“Aku mengira, seandainya pohon-pohon beragama […] masihkah kita disebut sebagai manusia?” —Eko Triono: Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?

Bersama Aroka Fadli, koordinator Jaringan Gusdurian Purwakarta, kami ikut merayakan Trisuci Waisaka bersama jamaah Budhis di Vihara Budhi Dharma Purwakarta. Semacam Idul Fihtrinya umat Budhis. Benar-benar pengalaman yang mendebarkan. Beririsan langsung dengan orang yang berbeda agama, literally dalam ibadah mereka pula. Jadi bukan sekadar (dikira ikut-ikutan tradisi agama Kristen) mengatakan “Happy New Years” lagi.

Seandainya penggagas Gusdurian Purwakarta bukan Aroka yang notabene sohib sejak SMA, saya tidak mau ikut-ikutan masuk Vihara di bulan Ramadhan. Saya takut. Orang buka warung siang-siang saja diseruduk, gimana kalau dengerin tausiyah dan berdoa di Vihara saat berpuasa, coba?

Saya duduk di barisan paling depan dengan Vani, (ketua Remaja Budhayana, semacam Remaja Masjid-nya gitu lah). Sementara Aroka duduk di belakang saya dan entah apa yang dia pikirkan. Saya ikut merunduk saat prosesi doa, menyaksikan pembacaan pujian dan nyanyian oleh anak-anak, dan tentu saja menyimak ceramahnya. Kami ikuti semua proses ibadah itu dari tengah-tengah sampai akhir, kecuali pas makan prasman saja. Kan puasa.

Saat berdoa tentu saja saya berdoa pada Tuhan yang saya yakini, Allah Swt. Saya tidak bi(a)sa berdoa pada yang lain. Dalam doa itulah saya rasakan hal yang berbeda. Berdoa secara Islam di depan deretan simbol-simbol keagaman Budha, sekaligus menujukan doa itu bukan pada sang Buddha. Saya jadi teringat bagaimana di dalam shalat, seringkali yang saya pikirkan adalah apa saja selain sifat ketaatan dan ketundukan pada yang ilahi.

Sholat saya selalu merasa teralihkan oleh bacaan imam yang buruk tajwidnya, tulisan #2019gantipresiden atau Jokowi Presidenku di punggung kaos orang, atau aroma mulut orang. Intinya saya terganggu oleh apa saja selain penggambaran seorang Sahabat Nabi saat shalat—yang membayangkan neraka berada di sisi kiri dan surga di sisi kanannya.

Intinya, sering kali kekhusyukan justru terasa jauh dari kegiatan-kagiatan yang dimaksudkan demikian sejak awalnya. Seperti salat berjamaah dan doa di Vihara itu tadi.

Berdoa di Vihara dan salat di Masjid ini seperti menggunakan 95% perhatian kita buat whatsapp-an dengan teman yang jauh, padahal sedang nongkrong ramai-ramai bareng teman-teman yang lain. Ini sebenarnya teman yang mana sih yang diharapkan hadir saat ini juga. Atau jangan-jangan ini cuma kerja alam bawah sadar kita, berusaha menghindari (realitas) yang ada  di hadapan kita saja?

Saya masih menunduk memikirkan itu sampai kemudian sadar bahwa semua orang  di Vihara ini sedang duduk di atas karpet sajadah, jenis karpet yang biasanya ada di masjid-masjid di barisan makmum. Warnanya merah kadang ada yang hijau gelap, gambarnya Taj Mahal dengan ornamen-ornamen arab begitu. Ya, kalau kamu rajin berjamaah kayak aing pasti tahulah. Wkwk.

Ini gimana ceritanya sajadah bisa sampai di Vihara?

Setelah doa selesai, sesi ceramah pun tiba. Dipimpin oleh dua Suhu yang bersih kepalanya, kuning jubahnya, dan terlihat berat gerakannya dan tampak serius raut wajahnya.

Dalam ceramahnya salah satu suhu banyak bicara soal persatuan Indonesia. Juga tak lupa mengulang-ulang jargon NKRI harga mati, selain soal jalan pencerahan sang Buddha.

Semuanya terasa menenangkan, tapi di bagian “NKRI harga mati” saya merasa ada sesuatu yang lain dan samar-samar. Jika ceramah itu adalah sebuah notasi lagu, bagian “NKRI harga mati” dalam ceramah tersebut seperti bagian yang sedikit sumbang. Seolah-olah ada yang ‘dipaksakan’ di sana. Apakah ini disebabkan saudara-saudara Budhis di Purwakarta termasuk golongan pemeluk agama yang jumlahnya sedikit. Apakah itu sebabnya sehingga “NKRI harga mati” lebih terdengar cemas alih-alih penuh harapan

Soalnya jika memposisikan diri sebagai seorang Budhis di Purwakarta kecemasan semacam itu bisa saja masuk akal. Jika saya adalah suhu yang saat itu memimpin ibadah dan berceramah, lalu tahu ada dua remaja Muslim yang masuk Vihara saya, memberikan sambutan pula, tentu saya musti waspada. Bisa saja kami, dua anak muda kurang kerjaan  yang duduk di depan ini adalah mata-mata atau buzzer-buzzer akun kebencian. Ingat Tretan Muslim dan Coki Pardede?

Belum lagi jika kita mau melihat bagaimana agama “dimainkan” di atas panggung perpolitikan dan wacana-wacana media sosial kita selama lima tahun terakhir ini. Massa sebanyak itu, suara-suara seramai itu tentu mencemaskan siapapun yang merasa dirinya bukan bagian dari massa dan suara tersebut.

Orang seprogresif Gusdur tahu bahwa ada saatnya NKRI harga mati, mungkin akan ada saatnya tidak lagi. Ia mengulang-ulang itu semasa hidupnya karena tahu, slogan itu harus ada saat itu. Tapi mungkin akan tiba masanya NKRI tidak lagi menjadi harga mati. Kita melihat bagaimana Papua habis digerus kekayaannya, dan melihat perlawanan di sana dijawab dengan salak senjata yang berbunyi “NKRI Harga Mati”.

Di zaman Orde Baru, Soeharto menekan semua kekuatan politik yang bisa mengancam stabilitas politik dan keamanan. Dia menyebutnya sebagai dua ekstrem, yaitu ekstrem kiri (komunis) dan ekstrem kanan (Islam). Keduanya ditekan. Orang-orang ditangkap dan dikurung tanpa proses pengadilan. Tindakan itu dilakukan atas nama menjaga Pancasila (tidak jauh berbeda dari “NKRI harga mati) sekaligus mengamankan kepentingannya sendiri.

Sekarang kita melihat bagaimana atas nama agama dan “NKRI harga mati” orang-orang saling menistakan. Kasus bakar kain hitam bertuliskan kalimat tauhid oleh Banser adalah salah satunya.

Jika dahulu yang bertindak semena-mena atas nama “NKRI harga mati” hanya Soeharto. Sekarang siapa saja bisa menjadi “tentara” yang siap mengejar-ngejar kamu sampai ke kamar kosmu. Hanya karena video akun youtube-mu tidak cukup menghibur mereka.

Sampai hari ini masih banyak pertanyaan yang menggema dari hari itu. Tapi bagian karpet-sajadah yang dijadikan alas duduk di Vihara itu seperti menjawab beberapa hal. Seorang kawan di sana bilang: karpet ini disumbang teman muslim kami. Saya manggut-manggut. NKRI harga mati, bisik saya sendiri.

Namun tidak ada yang lebih membikin penasaran daripada karpet itu. Seperti Tretan Muslim dan Coki Pardede bertanya-tanya apa agama bagi daging babi dan air kurma, saya juga penasaran soal karpet itu. Biasa dipakai sholat, gambarnya masjid, tapi sekarang digelar di Vihara. Karpet-karpet ini agamanya apa sih?

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.