Alasan Kenapa Harus Kuliah Di UBP Karawang

78

 

Setelah sebelas tahun vakum dari bangku sekolah, akhirnya tahun ini saya memutuskan untuk meneruskan kuliah di Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang. Walaupun masuk sebagai maba angkatan corona, namun saya cukup merasa bahwa memutuskan kuliah di UBP merupakan pilihan yang sudah sangat amat tepat sekali di hidup saya.

Kali ini saya akan mengulas sebuah review tentang kampus UBP ini secara gamblang. Di sini saya bukan utusan kampus bagian promosi dan saya juga bukan buzzerRP yang suka memberi testimoni yang bertolak belakang dengan kenyataan. Semua yang saya tulis di artikel ini merupakan cerita realita dan pengalaman yang saya alami ataupun teman-teman saya.

Sebenarnya saya sudah berpindah kependudukan menjadi warga Karawang sejak tahun 2013 silam.  Sudah sejak lama saya berencana ingin meneruskan kuliah, hanya saja di Karawang saat itu pilihan prodinya masih sangat terbatas. Dulu, saya hanya menargetkan dua jurusan dalam kuliah. Kalau tidak masuk jurusan kedokteran hewan, yah masuk ke jurusan seni. Sayangnya dua jurusan itu tidak ada di Kota Pangkal Perjuangan ini. Prinsip saya saat itu, daripada menjalani hidup yang tidak saya minati, mending tidak melakukannya sama sekali. Hehehe.

Saat itu Unsika belum resmi jadi PTN, sehingga para karyawan yang bekerja sambil kuliah pun juga bisa sebenarnya belajar di sana. Hanya saja, belum ada jurusan yang menarik perhatian saya, bahkan sampai saat ini. Kala itu  UBP juga belum ada, karena kampus ini mulai berdiri itu akhir tahun 2014 dan mulai menerima mahasiswa untuk kali pertama pada tahun 2015.

Pada akhir April kemarin entah kenapa, saya mendadak mendapat wangsit ingin kuliah. Itu benar-benar tiba-tiba sekali kejadiannya. Jadi, ada seorang kenalan yang curhat pada saya dan dia mengalami depresi berat hingga dia berulang kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Dari sinilah, kemudian saya berpikir, alangkah bergunanya hidup saya kalau misal saya bisa mendengarkan curhat teman atau kenalan sambil membantu mereka terlepas dari masalahnya itu. Selama ini tanpa saya sadari ternyata ada begitu banyak sekali orang yang curhat pada saya, dan saya hanya bisa membantu mereka sebagai seorang pendengar. Sepertinya langit saya akan sedikit berwarna, jika saya bisa menjadi seorang psikolog nantinya.

Untuk menjadi seorang psikolog, tentu saya harus memulainya dengan kuliah di prodi psikologi. FYI, satu-satunya kampus di Karawang ini yang menyediakan prodi psikologi itu yah cuma ada di UBP saja. Jadi, sudah jelas yah, alasan utama kenapa harus kuliah di UBP dan tidak kuliah di kampus lain.

Saya sempat tanya-tanya juga pada teman-teman saya kenapa mereka memutuskan kuliah di UBP. Cukup heran juga, kenapa anak sekolah lulusan baru memutuskan untuk sekolah di universitas swasta. Mungkin kalau saya jadi mereka, tentu saya ingin melanjutkan kuliah di PTN negeri ternama yang bonafit sesuai impian saya. Anehnya lagi, mereka ini memang dari awal itu sudah mantap dan yakin untuk kuliah di UBP. Mereka-mereka itu bukan korban dari penolakan SNMPTN loh ya.

Saat saya tanya alasan yang lebih masuk akal, mereka hanya menjawab, “Memang dari awal pengen kuliah di sana, nggak mau di tempat lain.”

Wow, sepertinya pihak kampus harus mengapresiasi mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kadar cinta kampus begitu besar seperti ini. Kalau ada mata kuliah bela kampus, tentu nilai mereka harusnya A semua. Saya sih jujur, kuliah di sana karena memang nggak ada pilihan yang lain dan UBP merupakan satu-satunya alternatif yang menyediakan prodi yang saya minati. Itu doang sih motif utamanya.

Kuliah di UBP ini menurut saya fleksibel sekali. Waktunya sangat memanusiakan mahasiswa. Terutama bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja dan juga mahasiswa yang suka susah bangun pagi macam saya. Sebenarnya bukan susah bangun pagi, hanya saja saya itu sangat hobi begadang, sehingga saat matahari mulai muncul, mata saya mendadak rapat dan enggan terbuka. Bisa dipastikan kalau kuliah pagi, saya bakalan tidur saat dosen menerangkan.

Untungnya UBP ini sangat pengertian sekali pada manusia seperti saya. Sehingga ketika saya malas bangun, saya bisa ikut kelas siang ataupun kelas malam tanpa perlu ada drama. Mau masuk sebagai member kelas lain juga mudah dan nggak perlu registrasi yang rumit kayak birokrasi di negeri ini.

Sejauh ini, perkuliahan di UBP cukup memuaskan. Layanan e-learning dan sistem pembayaran UKT juga sudah sangat mumpuni. Pihak kampus pun fast respon jika dimintai tolong tentang hal-hal yang belum dimengerti. Dosen-dosennya juga memiliki latar belakang pendidikan yang bagus. Oh, iya salah satu privilege kuliah di UBP itu, banyak sekali psikolognya. Sehingga kita bisa konsultasi gratis dengan dosen. Kapan lagi punya dosen sekaligus psikolog kan ya, harus dimanfaatkan itu mah.

Untuk mereview bangunan kampus, saya tidak bisa bicara banyak. Soalnya sudah hampir kuliah di sana empat bulan, saya belum pernah sekali pun masuk kampus karena pandemi ini. Baru sekali doang ke kampus, itu pun cuma di lobi untuk menyerahkan berkas-berkas. Selebihnya saya hanya tahu melalui video PKKMB kemarin. Tapi sepertinya sih, dilihat dari video dan komentar-komentar kakak tingkat, fasilitas UBP  cukup bagus.

Jika kalian ingin berkuliah di Karawang namun memiliki cita-cita menjadi HRD di sebuah perusahaan, ingin jadi psikolog, ingin menjadi terapi kejiwaan,  suka hal-hal yang berbau kesehatan mental, atau merupakan penganut aliran garis kerasnya Sigmund Freud, maka UBP merupakan akses utama yang mendekatkan kalian dengan cita-cita itu. Maka jangan ragu bergabung menjadi bagian dari keluarga besar UBP tahun depan ya. ~

Leave A Reply

Your email address will not be published.