

Pada kaca jendela hijau itu
Kulihat wajahmu, sekali lagi, dalam tetes demi tetes hujan di luaran
Rinai yang menembus akar rumput, juga tiang-tiang serta kabel telepon
Kau memandang ke lajur jalanan yang membubuhkan kebisuan
Ada yang berbisik dari langit
Kepada bunga-bunga halaman yang basah itu
Sementara dari jauh, daun-daun berdoa ditopang ranting yang renda
Kepada angin, jangan renggut jiwanya
Apa yang bisa kuterka dari sorot matamu yang putih itu?
Selain ketidakpastian yang mengambur selalu
Oh, gadis manisku
Magelang, 2026
Siapa yang terbang diantara angin senja yang purba?
Siapa yang mengoda cakrawala yang kokoh dan setia?
Siapa yang melebur dalam sunyi dan langsat malamnya?
Siapa yang menghisap jutaan bayang-bayangku?
Siapa yang menyeru laut dan gunung untuk bercumbu?
Siapa yang bernafas dalam rongga-rongga kata?
Siapa yang mendidihkan matahari yang tengah menjulurkan lidah api kepadaku?
Siapa yang menempuh jajaran cemara, lalu membubuhkan diri ke akar-akarnya
Siapa yang mendaras ayat-ayat suci kemudian melompat dari gedung kantor Fatmawati?
Siapa yang memunggut air mata yang jatuh di selokan zaman?
Siapa yang
Yang siapa?
Jakarta, 2025
Adakah kau dengan itu, gemuruh ombak yang memperdalam kegaibanNya
Berbisiklah angin malam, merendah dari lembah yang jauh
Ketika itu kita mendengar gema-gema
Seorang gadis kecil berlari memasuki rumah yang dingin penuh luka
Gigir cakrawala yang asing tanpa jiwa; melulur angan-angan yang gemerlapan
Laut yang lebih tinggi dari semua ini; melintaskan airnya ke kaki
Ketika itu, kita saling membagi duka
Sebelum pelabuhan bersih dari segala percakapan
Bantul, 2026
Kita menabuh angin, udara dingin, dan nestapa yang membubung ke angkasa
Hamparan Tibet yang asing padamu kekasihku
Bulan meleleh di pangkuan ombak lautan
“Subuh belum juga tiba,” katamu
Nun jauh, lepas berlepasan rindu dendam; padamu kekasihku
Semarang, 2025
Nyiur melambai, pesisir membuka tabir
Kita beranjak dari tungkai sungai, menuju pergumulan laut itu
Jalan yang melekungkan rindu, tanah-tanah yang berbinar untuk-Mu
Andilau meracau,
Bertukar cerita tentang ombak yang bergulung-gulung
Tak ada kanal-kanal di sini, hanya pasir-pasir besi.
membadai atau gelap
mensungai atau lindap
Bantul, 2025