Aku si Penari Ulung

Neraca Asa Berpasak Kata 

“Akisah Melepas yang Tak Jalini Arti Terbebas”

‎Masa itu kembali beranak pinak dalam benak;

‎Menjadi jatuh yang paling dirayakan,

‎seolah berlebur lara adalah pesta—

yang diundang diam-diam oleh nurani yang kelelahan.

 

‎Nurani mana yang tiada lelah berperangai,

‎Jika bukan ia yang berkali-kali menambal retak—

dengan benang-benang ragu yang kian menipis.

‎Lalu tetap berdiri,

‎seakan utuhnya tak pernah runtuh barang sekali.

 

‎Senantiasa ia menaiki anak-anak tangga—

‎yang tak pernah membawa diri bersambut pada raksasa pelita.

‎Anak tangga yang setiap pijaknya mengikis harap,

‎namun tetap dipeluknya,

‎sebagaimana satu-satunya jalan pulang

‎yang tak pernah benar-benar ada.

 

‎Amat jauh dari pelita;

‎Raksasa yang badannya dikokohkan derita lah

yang gemar merasuk cemari nadi,

‎hingga tertatih denyut suaranya membisik—

‎menyebut nama yang bahkan waktu kini

telah enggan mematrinya.

 

‎Tiada punyai berani untuk dekati berisik,

‎Sebab riuh adalah cermin—

‎yang memantulkan segala yang ia kubur dalam diam,

‎dalam redam dendam yang merendam.

 

‎Maka ia memilih sunyi,

‎Meski sunyi pun tak lagi bersih—

telah terlanjur dilumuri noda,

‎dari gema yang menganga

tak kunjung membisu degupnya.

 

‎Melekat lah ia,

‎serekat karat pada sebongkah besi yang telah berlanjut usia;

‎Menggerogoti perlahan tanpa pernah benar-benar terlihat,

‎namun pasti merapuhkan segalanya dari dalam.

 

‎Telah sepenuh hati—

‎secara sukarela dirinya dimakan perlahan

oleh Waktu yang pandai berburu;

‎yang tak pernah terburu namun selalu sampai lebih dulu,

‎yang tak pernah meminta izin namun selalu menang lebih banyak.

 

‎Ia menyerahkan detik demi detik,

‎Selayaknya persembahan pada altar

‎yang tak sudi dilahirkan dengan nama,

‎kemudian merapalkan harap yang tergagap gempita,

‎meski secibis…

‎bahwasanya kehilangan ini memiliki makna,

‎selain sekadar lenyap dari tatap yang mendekap.

 

‎Pada duri-duri di nadi,

‎yang hinggap tancapi tiap-tiap denyut nadi—

‎di sana lah ia menggantungkan sisa-sisa rasa,

‎yang tak sempat menjadi satu keutuhan.

 

‎Duri yang incari leburnya lumbung sanubari

bertubi-tubi,

‎menusuki tanpa berjeda,

‎tanpa mengiba.

 

‎Hingga tak jelas lagi,

manakah luka?

‎manakah yang pernah disebut sebagai segenggam hati merah muda?

 

‎Pun darahnya belajar diam,

‎mengaliri kata tanpa melahirkan suara,

‎seolah perih adalah bahasa

yang tak perlu lagi diterjemahkan.

 

‎Tercipta sudah Neraca Asa

‎yang dilumuti Berpasak Kata hinai binasa—

‎menimbang harap dan hancur

dalam satu garis yang samar,

‎tanpa pernah bersungguh memihak.

 

‎Maka di sana lah,

‎segala janji ditakar ulang,

‎segala rindu dihitung ulang,

‎dan segala yang pernah diyakini berubah—

‎menjelma angka-angka yang tak lagi punyai arti.

 

‎Namun ia tetap berdiri di hadapannya,

‎Meski tahu timbangan itu tak adil,

‎meski tahu dirinya selalu lebih ringan

‎daripada kehilangan yang ia pikul.

 

‎Dan ketika akhirnya ia jatuh—

sekali lagi,

‎mungkin akan berakhir sama sampai selamanya—

‎ia tak lagi mampu bertanya mengapa,

‎sebab ia telah menjadi jatuh yang paling dirayakan

oleh dirinya sendiri

‎yang tak pernah cukup dari utuh,

‎pula tak pernah lengkap dari penuh.

 

 

Seni Bernyanyi Membersamai Sunyi 

 

Lampu kota berpijar,

‎bak berjuta pasang mata yang menuntut perhatian.

‎Di tengah megahnya perayaan riuh—

‎aku berdiri dengan segenggam berani

‎yang mulai mendingin;

‎senyum terlempar ke segala arah, seolah-olah aku adalah bagian

‎dari simfoni kegembiraan.

‎Namun,

‎di balik segumpal benang yang terjahit bungkusi diri;

ada ruang yang tak terjamah

‎oleh insani mana pun.

‎Pada akhirnya,

‎di penghujung segala meriahnya riuh, sepi lah yang menjelma kawan

‎yang tak kuasa berikrar ingkar.

‎Di altar antara sunyinya waktu yang berselimut,

‎menutupi sekujur bujur diri

‎dari ramai yang membisingkan asing,

‎pun aku menyadari—

‎bahwa riuh yang bergemuruh ciuti diri

‎hanyalah dekorasi.

‎Semakin keras berdentum,

‎maka semakin jelas aku mendengar

‎detakku sendiri.

‎Berdegup ia dalam ritme kesepian.

‎Aku melayangi tatap ke kejauhan,

‎mengais setengah berpeluh mati

‎perginya beradamu kini.

Sebab sesungguhnya—

‎dunia nyataku,

‎hanyalah dunia di mana engkau hidup

‎tanpa redup di dalamnya.

‎Kehadiranmu adalah jangkar

‎yang membuatku tetap tegap berpijak

‎tanpa tergagap,

‎satu-satunya alasan mengapa aku masih berbesar hati berdiri—

‎tanpa kaki yang tak lagi mampu topangi diri.

‎Sementara sesungguhnya dunia mimpiku;

‎nyatanya adalah dunia berjuta dusta,

‎di mana aku hanya tertinggal sebatang kara—

‎berkawan asing yang amatlah buruk rupanya.

‎Asing yang terlalu bising,

‎di luar telinga maupun di dalam sukma

‎yang tiada jenuh kandungi gulita.

 

‎Di sana, kau tiada.

‎Hanya ada kesunyian

‎yang mencekam kecami diri

‎dari segala penjuru.

‎Ia berteriak,

‎lebih keras daripada beribu ledakan kembang api

‎yang tampari telinga bertubi.

‎Di sana lah,

‎tawa yang sejauh ini kubawa besar-besar gelegar suaranya—

‎nyatanya hanyalah upaya yang amat memayah patahi diri,

‎demi memendam sembunyikan bahagia

‎yang tersandera derita.

Di dalam sukma

‎yang nyaris menyerah sepenuh hati.

‎Serupa ia dengan bangunan tua

‎yang tampak indah kulitnya,

‎namun telah lama lapuk terkeroposi waktu fondasinya.

‎Jauh di dalam sukma—

‎yang sedari awal memang lah terlahir

‎tanpa kokoh menyangga bersamai

‎sepasang kakinya berdiri.

 

 

 

Aku si Penari Ulung

 

‎aku menari,

‎bukan di atas permukaan lantai panggung yang hangat.

‎Bukan pula di suatu studio tari—

‎di tempat-tempat lumrahnya

‎sebuah pertunjukan tari.

 

‎Tanpa penonton,

‎tanpa alunan lagu yang memandu.

‎Aku menari,

‎Di atas hamparan pijakan tanah

‎yang lembab,

‎di atas air yang menggenangi mata kaki.

‎Aku menari,

‎dikelilingi para lotus

‎yang entah mengapa,

‎badannya penuh dengan duri

‎yang mengecam ancamkan diri.

‎Aku menari,

‎di antara meronanya kelopak-kelopak mawar—

‎yang berserak di atas genangan air.

‎Kelopak mawar yang setiap kali terpijak kaki,

‎maka terpecah belah

‎serupa hamburan beling.

‎Serpihannya yang terburai—

‎dengan lembutnya mengoyak-ngoyak

‎tebalnya kulit telapak kakiku.

‎Aku menari,

‎tanpa seutas cahaya pun hadir

‎membelah keangkuhan gulita.

‎Aku menari,

‎tanpa sebulir keringat pun

‎membasuhi sekujur bujur diri.

‎Namun,

‎aku pun terhenti—

‎tat kala satu kaki tidak dapat melihat

‎ke mana langkahnya pergi,

‎dan berakhir membawa diri tercebur

‎ke dalam genangan air

‎yang tak terkira kedalaman lubangnya.

‎Aku tenggelam,

‎di dalam lautan yang entah—

‎memiliki dasar atau tidak.

 

‎Aku tenggelam,

‎bersamaan dengan itu lah dari gulita di atas sana,

‎rintik salju yang merah pekat berjatuhan—

‎lantas ikut tenggelam bersamaku.

‎Tapi,

‎terlalu banyak.

‎Terlalu banyak;

‎Sampai-sampai hinggap membaluti jari tanganku,

‎hingga ke jenjang kakiku—

‎yang kian membeku.

‎Secuil benih kehidupan yang berteduh

‎dipelukan hampanya lara melahirkan tekadku—

‎untuk berenang kembali ke permukaan,

‎pun dicekalnya.

 

‎Akar-akar lotus menjelma ular

‎yang membelit gerak tubuhku.

‎Mulai dari;

‎lingkar leherku,

‎sepasang lenganku,

‎dan sepasang kakiku.

‎Pasokan oksigenku pun

‎habis dilenyapkannya.

‎Sepasang mataku kian merapat—

‎memejam,

‎Selepas kandas sudah

‎seluruh sisa tenagaku yang terjaga.

‎Maka di menit terakhirku—

‎sebelum nyawa terbang ke permukaan,

‎berpulang ke langit tergelap

‎di penghujung sana…

 

‎Sebelum itu,

‎biarkan bibir yang dipaksa terkatup ini, mengirim pesan tanpa suara;

‎Berjuta pesan yang digaungkan hati—

‎yang tak kuasa terseret mendampingi kematian,

‎mencapai abadi.

 

‎Untuk lotus—

‎yang pernah bermekaran dengan liarnya,

‎dan untuk sepasang kaki ini

‎yang pernah tiada henti menari.

 

‎Juga,

‎untuk sebuah kisah yang kiranya terpatri abadi;

‎Walau sebatas terpajang

‎dalam peliknya ruang sanubari.

‎Salam rindu—

‎yang sepanjang waktu mengadu

‎di tiap harinya;

‎Dari Nona Mawarmu,

‎dari seonggok Lumut yang pernah Bermahkotakan Mawar,

‎sebut saja ia begitu.

‎Kali ini,

‎aku lah yang berpamit.

‎Kali ini,

‎aku lah yang pergi.

Selamanya,

‎melampaui sementara.

I’m an Angsty-Romance writer; I really love making some Slices of Cake that we used to call it life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!