
Profil Singkat
Didirikan pada 27 November 2017 oleh Budi Irwandi di Padang, Dangau Studio merupakan komunitas seni yang menjadi ruang ekspresi sekaligus wadah pengembangan diri bagi para seniman muda. Berawal dari keresahan akan minimnya ruang berkarya, studio ini hadir untuk memfasilitasi aktivitas seni rupa, musik, hingga film pendek. Seiring waktu, Dangau Studio berkembang menjadi komunitas terbuka yang aktif menyelenggarakan workshop, art therapy, dan pameran seni yang melibatkan lintas generasi dan latar belakang sosial.
Dangau Studio percaya bahwa seni bukan hanya soal teknik, tapi juga tentang rasa dan pemulihan batin. Melalui pendekatan inklusif dan kolaboratif, komunitas ini telah menjangkau masyarakat luas, dari anak-anak panti asuhan hingga pegawai perusahaan, serta memberikan dampak nyata di ranah seni lokal. Dangau Studio terus berinovasi menciptakan ruang yang aman dan memberdayakan untuk siapa saja yang ingin tumbuh lewat seni.
Mari simak wawancara kami dengan Budi Irwandi, pendiri Dangau Studio di bawah ini:
Halo, boleh kenalan dulu nih?
Halo, nama saya Budi Irwandi. Saya fokus di bidang seni, khususnya seni rupa, dan saat ini aktif di komunitas Dangau Studio.
Pendidikan saya dimulai dari jurusan seni rupa di SMA, lalu lanjut ke ISI. Saya juga pernah aktif di komunitas musik dan film; saya membuat lagu, bikin film, dan sebagainya.
Ketertarikan saya pada seni rupa sudah muncul sejak SMP. Bisa dibilang bahwa ketertarikan saya pada dunia seni rupa, utamanya lukisan berangkat dari inspirasi yang dibawa oleh maestro seni lukis Sumbar (Sumatera Barat), Pak Wakidi.
Saat SMA, saya masuk jurusan lukis. Genre yang saya sukai adalah impresionisme, awalnya karena terinspirasi dari maestro Padang, Makidi, lalu saya juga mulai tertarik pada maestro-maestro dari Eropa. Saya pernah menggelar pameran tunggal di Padang. Karena hobi saya juga eksplorasi alam, saya banyak belajar lanskap dan belajar langsung dari maestro-maestro di Padang.
Lama-lama saya tertarik pada seni ekspresionisme karena biasanya dilakukan on the spot, mengobservasi langsung, dan dituangkan dengan kesan pribadi ke atas kanvas.
Ngomong-ngomong, kapan Dangau Studio didirikan?
Saya dan teman-teman mendirikan Dangau Studio pada 27 November 2017. Awalnya, kami ingin membuat ruang ekspresi bagi teman-teman seniman, karena saat itu tidak ada studio yang bisa digunakan secara bebas di Padang. Tahun 2020, kami mulai fokus ke edukasi seni. Saya merasa nggak semua orang harus ke akademi untuk bisa berkesenian. Ke sini pun bisa.
Alhamdulillah, setelah empat tahun berjalan, kami mendapat apresiasi dari kalangan akademisi psikologi karena aktivitas seni kami dianggap bisa membantu mengekspresikan batin. Kami senang bisa mewadahi orang-orang lokal di Padang untuk terus berkesenian. Kini, kami lebih ke komunitas, tapi tetap berkarya bersama.
Sejak 2022, kami mulai menyusun timeline program. Tahun 2020 kami mulai berdampak di Sumatera Barat dan secara nasional. Kami lalu memperkuat arah: fokus ke seni digital, program mingguan seperti workshop yang alhamdulillah bisa melahirkan talenta-talenta baru. Mereka kini punya portofolio dan bisa berjejaring untuk memperoleh peluang karier. Di Dangau, program kami dirancang sejak awal agar setiap orang tahu ingin jadi apa, dan portofolionya dibentuk sejak awal.
Tentang Sesi Art Therapy
Apa yang mendorong Dangau Studio menyelenggarakan sesi Art Therapy?
Awalnya dari riset pribadi saya tentang seni dan dampaknya terhadap manusia. Setiap orang yang datang ke Dangau Studio saya sugesti, “Apa yang kamu rasakan?” Lalu saya ajak untuk melampiaskannya dalam bentuk seni. Saya sempat cemburu juga kenapa musik bisa dinikmati banyak orang meskipun banyak yang nggak pernah sekolah musik. Saya ingin seni lukis juga bisa seperti itu: dinikmati dari rasa, bukan sekadar teknik.
Kami pernah bikin acara yang diikuti ratusan orang. Art therapy ini sebenarnya untuk menyadari potensi dan sisi terdalam seseorang. Alhamdulillah, banyak yang setelah ikut ini jadi lebih percaya diri dan mendapat apresiasi dari masyarakat. Kami punya tagline: “Semua orang itu mati, tapi seenggaknya berkarya.”
Sesi ini dibuka dengan mendengarkan keluh kesah. Contohnya, ada klien yang curhat kalau ia rutin ke psikolog karena punya masalah. Saya sedih dengarnya, dan dari situ saya pikir: kenapa nggak kita sediakan wadah seni untuk healing?
Siapa saja pesertanya berdasarkan latar belakangnya?
Sudah lima tahun kami adakan sesi ini. Pesertanya beragam. Kami kerja sama dengan panti asuhan, dan yang paling sering ikut adalah Gen-Z karena kami terhubung lintas kampus di Padang. Ada juga yang dari jurusan seni, ada yang ikut karena tugas kuliah, bahkan ada pegawai berumur 50 tahunan ikut juga. Karena memang, masalah mental health itu lintas usia.
Di mana biasanya sesi-sesi ini diadakan?
Biasanya di Dangau Studio, karena kami sedang membangun nilai komunitas dari dalam. Tapi kadang juga kami adakan di luar studio, seperti saat kerja sama dengan kelompok psikolog atau komunitas lain.
Adakah momen paling berkesan selama sesi Art Therapy?
Banyak. Tapi yang paling saya ingat: ada mahasiswa dari luar kota datang ke Dangau naik ojek online. Saat datang, dia bilang, “Izin bunuh diri di Dangau Studio.” Saya sempat panik karena dia pegang pisau cutter beneran. Saya tanya langsung: “Mau mati nggak?” Dia jawab, dan saya lihat daya juangnya justru tinggi. Biasanya, orang yang mau mati justru lebih kuat dari yang terlihat bahagia. Mereka cuma butuh wadah. Saya sampai menangis. Dari situ saya mulai kasih tahu rumusannya ke orang-orang lain juga.
Tentang Film Pendek Ibu Pembohong
Apa pesan utama film ini?
Film ini lahir dari pengalaman kami di Dangau Studio. Ceritanya tentang seorang remaja yang punya masalah mental, semacam skizofrenia. Dia suka ngobrol dengan ibunya, padahal ibunya sudah meninggal. Saat dia sadar, realitas itu sangat menyakitkan. Makanya disebut Ibu Pembohong. Ini representasi dari rasa kehilangan yang sangat dalam.
Kenapa pilih medium film pendek?
Karena kami lihat banyak Gen-Z tertarik ke dunia film, tapi nggak ada wadah. PH (Production House) itu biasanya tertutup, eksklusif, dan berbayar. Padahal banyak yang suka akting dan produksi konten. Maka kami kolaborasi dengan konten kreator Kapsul Waktu Nusantara. Kami wadahi anak-anak muda untuk bikin film pendek ini.
Siapa saja yang terlibat dalam produksi?
Saya sendiri yang bikin naskah dan skripnya. Kameramen, lighting, casting semua dari keluarga Dangau dan komunitas Seni Nusantara. Kenapa orang Padang semua? Karena memang kami ingin jadi wadah kreatif lokal.
Di mana lokasi syuting dilakukan?
Syutingnya di Dangau Studio dan rumah keluarga saya di sekitarnya. Ke depannya, kami ingin bikin film maker Sumbar lebih aktif. Kami tahu film ini belum profesional, tapi bayangkan kalau nanti bisa screening di 20 titik di Padang. Itu bisa jadi pemantik.
Bagaimana tanggapan masyarakat?
Saat ini filmnya masih dalam tahap produksi. Belum screening. Kami sedang minta masukan dari film maker profesional, lalu kami akan edit dan sempurnakan. Targetnya Agustus bisa tayang. Tapi sejauh ini, tanggapan orang-orang seru, karena topik seperti ini jarang diangkat. Nggak semua orang mau dianggap “gila”, padahal semua orang punya sisi gilanya, hehe. Kami juga sedang siapkan dua film baru dan sedang mengejar jadwal hingga Juli.
Tentang Pameran Seni Lukis di Sumatera Barat
Apa tema utama pameran seni bulan Juni lalu?
Kami berkolaborasi dengan June Art Fest. Sebelumnya juga terlibat di pameran internasional seni rupa. Tema dari kami sendiri ada Warna Muda dan Wonderland. Lalu ada juga exhibition yang menampilkan lukisan, alat musik, dan karya musisi lokal. Kami ingin memberi ruang bagi mereka yang butuh portofolio. Pameran juga diramaikan dengan bazaar.
Bagaimana proses kurasinya?
Kurasi kami independen. Kalau ada yang tanya gimana cara gabung, kami biasanya lihat dulu, kenal nggak? Pernah ikut screening bareng nggak? Karena yang kami cari itu silaturahmi, vibe-nya. Kami percaya bahwa berjejaring tanpa rasa saling percaya itu percuma.
Bagaimana respons pengunjung?
Awalnya kami manfaatkan jaringan coffee shop di Padang. Kami ajak owner-nya dan edukasi bahwa ruang kopi bisa lebih hidup dengan seni lukis. Tanggapannya sangat positif. Banyak testimoni yang bilang acara kami menarik dan membuat mereka ingin datang lagi. Kami terbuka dan kolaboratif, jadi makin banyak yang tertarik ke seni.
Apa rencana Dangau Studio ke depan?
Kami sudah menyusun template jangka panjang untuk 2026–2030. Program sebelumnya baru sebatas prototipe. Kami ingin menciptakan ruang bagi generasi muda kreatif agar bisa berkembang, memberikan perspektif baru tentang pentingnya peran orang kreatif dalam masyarakat.
Kami ingin mereka tahu: dengan menciptakan karya, mereka menciptakan value, dan itu membuat mereka penting di masyarakat.
Apa pesan untuk pembaca Nyimpang?
Sederhana: mungkin terdengar aneh, tapi kita harus sadar realitas. Sadar bahwa kita kecil. Jangan baper. Tapi jadilah kecil yang berdampak besar. Kalau kamu seekor tungao, jangan ngeluh. Tapi kalau kamu tungao yang menggigit alat vital, ya pasti orang teriak. Jadi, bersatulah para tungao, biar dampaknya lebih besar!
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.