Aku Menyapa Diriku “Bonjour” setelah Mendengar The Jeblogs!

Sumber cover: Tangkapan layar dari Youtube The Jeblogs – Bonjour (Official Music Video)

Kulumat buku demi buku, berpindah diriku dari gigs satu ke gigs lainnya, membawa sepeda motor karbuku dari jalan yang entah. Hari esoknya, kuseret paksa tungkaiku hingga untuk pertama kalinya, rekor jarak tempuh lariku melampaui rekor maksimum pelari beken dari kecamatan tetangga—walau secara pace tetap kalah jauh, sih. Esoknya lagi, beradu mataku dengan joran yang sesekali membungkuk saat kailnya disambar. Mancing mania! Mantaaap~

Hari demi hari kuhadapi dengan mengerjakan semua hal untuk memangkas 24 jam yang amat panjang. Terlampau gabut sampai aku bersedih ria atas rangkaian pengalaman yang saat itu inginnya kutelantarkan saja.

Aku sempat menyimpulkan bahwa aku cukup memiliki kapasitas untuk abai terhadap pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan seperti berbagai rencana yang gagal, bahkan gagal pun belum, yang tak lebih dan tak kurang bagai mencicil siksa di dunia.

Betapa dongkol aku waktu ini pikiran secara otomatis menghubungkan kegagalanku memancing ikan dengan kegagalan atas segenap rencana besarku. Juga kesal sejadi-jadinya saat asyik berjingkrak di tengah gigs lalu teringat bahwa lagu yang sedang dimainkan adalah lagu yang juga mengiringi percakapan sore, beberapa hari sebelum semuanya berakhir. Rupanya menumpuk pengalaman seperti ini tidak banyak membantu. Malah membuat hatiku kian aus saja. 

Nah, di waktu-waktu gabut sampai merenung berkepanjangan, mendengar musik adalah satu caraku mengisi kekosongan, biar tak mampus diriku dikoyak-koyak sepi~

Satu lagu di urutan teratasku adalah singel Bonjour milik The Jeblogs. Dirilis di penghujung tahun 2020, Bonjour merupakan lagu yang amat reflektif. Mendengarnya dini hari ditemani kopi susu favorit adalah kombo yang menjadikanku bergumam, Duh, Gusti 33x.

Akan tetapi, aku tidak akan membahas mengenai komposisi Bonjour. Aku ingin mencoba memetakan peranannya dalam segenap perjalanan perenungan atas diriku sendiri.

“Bonjour bercerita tentang pertemuan. Dalam video kami mengajak teman-teman untuk bercermin sebagai jalan untuk bertemu dengan diri mereka sendiri. Menilik lagi apa-apa saja yang sudah dilalui sampai sejauh ini; tangis tawanya, hitam putihnya, dan hal-hal lain di antaranya. Sebagai upaya untuk menerima diri sendiri dan melihat lagi cita-cita yang sudah diperjuangkan sampai sejauh ini. Selamat mencoba. Katakan bonjour untuk dia yang kamu temui di dalam cermin.”

Layaknya batu yang dihantamkan keras-keras, kalimat Mas Amir dalam penutup video musik Bonjour itu, sungguh, memunculkan nyeri yang menguar di ulu hatiku. Rupanya diriku terlampau lihai menganalisis lapisan-lapisan perasaan dan respons emosiku, namun luput untuk menemui diriku sendiri. Diriku sendiri lah sebagai subjek yang menjadi prasyarat munculnya rupa-rupa perasaan itu. Menyadarinya, aku memutar Bonjour sekali lagi, mencoba mengembalikan sense-ku dalam mendengar musik—yang kupikir telah cukup lama terkubur dalam diriku—yaitu mengalaminya. 

 

Kau lihat tanganmu

Seolah kau baru

Terlahir kembali

Menjadi layaknya manusia 

 

Baris lirik di ataslah yang membantuku melambat untuk mengakses pengalamanku terhadap perasaanku.

Visualisasi yang ditampilkan di sepanjang video musik ini adalah individu-individu yang duduk di depan cermin, melihat pantulan visual mereka di dalamnya, lalu memperlihatkan ragam reaksi secara gradual dari yang mulanya diam.

Sependeknya pemaknaanku terhadap keterhubungan antara lagu dengan visualisasinya adalah dalam segenap upaya menghadapi kerasnya kehidupan, rupanya kita perlu menemui diri sendiri. Iya, seperti melepas jangkar, memberi kesempatan bagi diri kita untuk berhenti sejenak, merasa, dan mengalami segala bentuk perasaan yang kita miliki: senang, sedih, kecewa; sebaik-baiknya maupun seburuk-buruknya, apa pun lah itu. 

Oleh karena itu, ketika The Jeblogs mengajak untuk bercermin, aku melakukannya juga. Beneran, deh. Aku menyambangi diriku, mendekapnya.

Dalam pantulan cermin, aku melihat diriku yang saat ini, yang dibentuk oleh rangkaian pengalaman sekaligus perasaan yang menyertainya. Pun tidaklah berlebihan jika kukatakan bahwa pada akhirnya aku menangis dengan jujur tanpa menahan perasaan sebiji zarah pun. Sungguh tiada lagi kesedihan yang mampu kutahan saat aku menyadari luputnya menyambangi diri ini. 

Setelah berjumpa dengan diriku, aku berpikir bahwa aku perlu mendefinisikan ulang pemaknaanku dalam merasa. Sepanjang timelineku, merasa kupahami sebagai pengalaman yang mesti cepat-cepat dilalui. Mengintelektualisasi kompleksitas perasaan, memetakannya, mempertanyakan hal-hal semacam

Bagaimana ia muncul?

Apa saja yang membuatnya menjadi besar?

Apakah produktif atau kontraproduktif?

Bagaimana aku akan meresponsnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang menjadi jadwal rutinku. Aku selalu menginginkan jawabannya hingga aku terlampau berjarak dengan perasaan-perasaan yang kumiliki, yang tertinggal jauh di belakangku sebelum aku sempat mengalaminya. Aku seolah memblokir akses bagi diriku dalam merasa.

Merasa adalah keniscayaan. Aku perlu mempersilakan diri untuk mengalaminya, sebaik-baiknya dan seburuk-buruknya

Dengan mempersilakan diri untuk merasa, aku memahami respons emosi yang (harusnya) kupilih. Sungguh, memilih respons emosi dengan bijak benar-benar banyak membantu dalam membentuk resiliensi diri, sekaligus merupakan wujud menghargai diri berikut berbagai pengalaman yang menyertai. Pun ketika aku membiasakan diri untuk merasa, aku mulai merekognisi fragmen-fragmen menyenangkan dalam kehidupan, yang selaras dengan penggambaran The Jeblogs melalui Bonjour, yang tertuang dalam lirik berikut:

 

Aku engkau

Dengarlah nyanyian angin

Lampu kota yang remang

Sinarnya terangi kesepian

 

Hari-hari ini, menyaksikan sinar-sinar lembut sang surya (tanpa polutan), dedaunan terhembus menapak tanah, dan tempias hujan dari atap gazebo bagiku adalah peak moment dari mengalami kehidupan. Persis seperti penggambaran rekognisi atas lampu kota yang remang dalam potongan lirik di atas. 

Kupikir aku tidak akan bisa menyadari detail-detail kecil dalam hidup apabila aku tidak—atau memilih untuk tidak—menemukan diriku. Oh, dan menariknya, aku punya personal favorite take perihal menonton film—yang setelah kupikir-pikir cukup beririsan dengan hal ini—bahwa menonton film, tuh, sejatinya ya mengalami film tersebut.

Mengalami dalam artian benar-benar merasakan pengalaman imersif dari audio dan visual yang disajikan. Misalnya, hanyut dalam kesedihan saat menyaksikan adegan long-take ketika tokoh utama memutuskan menyerah atas perasaan terhadap kekasihnya di bibir pantai, lalu lagu bernada minor perlahan terdengar, atau gemetar sebadan-badan saat atmosfer eerie yang melingkupi adegan menjelajahi bangunan terbengkalai tiba-tiba berubah menjadi horor maksimal saat efek suara heavy brass menyentak bersamaan dengan munculnya sekelebat figur amorf. Barangkali, kehidupan juga mesti dialami sedalam itu—atau mestinya lebih dalam, mengingat kehidupan adalah realitas.

Saat menyadari hal ini, aku terpikir, “Aduh, kenapa enggak terpikirkan soal ini dari kemarin-kemarin, ya?”

Akan tetapi, tidak apa-apa, toh pada akhirnya, seburuk-buruknya hal yang terjadi padaku adalah belajar. Belajar memahami segenap peristiwa yang telah dilalui, sebab hidup adalah belajar~

Refleksi panjang ini juga mengantarkanku pada pemahaman baru perihal resiliensi diri. Dalam upaya-upaya pembentukan resiliensi diri, memilih coping mechanism yang sesuai tentu merupakan suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Namun, bagian paling esensialnya adalah diri sendiri. 

Bagaikan kapal dan jangkar, diri ini adalah kapal, dengan coping mechanism sebagai jangkarnya. Kadang, perlu juga jangkar itu dilepas untuk memberi jeda biar bisa kembali merasa, dan di waktu lain, ia kembali ditarik, mendorong diri untuk kembali menghadapi naik-turunnya kehidupan.

Bonjour adalah jangkar yang membantuku memperluas wilayah perenunganku, hingga aku dapat menjumpai diriku. Mengenal perasaan-perasaan yang kumiliki sekaligus membiarkan diriku merasa, serta mengalami kehidupan ini secara penuh.

Menemukan diriku sendiri adalah pengalaman paling manis. Aku senang sekali telah membiarkan diriku untuk merasa dan mengalami kehidupan. Kehidupan dengan segenap kompleksitas peristiwa dan perasaan, yang dengannya aku menjadi diriku saat ini. Kehidupan tidak selalu berjalan semau diriku, memang. Meski begitu, aku senang memiliki akses untuk mengalaminya. Saat ini, menavigasi ulang arah kehidupan menjadi jauh lebih ringan—dan menyenangkan tentunya! 

Terima kasih atas melodi Bonjour yang indah, ya, The Jeblogs! Sebab karenanya, hari ini, di dalam cermin, aku menjumpai diriku, mendekapnya dengan cinta, lalu menyapa bonjour padanya!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!