

Ada yang aneh waktu saya selesai baca Laut Bercerita. Bukan karena ceritanya kurang kuat, tapi menurut saya justru terlalu kuat, dan setelah menamatkan semuanya, ada satu hal rasa-rasanya yang gak beres.
Novel ini jelas bekerja dengan baik pada satu hal, namun di sisi lain, membuat pembaca (atau saya saja) merasakan kehilangan dan ketidakadilan. Dalam novel ini, Biru Laut dan kawan-kawannya hadir sebagai orang-orang yang disiksa, pikirannya ditekan, dan ditinggalkan dalam ketidakpastian.
Ada satu bagian yang mengisahkan bahwa orang tua Biru Laut tetap menyiapkan empat piring setiap Hari Minggu, “karena siapa tahu Mas Laut muncul dan kelaparan.’”
Hal-hal seperti ini yang bikin tragedi itu terasa dekat. Kebiasaan kecil semacam ini yang membuat nyes sekali. Ada beberapa orang yang masih juga menjemput anaknya di sekolah meskipun anaknya sudah tidak ada, dan ini terjadi di kehidupan nyata. Suatu kebiasaan tidak pernah berubah karena seseorang seperti Biru Laut yang tidak pernah kembali pulang.
Namun justru karena munculnya gambaran itulah, konsekuensi yang seharusnya gak bisa dihindari menjadi sedikit menjengkelkan. Ketika saya sudah diajak sedekat itu dengan orang-orang yang ada di dalam novel itu, kita pasti ingin tahu kelanjutan dunianya. Pada faktanya, hal-hal menyedihkan tidak hanya terjadi pada yang hilang, tapi juga terjadi pada orang-orang yang kehilangannya, dan sayangnya, novel ini stuck di situ saja.
Cerita seakan berhenti di 1998 (meskipun ada sedikit cerita kelanjutannya setelah 1998) tapi secara gamblang cerita selesai ketika negara terasa jelas sebagai lawan. Ceritanya memang bikin kena, cuma kalau dipikir lagi, kok rasanya terlalu rapi ya buat sesuatu yang aslinya jauh lebih berantakan.
Kalau kita lompat setelah 1998, semua mulai berubah. Orang-orang yang dulu ada di jalan, yang dulu berteriak tentang perlawanan dan keadilan, mereka hari ini justru ada di dalam sistem yang dulu mereka kritik. Bahkan bukan sekadar “masuk”, tapi benar-benar menjadi bagian dari lingkar kekuasaan, termasuk dalam pemerintahan Prabowo Subianto, nama yang di masa lalu sering muncul dalam konteks yang sangat gelap terkait isu penculikan aktivis.
Maka, saya rasa sekarang persoalannya bukan cuma se-hitam putih aktivis VS negara, tapi juga kanda-kanda yang sekarang masuk bagian. Benar-benar perubahan karier yang signifikan tapi anehnya, wilayah ini sama sekali tidak disentuh dalam Laut Bercerita.
Mungkin ada yang bilang,
“Ya wajar, itu kan novel, bukan sejarah politik.”
Iya sih, tapi masalahnya, novel ini sejak awal sudah meminjam realitas. Lagipula, novel kan tidak berdiri sebagai fiksi murni. Cerita Laut dan teman-temannya sudah menancapkan dirinya pada sejarah yang masih terbuka. Jadi ketika novel ini memilih berhenti sebelum masuk ke fase yang lebih kompleks, kepala saya jadi ruwet.
Keruwetan itu makin terasa ketika cerita ini tidak hanya berhenti di buku, tapi juga dibawa ke medium film. Adaptasi film yang seharusnya punya peluang untuk memperluas tafsir, tetap setia pada bagian yang sama, yaitu gerakan mahasiswa, penangkapan, penyiksaan, kehilangan dan keluarga yang menunggu. Kita bisa melihat adegan Biru Laut yang diperankan oleh Reza Rahardian di dalam penjara. Kita bisa merasakan pedihnya yang dia rasakan dengan tata rias dan pengambilan gambar yang sangat mendukung.
Belum lagi adegan keluarga menunggu yang secara sempurna diperankan oleh Christine Hakim dan Arswendi Bening sebagai seorang ibu dan ayah yang menunggu anaknya yang tidak kunjung pulang.
Penonton dibuat larut dalam emosi yang familiar dan pulang dengan rasa simpati. Namun, ealitas yang lebih tidak nyaman, yang justru terjadi hari ini, tetap tidak mendapat ruang. Di titik ini, cerita yang awalnya terasa berani mulai terlihat aman dan biasa-biasa saja. Aman karena tidak menyentuh yang sekarang, tetap berada di wilayah masa lalu, dan aman karena tidak mengganggu posisi siapa pun hari ini.
Sebab kalau Biru Laut tidak hilang, kalau dia selamat dan hidup sampai hari ini, besar kemungkinan dia tidak akan hidup dalam dunia yang hitam-putih seperti di novel. Dia akan menghadapi pilihan-pilihan yang jauh lebih rumit.
Dia mungkin harus duduk di ruangan yang sama dengan orang yang dulu dia lawan. Dia mungkin harus menjelaskan kebijakan yang dulu akan dia kritik habis-habisan, dan saya rasa jadi lebih manusiawi sekaligus tidak nyaman.
Asmara Jati, adik dari Biru Laut pernah menyadari kondisi orang tuanya seperti
“Terus menerus hidup di titik yang sama… penuh harap, penuh penyangkalan, dan penuh mimpi kosong.”
Kalimat itu jugalah yang membuat saya merasa Laut Bercerita ini belum selesai karena banyak yang belum ikut diceritakan.
Tanpa bagian itu, Laut Bercerita tetap jadi cerita yang kuat. Cuma ya, rasanya seperti baru setengah jalan aja. Inilah alasan saya berpikir novel ini tak lagi relevan dengan kenyataan hari ini. Pikiran kita (atau saya aja) jadi ada di zona aman dengan merasa sudah memahami masa lalu, padahal kalau dipikir lagi, belum tentu kita benar-benar berani melihat apa yang terjadi hari ini.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!