

Buku karya pertama memiliki makna yang sangat mendalam bagi seorang penulis, melampaui sekadar produk komersial. Ia sering dianggap sebagai tonggak pencapaian, bukti ketahanan menulis dan permulaan bagi karir seorang penulis.
Beberapa waktu belakang, Mas Agung baru saja menerbitkan buku pertamanya (novela) yang berjudul Baron Kédé dan Kisah yang Belum Usai di penerbit buku indie sejagat Purwakarta, Pustakaki Press. Untuk mengulik informasi tentang bagaimana proses menulisnya, Minpang mencoba untuk berbincang dengan Mas Agung R. Efendi. Berikut petikannya.
Halo, Mas Agung! Apa kabar?
Kabar baik, Minpang.
Mas Agung tuh asalnya dari mana?
Saat ini saya tinggal di Subang, Mas.
Baron Kédé dan Kisah yang Belum Usai itu bercerita tentang apa, Mas?
Kalau ditanya gitu saya agak bingung, sih. Mungkin jawaban sederhananya, Baron Kédé dan Kisah yang Belum Usai tuh bercerita soal seorang detektif partikelir bernama Baron. Ia kidal dan bertubuh gempal, menawarkan diri untuk memecahkan kasus pembunuhan. Persoalan-persoalan yang ia hadapi sangatlah rumit. Bahkan salah satu persoalan tersebut berkaitan langsung dengan hidup si Baron.
Kédé itu maksudnya kidal bukan?
Iya, Minpang. Kédé itu kidal. Saya tuh seneng banget sama istilah kidal terutama karena anggapan bahwa tangan kiri itu tangan yang tidak baik. Namun, si Baron malah sering menggunakan tangan itu untuk kegiatan yang menurutnya baik. Menolong orang lain, misalnya.
Berapa lama Mas Agung menulis novela ini?
Novela ini tuh sebetulnya selesai di tahun 2022. Saya masih ingat tentu karena saya pernah kirim draft ini ke penerbit lain, namun nasibnya kurang mujur. Setelah itu, draft ini saya simpen aja di Google Drive. Kalau-kalau lagi nggak ada kegiatan, saya tulis ulang sedikit-dikit.
Kalau hambatan dalam nulis novel ini apa, tuh? Soalnya novel kan tulisan panjang gitu. Kalau Minpang, sih, sering tergoda buat ganti judul di tengah proses gitu.
Kalau hambatan tentu ada. Terutama soal bentuk penceritaan. Yang paling sederhana dan cukup memakan waktu karena harus menulis ulang adalah sudut pandang penceritaan. Di novela ini tuh saya menggunakan kata ganti orang kedua, yakni kau. Sehingga yang bercerita dan membantu menyelesaikan kasus itu bukan si Baron, melainkan sesuatu yang ada di kepalanya. Sesuatu yang sering kali mendebatnya. Sesuatu yang cerewet dan pada banyak kesempatan itu sok tahu.
Sebetulnya saya itu nggak mikirin judul sejak awal. Yang saya lakukan itu cuma nulis, meski terseok-seok. Setelah semuanya saya rasa cukup, baru nyari judul yang pas.
Nah, Mas Agung belajar nulis dari mana, nih? Ikutan kelas menulis atau emang otodidak aja?
Saya nggak pernah ikut kelas, mas. Tapi pasti setelah ini akan ikut karena pengin meningkatkan kualitas penulisan. Tapi, saya cukup melahap banyak video di Youtube mengenai caranya story telling, bahkan tutorial stand-up karena saya rasa itu bentuknya sama saja mengenai struktur penceritaan. Kalau dari buku, sih, yang paling membantu adalah Save The Cat, meskipun saya nggak pandai menerapkannya, sih.
Sebelum suka nulis pasti suka baca juga dong. Sejak kapan Mas Agung suka baca?
Nah, ini menarik bagi saya. Karena saya itu baca buku, terutama fiksi secara diam-diam. Buku-buku yang saya baca adalah buku yang ada di kamar kakak saya. Saya itu anak kedua dari kedua bersaudara. Umur kami itu lumayan jauh sehingga sewaktu saya SD, dia sudah kerja. Nah, di waktu ketika ia kerja, saya masuk ke kamarnya untuk baca buku, tentu secara diam-diam. Itu tuh terjadi sewaktu saya SD kalau saya nggak salah. Setelah itu, yang menyengajakan diri untuk membaca adalah waktu SMA, sambil sesekali belajar nulis.
Bagaimana perasaan Mas Agung ketika akhirnya berhasil menerbitkan buku pertamanya?
Jujur saja, rasanya aneh. Sekarang saya memiliki bukti fisik yg bisa dikritik orang lain secara resmi. Pada hari ketika Pustakaki menyatakan bahwa manuskrip saya akan terbit, saya sempet ngerasa satu masalah telah selesai. Namun, setelah hari itu, muncul masalah baru: saya harus menjelaskan alasan saya menulisnya, terutama kepada diri saya sendiri.
Mungkin ada ketakutan akan dicaci maki karena kualitasnya yang buruk. Namun, akan terasa lebih buruk dan berat jika saya tidak menyelesaikannya. Saya akan jauh lebih lelah jika harus terus-menerus menulis ulang tanpa henti. Buku ini memang harus selesai, karena hanya dengan menyelesaikannya, saya jadi punya kesempatan untuk menulis dengan lebih baik di kemudian hari.
Apa yang membuat Mas Agung akhirnya memutuskan menerbitkan bukunya di Pustakaki Press, ketimbang Penerbitan lain?
Setelah ditolak sana-sini, saya tuh nyimpen naskahnya. Semenjak saat itu, saya memutuskan untuk menganggap menulis itu adalah hobi dan nggak punya ambisi yang besar. Sehingga, sebetulnya, naskah itu nggak jadi barang apapun nggak masalah.
Sampai hari di mana Obit (Robiatun Nihayah, teman dekat saya yang menggambar ilustrasi sampul novela ini) di-hire sebagai ilustrator buku anak. Tahu bahwa dia punya buku, meskipun ia hanya sebagai ilustrator, keinginan nerbitin buku tuh kembali muncul. Maka pertama kali yang terpikir itu Pustakaki karena, sependek yang kutahu, ia tuh tumbuh bersama komunitas lokal yang nggak jauh-jauh banget. Saya tuh sedari dulu mikir bahwa profesi penulis itu jauh sekali secara jarak dan akses, misalnya di Yogya dan hanya segelintir orang yang bisa ketemu dan seterusnya, dan seterusnya.
Tapi ternyata deket. Karena deket itulah mungkin jadi berani untuk mencoba memulai, nggak ngerasa inferior seperti terhadap penerbit yang besar.
Iyalah, bosen juga ih apa-apa Jakarta, apa-apa Jogya. Purwakarta, Subang dan Karawang atau pun kota lainnya bisa saja tentunya.
Mas Agung kan asalnya dari Subang. Kalau di Subang ada komunitas literasi gak?
Meskipun saya saat ini tinggal di Subang, saya sebetulnya lebih sering ke Cikampek karena dulu SMA di sana. Di dua tempat itu, nggak ada satupun komunitas literasi yang saya tahu dan/atau coba untuk gabung. Bukan karena enggan, lebih karena malu. Mungkin setelah ini akan coba untuk berani berkomunitas. Lebih-lebih, jauh di dasar hati saya, saya itu lebih senang menulis puisi ketimbang prosa. Saya pengin banget datang ke acara puisi dan coba untuk open mic, sharing, dan seterusnya.
Kecuali mungkin halamanbelakang.org, itu pun saya rasa belum menjadi komunitas secara utuh. Tetapi baru sekadar platform untuk berbagi karya tulis.
Terima Kasih atas kesempatan wawancaranya Mas Agung!
Semoga lancar segala apa yang dikerjakannya!
Terima kasih juga, Minpang!