Ingatan paling awal dan membekas soal kucing adalah saat saya berusia lima tahun. Saya melihat bapaknya si Asep, teman bermain saya, sedang melempari kucing dengan batu-batu sebesar kepalan tangannya. Sambil bersungut-sungut sementara sepiring nasi di tangan kirinya, ia tak henti-hentinya mengejar kucing malang itu dengan lemparan-lemparan batu dari tangan kanannya.

Kucing itu lari, terbirit-birit dan menikung-nikung di antara semak belukar. Saya melongo. Bagi otak anak kecil berusia lima tahun, itu sangat mengagetkan. Kucing itu mungkin baru saja menggasak ikan pindang dari piringnya, tapi kenapa bapaknya si Asep musti semarah itu?

Setelah itu saya tidak punya ingatan khusus, apalagi hubungan spesial dengan kucing, kecuali dalam satu tahun terakhir ini.  

Di kantor kami (nyimpangdotcom) saat ini ada dua ekor kucing kecil, dan dua ekor lagi yang cukup dewasa. Pada dua ekor yang kecil-kecil, saya sering menyentil telinga mereka; memasukkannya ke dalam tas lalu menggantungnya di pintu; sampai melempar mereka keluar kantor kami yang kecil. Bukan tanpa sebab saya melakukan hal tersebut. Tingkah mereka menyebalkan. Suka menyerobot saat kami sedang makan. Padahal kami sudah membelikan mereka makanan khusus.

Adit bilang saya berhati kerdil dan pembenci sehingga tidak ada ruang kasih sayang dalam hati saya untuk binatang kesayangan Rasul tersebut. Ia kerap menyinggung itu ketika saya berkali-kali mengusulkan untuk memasukkan kucing itu ke dalam karung dan membuangnya di Pasar Rebo.

Tapi pernah ada saatnya saya merasakan sesuatu dan bertindak ‘aneh’ pada seekor kucing yang kami namai Gaspar. Kucing kecil ini “muncul” selang sebulan Nyimpang berkantor di ruko 4 Active. Saya membiarkannya tidur rapat ke badan saya—hal yang tidak pernah saya suka sebelumnya. Saya sering menggendongnya, memotretnnya di story, bahkan memandikannya.

Selang dua bulan setelahnya Gaspar hilang. Seseorang mungkin mengambilnya atau apa. Saya merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang direnggut.

Sejak itu barangkali cara saya memandang kucing secara berbeda. Setiap kali mencium bau kotorannya yang samar-samar di udara, melihatnya menyerobot ke piring makan saya, membuat saya mengutuk siapa pun yang pertama kali punya ide mendomestikkan kucing.

Bajingan ini tidak seharusnya jadi peliharaan. Mereka memang menyenangkan hati. Tapi jika diperhatikan lagi, mereka ini “anjing!”

Kucing: yang lucu dan doyan makan mayatmu

Saya bertekad tidak akan menjalin hubungan khusus atau perasaan khusus buat kucing. Tapi tentu saja perasaan saya terhadap kucing itu hanya berdasar sesuatu yang subjektif belaka. Dan Adit berhak bilang: saya kerdil dan tak berperasaan. Sampai kemudian saya membaca tulisan Edward S. Kennedi di Tirto dan mulai mendapat landasan yang lebih kokoh untuk membenci kucing.

Edward S. Kennedi (biasa akrab dipanggil Panjul) penulis yang pecinta kucing ini pernah nulis di status Facebook, kemudian di Tirto untuk versi seriusnya—bilang: bahwa menjadikan kucing sebagai peliharaan sebenarnya cukup riskan. Katanya kucing berbeda dari peliharaan lainnya. Sebutlah, dibanding rivalnya, anjing. Anjing benar-benar memiliki kriteria-kriteria ideal peliharaan. Terkenal lebih loyal, setia, dan ‘mudah dididik’.

Berikut bakal saya ulang apa yang ia tuliskan.

Pete Marra, kepala divisi Smithsonian Migratory Bird Center pernah mengungkapkan: “Tidak ada orang yang menyukai ide untuk membunuh kucing. Tapi, terkadang, hal itu diperlukan.” Dalam bukunya Cat Wars: The Devastating Consequences of a Cuddly Killer (2016). Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun menunjukkan, kucing merupakan ancaman serius bagi kelangsungan eksistensi (dan ekosistem yang dibangun) burung, bahkan melebihi manusia.

Untuk mengatasi masalah ini, sebagaimana tulisan di bukunya yang dikutip artikel “The Moral Cost of Cats” ia mengajukan dua solusi. Pertama, kucing-kucing musti dipelihara dengan menjadi jinak dan tidak berbahaya, atau di-euthanasia (bunuh!).

Keduanya bukan pilihan yang menyenangkan. Sebab jika kamu ingin memelihara kucing setidak pertimbangkanlah hal-hal yang di luar soal (berbahaya bagi burung-burung) ini.

Pertama, kucing itu berbahaya. Mereka dapat menularkan virus toxoplasmosis kepada manusia. Pernah dengar bahwa kucing bisa menyebabkan kemandulan? Inilah virus penyebabnya..

Kucing juga dapat menyebabkan penyakit jiwa bagi pemiliknya. Baru-baru ini beberapa ilmuwan menduga bahwa parasit T. Gondii juga dapat mengubah perilaku manusia. berupa gangguan neoristic, schizophernia, dan reflex yang lambat yang dapat mengarah pada kecelakaan dalam berkendara. Juga terdapat bukti bahwa parasit ini memicu tingginya rasio bunuh diri.

Yup gila! sebuah parasit bernama Taxoplasma gondii dapat berkembang biak dalam usus kucing. Bila parasit ini mengenai seekor tikus, maka parasit ini akan mengubah perilaku tikus. Tikus yang terkena parasit T. gondii akan cenderung tidak takut terhadap predatornya (kucing), sehingga parasit ini membantu kucing untuk mendapatkan mangsanya.

Kedua, kucing itu manipulatif. Sebagai contoh, pernah dengar kucing mendengkur? Kalau kamu mengira itu merupakan bentuk kecintaan, maka kamu salah. Dengkuran kucing hanyalah salah satu cara mereka untuk memanipulasi majikannya agar dimanjakan. Kucing melakukan hal tersebut karena mereka memahami bahwa mengeong terus menerus hanya akan membuat manusia terganggu.

Beberapa ilmuwan mulai mempelajari tingkah laku kucing. Lalu menemukan bahwa kucing tidak memiliki hubungan yang erat dan kasih sayang yang tulus terhadap majikannya. Jadi jika kamu melihara kucing, jangan harap kalau bangsat ini bakal menyayangimu. Sebuah studi yang mengunakan metode klasik psikologi anak; yang sering disebut sebagai “The strange situation” digunakan kepada Anjing dan Kucing terhadap majikannya. Hasilnya, seekor anjing lebih cenderung memperlihatkan bagaimana ia memiliki ikatan dengan manjikannya daripada orang asing. Berbeda dengan kucing, kucing sepertinya tidak peduli ketika majikannya pergi dan kembali.

Setiap kali seseorang masuk sebuah ruangan, kucing akan mendekati dan menempelkan badan ke kaki orang itu, kelakuan ini kerap dianggap cara kucing memperlihatkan kasih sayang kepada manusia, namun beberapa ilmuan beranggapan bahwa kelakuan kucing ini sebenarnya sama seperti ia menggaruk dirinya disebuah pohon, yakni kucing itu sedang menyebarkan baunya dan menandai orang tersebut, sebagai miliknya (teritorinya).

Terakhir, kucing itu selfish minta ampun! Ini peliharaan paling gak tahu diri dan egois. Bila kamu meninggal di sebuah ruangan sendirian dengan seekor anjing, ia bisa tetap berada di sampingmu dan tidak makan selama beberapa hari. Tapi lain hal kalau dengan kucing. Ia bisa memakan jasadmu.

Jadi ringkasnya dalam tulisan Edward saya simpukan bahwa siapa pun yang mau memelihara kucing sebaiknya mempertimbangkan sisi-sisi menyebalkan dari kucing seperti: berbahaya, pembunuh, manipulatif, dan punya kemungkinan besar untuk memakan dagingmu.

Ya mereka memang lucu dan imut. Tapi pernahkah kamu membayangkan kalau dia bakal memakan mayatmu seperti, seorang kelaparan yang makan orek-orek telur?

Tiba-tiba dua puluh tahun setelah kejadian bapak Asep yang melempari kucing tersebut saya mengerti; kenapa wajah bapaknya Asep begitu penuh amarah. Nafsu melemparnya lebih dari sekadar seorang jamaah haji melempar batu jumrah.

Intinya, saya sangat ingin membuang kucing-kucing kesayangan Adit ini jauh dari tempat kami tinggal dan kerja. Saya bisa saja melakukan itu tanpa persetujuannya. Tapi tidak tega mengingat bagaimana Adit memperlakuan dua kucing itu. Ia tidak saja suka menggendongnya. Di kesempatan tertentu ia tak segan-segan mengecup hidung kucing-kucing itu. Sedang kita sama tahu, kucing itu minum dari air selokan, menjilat kemaluannya setelah berak, serta mengunyah cicak dan kecoak. Yuck.

Kala pun saya biarkan kucing berkeliaran di Nyimpang, itu bukan karena saya sayang kucing. Saya cuma tidak tega merampas satu-satunya kebahagiaan Adit. Seorang laki-laki, seorang kawan baik, yang tidak ma(mp)u berpacaran lagi setelah diputusin sang kekasih sejak empat tahun lalu. Empat tahun lalu!

Btw, kucing itu belum kembali tiga hari belakangan ini. Entah bagaimana musti bersikap. Bagiamana pun saya bukan pembenci kucing, saya hanya lebih suka jika mereka tidak ada.

Bacaan:

https://tirto.id/mengapa-sebaiknya-anda-tidak-lagi-menyukai-kucing-cSjg

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.