

Pernahkah tak berpikir apa pun,
pikiran tak berisi apa pun,
simbol tanda tanya semakin mengerubungi,
tetapi otak sepenuhnya seperti balon,
terisi angin padat yang akan meledak,
seperti angka nol yang melingkar
tak sempurna seperti pupil mata atau roda.
( )
Itulah yang selalu dirasakan setiap orang,
bukan dungu, bukan pula pelupa,
entah apa gejalanya, tak pandang usia,
tak pandang waktu, bahkan di kala genting.
Usaplah dinding kaca berdebu itu, maka kau akan melihat kehidupan indah.
Hidup seorang diri dalam akuarium, tak ada teman, tak ada pasangan,
asupan pun tak sebebas biasanya, “Aku selalu menunggu, itu pun bila diberi“.
Elok sekali pemandangannya,
terumbu karang ungu, rerumputan laut hijau,
para buih oksigen yang terjebak, serta
imitasinya yang terbuat dari plastik. Tetapi
“Itu semua kepalsuan, aku tak suka“.
Airnya yang hijau kebiruan, menambah kesan estetis bak air telaga,
tapi nampaknya ia rasa tercekik.
“Pun pula air ini seperti racun yang [tak lama] akan membunuhku,
kemudian aku tergeletak timbul ke atas, dan tuanku akan menggantiku,
dengan yang baru“.
Angka yang keramat, angka sembilan,
angka harapan semua orang,
yang disebut sebagai bilangan nyaris,
nyaris menyentuh pangkat kesempurnaan.
1-9 berderet,
nampak molek lengkukannya,
walaupun si 6 membenci hal itu,
ia anggap 9 sebagai perebut,
yang digemari banyak orang, pandai beraksi.
Nyaris, sungguh nyaris, itulah ia,
tak bisa dikata sempurna,
namun hampir menyentuh kesempurnaan.
Tetapi, mengapa mereka sedungu itu?
Mengapa tidak langsung saja menuju sepuluh?
Yang dilabeli sebagai kesempurnaan,
kenapa lebih memilih angka sembilan?
Si angka yang nyaris sempurna…
Dengan segala keresahan hati ini,
persiapan yang telah kurencana jauh hari.
Selamat datang epilog kehidupan,
inilah waktu yang dinanti, sebuah penantian.
Bagaikan kisah-kisah novel,
yang moralnya diserap dalam kehidupan,
yang saling menyerap, tertuang di novel,
tertaut, teruntai, terikat, saling berkaitan.
Dapatkah ia menutup kisah itu?
Apakah dia akan menyangkal kemudian?
Apakah dia menyesali perbuatannya dahulu?
Dapatkah ia membayangkan kelanjutan?
Yang digadang bertemu kegelapan,
dingin, tenteram, dan kelam,
tak siapa pun akan mendengarkan,
apalagi menghiraukannya seperti malam.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!