Kau adalah seorang siswi sebuah SMA yang bergabung dengan klub lari. Tapi karena cedera Tendon Achilles yang terjadi pada kakimu, kau keluar dari klub dan memutuskan untuk tidak lagi berlari. Kau putus asa dan sedih setiap kali memandang teman-temanmu sedang berlatih berlari.

Suatu hari kau duduk di sebuah restoran. Tidak memesan apa-apa. Kau hanya duduk saja memandang ke luar kafe yang hujan. Seorang pria berumur 40-an mendekatimu dengan seragam khas manajer. Ia memberimu segelas kopi. Lirikanmu mengatakan, kamu tidak suka dengan kehadirannya. Dengan tangannya yang terampil ia menunjukkan padamu trik sulap dan memberimu gula.

Kau tersenyum dan menghabiskan kopimu sampai hujan benar reda.

Tachibana saat mencium kameja manajernya

Sejak itulah kau tertarik dengan restoran itu, terlebih pada manajernya. Kau melupakan mimpi buruk soal kakimu. Kau mulai bekerja paruh waktu di Restoran Keluarga itu sebagai seorang pelayan. Meminta jam kerja tambahan untuk lebih banyak berada di restoran dan menyaksi bagaimana manajer dengan ramah melayani tamu yang datang dan protes soal pesanannya.

Kau menyukai wangi kamejanya. Kau bilang pada seorang lelaki berumur 40-an itu kau menyukainya. Lelaki itu adalah seorang lulusan sastra jepang yang pernah menerbitkan buku dengan teman dekatnya. Kau mengajak lelaki itu pergi berkencan. Lalu kau ingin pergi ke mana ia pergi dan lelaki itu membawamu ke toko buku besar. Tempat ia menceritakan soal novel milik sahabatnya. Pada novel itu seorang pria tua jatuh cinta pada anak SMA. Mirip seperti yang ia alami padamu.

Saat menonton film ini saya jadi ingat memoar Haruki dalam bukunya What I Talk About When I Talk About Running. Bagaimana Haruki setiap harinya selalu berlari beberapa kilo meter sebelum akhirnya ia duduk di depan laptop dan mulai menulis. Menurut Haruki yang dibutuhkan oleh seorang penulis selain bakat juga harus memiliki daya tahan.

Dalam film ini, sang manajer berusaha menulis novel dan mengirimkannya pada penerbit tapi novelnya belum juga ada kabar. Berbeda dengan buku temannya yang berjudul Window by The Wave yang disebutkan di awal film menjadi buku best seller. Temannya sewaktu sekolah manajer itu mengatakan: “memangnya apa yang bikin kita bertahan setelah kamu berulang-ulang kecewa–kau terus menulis. Selain suka dan ketertarikan” saat melihat draft naskah novel di meja rumah manajer.

Film ini sebetulnya lebih kepada romantisme seorang siswi yang bertepuk sebelah tangan karena jatuh cinta pada seorang lelaki yang sudah pernah cerai satu kali dan memiliki anak satu. Film ini juga dibalut dengan humor ringan. Misalnya saat manajer mengantar Tachibana, siswi SMA itu pulang mereka hampir mengalami kecelakaan karena manajer yang syok saat Tachibana mengatakan dengan keras kalau dia menyukai manajer tak bisa mengontrol setir.

“Memangnya cinta itu butuh alasan?” Tachibana penasaran.

“Kalau kau mencintai seseorang yang seumuran memang tak butuh alasan. tapi umur kita berbeda jauh, itu butuh alasan.”

Kenapa kamu berlari? Karena saat berlari rasanya enak, begitulah yang dikatakan Tachibana. Saya sebagai seorang penulis yang sedang berusaha untuk bisa terus bertahan menghalau rasa malas yang berjibun menimpa kepala dan tubuh saya.

Yang saya harus kerjakan selain menulis juga saya harus berlari. Biar ketika saya menulis saya tidak berhenti di tengah jalan karena kehabisan napas. Tapi masuk akal gak ya? Bodo amat deh.

Profil Penulis

Ade Gunawan
Ade Gunawan
Pustakawan Pustakaki. Sangat menggemari baca buku puisi.