Hidup Kita Semua Berantakan dan Ini yang Kita Butuhkan: Membaca Single “Aku Rindu” oleh Koil

Dewa 19, Sheila On 7, Gigi, dan Padi adalah band yang sering kali dirujuk untuk urusan lagu dengan tema-tema percintaan hingga patah hati, setidaknya tahun 2000-an begitu. Iya, kan?

Sementara sekarang mungkin yang lebih sering didengar adalah nama-nama seperti Bernadya, Idgitaf, Payung Teduh, dan lain-lain.

Dalam perkembangan artistik, terutama yang berkecimpung dalam genre pop atau jenis musik arus utama, tema patah hati serta kerinduan menjadi peluru paling jitu jika tujuannya memang menembak pasar. Secara lirik, sebenarnya lagu-lagu seperti ini merangkum perjalanan batin atau bahkan pengalaman musisi dengan sangat personal, yang relate dengan banyak orang. Sehingga tidak mengherankan jika penulisan liriknya sering kali dibuat melankolis dan bahkan memengaruhi aransemen musiknya. 

Namun, jika dicermati, dari segi penulisan lirik, para musisi cenderung mengemas tema tersebut dengan pendekatan yang puitis, lebih menonjolkan sisi emosional yang dialami sang musisi, dan tidak menjelaskan secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi di balik tema yang dibawakan.

Ya, wajar-wajar saja, sih. Namun, ada juga beberapa musisi yang dengan gamblang menjelaskan tentang apa yang melatarbelakangi tema lagu mereka, dan satu diantaranya adalah Koil.

Jika Bernadya dengan lagu “Satu Bulan” miliknya mendeskripsikan perasaan life after breakup para remaja atau Nadin Amizah yang menceritakan kisah cinta seorang perempuan gila dalam lagu “Rayuan Perempuan Gila”, maka Koil melalui sang vokalis, Aryo Verdiantoro, atau biasa disapa Otong Koil, memiliki “Aku Rindu”.

Lagu ini terdapat di album repackage yaitu, “Blacklight” yang sebelumnya berjudul “Blacklight On Sunshine” yang dirilis tahun 2007. Di album repackage ini, Koil menambahkan dua lagu baru, yaitu “Suaramu Merdu” dan “Aku Rindu” sekaligus dua lagu remix, yaitu “Aku Lupa Aku Luka” remix dan “Sistem Kepemilikan” remix.

Secara konsep, “Aku Rindu” diciptakan oleh Otong dan Doni sebagai lagu penutup di album yang penuh dengan nuansa muram dan sinis ini. Doni selaku gitaris berhasil meracik komposisi lagu yang memiliki nuansa cerah sekaligus menjadi jalan akhir dari seluruh kegelapan di trek-trek sebelumnya.

Penggunaan tangga nada E mayor yang sesekali mengambil secara paralel akor dari tangga nada E minor setiap kali lagu mencapai baris terakhir lirik berhasil menciptakan kegetiran, seolah-olah Koil tidak henti-hentinya menghujani pendengarnya dengan suasana gelap, sinis, dan muram sekalipun ini adalah jalan keluar dari album “Blacklight”.

Sementara di sektor lirik, Otong sukses menampar setiap pendengar lagu ini bahkan jika orang itu tak mendengarnya secara saksama sekalipun. Lagu ini sebenarnya adalah ode masyarakat urban yang realistis dan tak memiliki kata-kata pemanis berlebihan.

Ungkapan semacam,

Berusaha mencari uang, berjudi, berlari melupakan cinta kita, hidup kita yang berantakan 

adalah potret realita yang akan sangat mudah kita temui di kehidupan sehari-hari masyarakat urban Indonesia. Bahkan di tahun 2026, ungkapan lirik tersebut menjadi semakin nyata dengan maraknya perjudian, krisis rumah tangga, hingga meningkatnya kasus KDRT dan perceraian.

Sementara itu, ungkapan lainnya yang lebih menohok adalah,

Orang bilang masa depan hilang saat kita terbang tak berpendidikan tak bergelar panjang, tanpa pengalaman 

Satu ungkapan paling keras yang diletakkan sebagai lirik pembuka di bagian verse pertama lagu ini. Otong seolah-olah hendak mengatakan sebuah realitas pahit tentang standar sukses seseorang yang dinilai dengan deratan gelar akademik yang panjang di belakang nama mereka.

Masyarakat menilai bahwa orang seperti itu sudah ada di atas awan dan pasti memiliki banyak pengalaman, sementara orang yang tidak memiliki hal itu akan dicap sebaliknya bahkan dipastikan tak memiliki masa depan.

Jika dilihat secara keseluruhan dari sisi lirik, Otong berhasil memotret kondisi yang sebenarnya lumrah terjadi di Indonesia, kondisi seseorang merindukan sosok yang sangat disayanginya sembari menghadapi kehidupan yang sangat tidak berpihak kepadanya.

Bahkan ketika akhirnya rasa rindu sudah berada di titik nadir, kita kadang harus dikalahkan seperti pada penggalan lirik, Ku belah laut biru pun kita tidak bertemu.

Pada akhirnya, Koil berhasil menciptakan sebuah lagu cinta yang tak over melankolis atau narasi-narasi romantisasi dangkal, melalui trek “Aku Rindu” Koil sukses membungkus kisah percintaan yang muram sekaligus begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!