

Jika mati adalah akhiran yang sudah ditentukan
Aku tak ingin mati Jumat Legi
Tetangga sudah repot merawat jenazah, masih saja menunggu kuburku selama 40 hari hitungan Jawa.
Aku sadar ini merepotkan, karena selama hidup aku tak cakap bertetangga.
Aku masih punya rasa sadar diri.
Belum lagi keluarga akan menghabiskan banyak biaya
Kambing disembelih untuk berkat orang-orang gali kubur
Tahlil tujuh hari hingga seribu hari merayakan kematianku.
Kematian perlu biaya.
Selain itu aku harus mencari kawan lain untuk melengkapi kematianku
Katanya, orang mati Jumat Legi akan mencari pasangan kematiannya,
Artinya akan ada kematian lain yang segera menyusul.
Aku tak mau kuburku ramai hingga 40 hari
Sebagai seorang introvert hal itu sangat mengganggu
Lagi pula apa masih ada orang yang mencuri tali kafanku
Di era sekarang ini, ku kira orang-orang lebih memilih pesugihan trading saham, kripto, dan lain sebagainya.
Bojonegoro, 2025
Jiwanya telah hilang dihempas angin kemarau
Sebenarnya ada yang tak sempat tersampaikan
Ketika ia bernasib sama seperti sial akhir tahun
Angin kemarau yang mengeringkan tanah liat itu
Menghentikan hujan membasahi tubuhnya
Malam jadi saksinya,
Kau dan dia bertemu pada jerit tangis mohon ampunan.
Banyak yang dia sesali,
Pergi dalam keadaan sangsi
Bahkan masih banyak urusan kongsi
Dia tertidur murung,
Merindukan matahari dan membuka mata sebebasnya
Meninggalkan semua,
Pada hari itu dia tak sempat lagi mengucapkan sampai jumpa.
Surabaya, 2025
Ia berputar-putar kepalanya, kepala yang dipenuhi kerinduan pada ketenangan
Tiba-tiba nelangsa ia, air matanya jatuh sebab hidup dengan keadaan papa.
Cita-citanya menjadi kaya harta dan terbebas dari kerinduan
Ia tampaknya lupa, bahwa makna dari ia lahir bukan untuk lahir saja
Makan bukan untuk makan saja
Kawin bukan untuk kawin saja
Mati bukan untuk mati saja
Hidup bukan untuk hidup saja.
Terlalu jauh berpikir tentang kematian, ia takut mati..
Apalagi mati dalam keadaan belum kaya.
Namun hidupnya terhambat pada sialnya, tenggelam dalam harapan tanpa mengerti makna.
Surabaya, 2025
Kau hilang di antara keramaian
Meremas resah yang tergores di lengan kirimu
Merasa payah dan memilih untuk pasrah
Di antara angin malam yang tersusun dari masalah
Kau hilang.
Terjerat sudah
Sesak menjadi lepas
Kau terbang melayang
Tangis haru orang-orang
Kau dirayakan dengan kedukaan
Seakan mereka peduli dengan kehidupan
Tapi tak ada yang benar
Bahkan kau sekalipun.
Surabaya, 2025
Sarjana sastra yang hilang arah. Menjadi guru Bahasa tetapi dibuat hilang arah oleh pemerintah. Lahir di kota yang katanya kaya dengan minyaknya, tapi UMR tak cukup untuk membeli Dr. Martens baru. Didewasakan oleh gang-gang sempit Jojoran di Surabaya, dari berharap jadi kaya hingga gagal jadi kaya. Mari bersua di Instagram @anggaditiyak. Hidup JKW!!
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!