

Dunia mendadak menyempit di antara helaan napas yang berat dan aroma tajam antiseptik yang menusuk hidung. Bagi penulis sepertiku yang baru saja merilis novela debutnya, Baron Kéde dan Kisah yang Belum Usai, hidup tidak lagi terasa seperti barisan kalimat yang bisa disusun sesuka hati.
Di dalam mobil operasional yang melaju terburu-buru, aku merasa dadaku seperti dihimpit beton panas. Oksigen dipaksakan masuk melalui selang, sementara wajah rekan-rekannya yang pucat kuingat dengan samar, bersamaan dengan suara-suara yang memintaku untuk bertahan dan bersabar, meskipun saat itu aku amat sangat kesusahan untuk sekadar menghirup udara.
Tidak banyak hal yang dapat kuingat saat maut seolah parkir di pintu kesadaran. Laci ingatanku hanya menyisakan kepingan fragmen yang membekas. Aku bahkan tak sadar kapan sepatu kerjaku terlepas di tengah kepanikan orang-orang yang membopongnya. Mungkin saat ini sepatuku tergeletak di halaman tempat motor terparkir, atau dekat tong sampah di tempat kerjaku itu. Ketika akhirnya tubuhku dibaringkan di atas kasur rumah sakit, kaus kakiku tinggal sebelah, menyingkapkan telapak kaki yang telanjang di hadapan tatapan orang asing. Ketidak berdayaan itu terasa seperti penelanjangan harga diri bagi seorang lelaki. Pada saat itu, aku merasa nyawanya berada di ujung kuku, hampir lepas bersama hilangnya identitas pekerja yang melekat pada sepatu yang hilang tersebut.
Empat hari lamanya aku hanya terbaring. Kamar rumah sakit menjadi semesta kecil tempatku bergelut dengan rasa pesimis yang merayap perlahan. Di atas ranjang yang kaku, kulihat langit-langit yang putih polos. Entah mengapa pikiranku hinggap pada cerita Gregor Samsa, tokoh ciptaan Franz Kafka. Dulu, sewaktu membaca The Metamorphosis, rasanya tak ada kesan istimewa yang menempel dibenakku.
Aku mengagumi teknik Kafka bercerita, namun kisah itu terasa seperti dongeng surealis yang jauh dari jangkauan pikiran. Namun kemarin, saat tubuhku ambruk, barulah kusadari bahwa Kafka tidak sedang bercanda. Meski Samsa ditulis seratus sebelas tahun yang lalu, kemuramannya diingat sampai hari ini, dan kini aku merasakan kemuraman itu meresap ke dalam diriku sendiri sebagai kenyataan yang dingin.
Aku dan Samsa berdiri di ambang pintu yang sama: ketidakberdayaan untuk bekerja. Samsa terbangun dan menyadari dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa yang menjijikkan. Ia sendiri mungkin tidak berubah wujud secara fisik, namun di mata sistem yang memuja produktivitas, ia merasa telah menjadi sesuatu yang asing. Sebagai lelaki, ia sering merasa bahwa dirinya hanya dipandang sebagai mesin pencetak uang. Ketika mesin itu rusak dan berhenti berputar, ia merasa payah. Kepada keluarganya mungkin ia tidak banyak bicara, tidak banyak bercerita mengenai apa yang ia takutkan. Tetapi ketakutan adalah hal nyata yang merembes ke dalam kepalanya, memenuhi setiap sudut pikirannya yang paling gelap.
Keluarga dan teman-teman datang silih berganti menjenguk, membawa buah dan doa-doa pendek. Kulihat bibir mereka bergerak, namun yang kudengan hanyalah dengung samar. Di antara merekayang datang menjenguk, hadir pula teman perempuanku.
Perempuan itu duduk di samping ranjang, menatapku dengan pandangan yang maknanya bercabang-cabang. Aku menangkap gerak hatinya yang ingin menggenggam tanganku untuk menyebarkan persaan tenang, untuk setidaknya menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, namun jemarinya terasa lemah.
Kehadiran orang-orang itu justru mempertegas jarak antara diriku yang nyaris lumpuh dan dunia luar yang terus berlari kencang tanpa peduli pada satu unit mesin yang sedang malfungsi.
Aku mulai memikirkan kematian dan rasanya menakutkan sekali, namun bukan kematian itu sendiri yang paling kucemaskan. Ketakutanku adalah kemungkinan dilupakan sebelum karya yang kutulis benar-benar dibaca orang. Aku takut kehilangan kesempatan untuk menulis lebih banyak lagi, meninggalkan ide-ide yang masih mengantre di kepala. Kematian berarti terputusnya akses menuju hal-hal sederhana: rasa gurih bebek goreng favoritku atau aroma buku baru. Aku meratapi kemungkinan bahwa diriku tidak akan pernah lagi bertemu orang baru, belajar hal baru, atau membaca ulang karya Alejandro Zambra meski ia sudah pernah melakukannya berkali-kali.
Aku teringat apa yang pernah disiratkan Alejandro Zambra tentang sastra dan kenangan, bahwa sering kali kita menulis untuk menambal lubang yang ditinggalkan oleh masa lalu atau sosok ayah. Zambra bicara tentang bagaimana kita terus-menerus membaca ulang hidup kita sendiri seperti sebuah draf yang tak pernah selesai. Kini, aku merasakan kecemasan yang sama tentang masa depan yang belum terwujud. Aku takut kehilangan kesempatan untuk menikah dan memiliki anak. Ada kepedihan saat membayangkan diriku gagal hadir sebagai ayah yang utuh, kehadiran yang dahulu sulit kudapatkan dari ayahku sendiri. Aku ingin memutus rantai ketiadaan itu, namun tubuhnya yang ringkih seolah menertawakan rencana tersebut.
Dalam novela yang kutulis, aku meniru gaya Kafka dengan sengaja. Aku membuka cerita dengan konflik yang langsung menghantam pembaca di halaman pertama. Namun kini, persoalan yang kuhadapi jauh lebih nyata. Aku sedang berhadapan dengan ketakutan yang ditularkan oleh Samsa. Aku jadi takut jadi tidak berguna.
Sistem kapitalisme tidak mengenal empati bagi mereka yang terbaring diam menatap tetesan infus. Di bawah tuntutan sebagai penyokong keluarga, kegagalan untuk bekerja terasa seperti dosa yang tidak terampuni. Peran lelaki sebagai provider adalah narasi yang mencekik saat tubuh tidak lagi mampu diajak kompromi. Aku merasa sedang bermetamofosis dari subjek yang menciptakan cerita menjadi objek yang hanya diamati dan dirawat. Aku merasa seperti Samsa yang perlahan disisihkan karena tidak lagi bisa membawa pulang upah dalam amplop cokelat.
Tulisan yang selama ini menjadi pelariannya kini terasa seperti cermin retak. Aku menyadari bahwa ketakutan terbesarku bukanlah kematian yang gelap, melainkan kehilangan fungsi di tengah keramaian. Aku takut jika suatu pagi aku terbangun dan menyadari bahwa aku telah permanen menjadi beban yang tidak produktif. Di tengah sunyinya ruang perawatan yang hanya diisi detak jam dinding, ia merenung dalam keputusasaan yang dingin. Bukankah selama ini ia memang takut terbangun dan tidak menghasilkan apa pun?