahal jelas-jelas, kebijakan presiden ikut menentukan nasib banyak hal, termasuk jurusan kita yang katanya salah itu.

Salah Jurusan: Tragedi Pribadi yang Ditelan Sendiri

Salah jurusan itu kejam karena ini murni bersifat personal. Tidak ada libur nasional untuk meratapi pilihan pendidikan. Adanya cuma tatapan kosong di kos-kosan dan pertanyaan batin tiap malam,

“Aku ngapain sih di sini?”

Lingkaran sosial juga ikut menghakimi. Keluarga bertanya,

“Kok nggak dari dulu mikirnya?”

Teman-teman bilang,

“Padahal dulu bisa ambil yang lebih menjanjikan.”

Pokoknya seolah-olah kita sengaja memilih untuk salah, demi konten penderitaan.

Di titik ini, ya saya juga bisa jadi percaya jadinya bahwa salah pilih jurusan adalah bukti kita kurang perhitungan sebagai manusia. Ini menimbulkan perasaan traumatik menurut pendapatku pribadi

Salah Pilih Presiden: Masih Bisa Dimaafkan

Berbeda dengan salah jurusan, salah pilih presiden terasa lebih ringan karena ini kesalahan kolektif. Kita salah bareng-bareng. Kita kecewa rame-rame. Kita marah di media sosial, lalu lanjut hidup seperti biasa. Ya seperti saat ini kita rasakan, awokwok.

Kalau presiden tidak sesuai harapan, selalu ada kambing hitam. Tim sukses, sistem, lawan politik, bahkan rakyat itu sendiri. Tidak ada yang benar-benar sendirian menanggung salahnya. Bebannya tersebar jadi rasanya pun lebih aman.

Lucunya, banyak orang yang bisa dengan santai bilang, “Iya, dulu saya salah pilih,” tanpa harus menjelaskan itu memengaruhi hidupnya secara langsung.

Coba bandingkan dengan kalimat, “Ya, saya salah jurusan.” Efeknya langsung beda. Ada aura kegagalan yang ikut menempel dan minta dikasihani.

Pendidikan Dijadikan Nasib, Politik Dijadikan Wacana

Aku mulai sadar, mungkin ini soal cara kita memaknai dua hal itu berbeda. Pendidikan diperlakukan seperti takdir personal, sementara politik diperlakukan sebagai wacana publik. Kalau hidup kita berantakan, yang disalahkan pertama kali adalah pilihan jurusan atau pendidikan kita, bukan sistem.

Kita diajari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab individu. Jadi kalau gagal, ya salahmu sendiri. Kurang riset, kurang melihat ke depan, dan tentu kurang dengar kata orang tua. Sementara politik dianggap sesuatu yang besar, rumit, dan di luar kendali individu. Jadi kalau salah, ya wajar.

Padahal, keduanya sama-sama keputusan penting. Sama-sama punya dampak jangka panjang. Bedanya, yang satu dipikul sendirian, yang satu ditanggung rame-rame, asem!

Ketakutan yang Diwariskan dengan Rapi dan Horor

Ketakutan akan salah jurusan diwariskan dengan sangat rapi. Dari guru BK, orang tua, sampai motivator pendidikan. Semua sepakat bahwa salah jurusan adalah kesalahan fatal. Seolah-olah hidup tidak menyediakan jalan memutar kalau ditutup pas musim mudik. Heu.

Sementara itu, ketakutan akan salah pilih pemimpin jarang dibicarakan secara personal. Tidak ada yang bilang,

“Hati-hati, salah pilih presiden bisa bikin hidupmu susah.” yang ada justru, “Ya namanya juga demokrasi.”

Akhirnya, kita tumbuh dengan rasa takut yang timpang. Takut pada pilihan hidup kita sendiri, tapi relatif santai terhadap pilihan kolektif yang dampaknya luas.

Ada satu alasan lagi yang jarang diakui, yakni salah jurusan lebih mudah dilihat. IPK, masa studi, pekerjaan, semua bisa dijadikan indikator kegagalan. Sementara dampak salah pilih presiden sering terasa abstrak, bertahap, dan bisa disangkal dengan “Saya kan gak tahu bakal gini.”

Kalau hidupmu tidak sesuai ekspektasi, orang bisa langsung menunjuk jurusanmu dan pendidikanmu. Tapi jarang ada yang berkata, “Ini karena keputusanmu ikut memilih dia lima tahun lalu!” Terlalu rumit, terlalu jauh, politis, dan terlalu berisiko digebugin. Padahal kalau kita tarik semua ini ada benang merahnya.

Kesimpulan 

Aku tidak punya solusi. Aku cuma ingin bilang: wajar kalau kita salah, wajar kalau bingung, dan sangat wajar kalau hidup tidak lurus-lurus amat. Tapi mungkin, sebelum terlalu keras pada diri sendiri karena salah jurusan, kita perlu sadar bahwa banyak hal dalam hidup ini memang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan dan kalau kita bisa memaafkan diri sendiri karena salah pilih presiden, mungkin kita juga bisa sedikit lebih lunak pada diri sendiri karena salah memilih jurusan.

Toh, keduanya sama-sama manusia.

Sama-sama bisa salah!

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
grandpashabet | lunabet | kavbet | meritbet giriş | betcio | holiganbet giriş | meritbet | meritbet giriş | meritbet | bets10 | bets10 giriş | meritking | meritking giriş | bets10 | bets10 giriş | meritbet |