

Pagi itu Ruth kembali berdiri di depan wastafel. Air mengalir membasahi jemarinya yang mulai memerah sebab terlalu lama bersentuhan dengan sabun. Piring-piring bekas makan malam semalam masih bertumpuk. Ia menghela napas pelan, lalu mulai mencucinya satu per satu.
“Jaga suamiku, Tuhan. Ampuni dosanya.”
Doa itu mengalir bersama pekerjaannya setiap hari. Dua tahun terakhir telah mengubah banyak hal. Lelaki yang dulu pulang selalu tertawa kini malah jadi marah melulu.
Gaji lenyap tak tersisa, tagihan datang tanpa henti, dan tabungan yang mereka kumpulkan habis. Ruth baru tahu penyebabnya ketika satu malam suaminya mengaku dengan suara bergetar, bahwa ia telah terjerat judi online.
Setelah pengakuan itu, Ruth hanya diam saja memandangi wajah suaminya.
Ia ingin marah dan meneriaki suaminya yang tega mempertaruhkan masa depan keluarga mereka. Namun yang keluar dari bibirnya hanyalah isak.
Sejak saat itu doa menjadi satu-satunya hal yang tak pernah ia lewatkan. Saat mencuci beras, mengaduk sayur di atas kompor, menjemur pakaian, membersihkan rumah, bahkan ketika duduk sendiri di depan sepiring nasi sederhana, bibirnya selalu berbisik,
“Jangan biarkan dia semakin jauh dari-Mu.”
Hari-hari berlalu tanpa jawaban yang dapat dilihat mata. Ada pagi ketika Ruth membuka dompet dan menghitung lembaran uang yang tersisa sebelum pergi ke pasar, malam ia pura-pura sudah kenyang agar suaminya mau menghabiskan porsi makan terakhir. Pernah pula ia memandangi cincin di jari manisnya cukup lama, bertanya dalam hati
“Haruskah aku lepaskan cincin ini demi menutup satu lagi tagihan yang jatuh tempo?”
Di setiap kegelisahan itu, doanya tetap sama. Bukan meminta hidup yang mudah, melainkan memohon agar hati suaminya tidak sepenuhnya dikuasai oleh keputusasaan. Sebab Ruth percaya, selama hati itu masih dapat disentuh Tuhan, selalu ada harapan yang bisa dipertahankan.
Air matanya jatuh di antara busa sabun, larut bersama air cucian yang mengalir ke saluran pembuangan. Sebagian lagi membasahi rendaman pakaian, pintu kamar mandi, dan bantal yang ia tiduri.
Musim berganti, tetapi rumah itu tetap belajar bertahan dengan segala kekurangannya. Utang belum lunas dan hidup mereka masih pas-pasan.
Suaminya tak lagi mengunci ponsel setiap kali Ruth mendekat. Suatu malam ia berkata lirih, “Hari ini aku hampir tergoda lagi … tapi aku tidak ingin kembali ke sana.”
Ruth hanya menatapnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat penyesalan yang sungguh-sungguh di mata lelaki itu.
Malam itu Ruth terbangun karena mendengar suara yang tertahan dari ruang tamu. Ia mendapati suaminya duduk sendirian dalam gelap, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Ruth tidak bertanya apa pun. Ia hanya duduk di sampingnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lelaki itu tidak menepis kehadirannya.
Beberapa bulan kemudian, saat Ruth sedang melipat pakaian, suaminya berdiri di ambang pintu.
“Besok … boleh aku ikut ke gereja?”
Tangan Ruth terhenti. Ia mengangguk pelan, sementara matanya mulai basah.
Keesokan harinya mereka duduk berdampingan di bangku gereja. Ketika pujian dimulai, seluruh jemaat menyanyikan lagu yang sudah begitu akrab di telinganya.
“…dunia takkan sanggup menjauhkanmu dari-Ku…”
Ruth memejamkan mata.
Di sampingnya, suaminya ikut menyanyikan lirik itu dengan suara lirih. Lelaki yang pernah tenggelam dalam jerat judi online kini berdiri dengan kepala tertunduk. Sebuah firman melintas dalam benaknya.
“Berbahagialah orang yang Tuhan berkenan kepadanya.”
Air mata Ruth kembali jatuh.
Ruth tahu, doa-doanya memang tidak menghapus semua akibat dari masa lalu. Utang itu tetap harus dilunasi, kepercayaan tetap harus dibangun kembali, dan kehidupan mereka masih meminta banyak pengorbanan, tapi waktu ia memandang suaminya berdiri di sampingnya, menyanyikan pujian dengan mata yang terpejam, Ruth baru ngerti.
Tuhan sedang bekerja memulihkan hati.
Nama penanya Elencelia. Menapaki dunia kepenulisan melalui cerpen dan novel yang dipublikasikan di berbagai platform daring. Instagram @eleonoracr9
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!