

Hitam, lekat pekat menorehkan dalamnya kegelapan
Jauh dari bayang-bayang nirwana, tidak terelakkan dalam gegana
Hati yang bersimpuh, dicambuknya berkali-kali
Oleh cemeti yang lucutannya memekakkan keheningan
Putih, ringan bagai bulu angsa, terang bak cahaya
Turun dari surga lalu seolah-olah lahir harapan itu
Membawa sukma mengangkasa
Oh, itukah ilusi cinta? Tarian elok amat nikmat
Pelbagai beda antara hitam dan putih bukannya masuk akal
Menolak adanya si abu-abu lugu, lembut nan berbayang kesat
Cemeti dan akar jiwa, ilusi cinta bak Sadewa dengan kejoranya
Entah yang mana jadinya aku nanti
Sang bintang jatuh atau kah sang monster tanpa iba
Dan bilamana aku mengetahui abu-abu yang hampa ini akan warna hatiku
Diriku yang ditempa, tajam oleh cemeti menghidupkan monster keji
Diriku pula yang menari dalam ilusi cinta Sadewa
Aku tidak mampu memilih
Saat berhadapan dengan kehendak Ilahi, takdir yang di karang-Nya
Bersembunyi di balik abu-abu
Tidak mampu memutuskan antara tarian ilusi cinta yang bening tenang
Atau hancur lebur, menjelma menjadi monster yang terkurung jiwanya
9 Juni 2026
Tidak terbesit bagimu, betapa cinta itu seutuhnya
Aku berikan takdirku
Jiwa, akal, hati: semua
Waktu, tenaga, uang: tiada ukurannya
Takdir hidup ini
Tua renta aku sekarang, sampai beruban
Tidak bosan-bosannya menunggu
Meski dunia sudah memunggungi, diri ini
Hati yang memaksa, namun engkau tinggalkan
Lalu, siapakah aku tanpa dirimu?
Kemanakah aku harus berjalan,
saat duniaku berhenti berputar?
Engkau sungguh teramat kasih, cinta sejatiku
Aku tau, aku selalu percaya meski kamu palsu
Dan meski aku menjadi seorang buta
Dunia dulu berbisik-bisik
Bahwa aku memilikimu, utuh dan penuh
Aku sekarang menatap jauh, pada sejarah
Yang dihapuskan, tidak tertulis lagi
Aku lenyap, tapi tidak cinta itu
Takdirku, hati ini dan air mata yang tak kunjung sudah
Cinta itu tidak pernah hilang, tidak pernah meninggalkan
Aku yang mati tanpa jawaban
Jakarta 12 Juni 2026
Entah mengapa pikiran ini
Sekedar memikirkan keharusan-keharusan
Yang ada, bagi diri ini saja
Tidaklah tertuju pada sesuatu yang niscaya
Ketika terkadang hati ini berkelana
Ketika terkadang pula pengelanaan itu jauh menerawang
Pada ketidakpastian, diri ini pun menjadi rapuh
Kapanpun dan dimanapun, Sang Pencipta yang agung itu menemaniku
Aku mengartikannya sebagaimana zat terindah
Amat indah, hati ini terasa perih dalam mendambanya
Terasa begitu kuat, terasa begitu lekat
Pemilik diri ini
Orang boleh datang dan pergi, begitu saja
Tapi tidak demikian maknanya bagiku
Akan Tuhan yang selalu menetap di hati
Mencintainya bagai yang kekal di hati
Jakarta, 6 Juni 2026
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!