90 Menit yang Lebih Penting dari “Ribut dmna ayo jadiin”

  • ESAI

Eksplosivitas Mbappe ketika menggunduli Barca (17/2) tidak hanya bikin malu Pique dan Clement Lenglet. Di benua lain, salah satu fans Barca asal Indonesia tersinggung oleh chat seorang fans Liverpool. Berbanding terbalik dengan apesnya Barca, di hari yang sama fans The Reds amat bersukacita. Maklum, ketika tim semenjana EPL berturut colong poin dari Anfield, di Puskas Arena, Salah Cees menang dua gol tanpa balas.

Sebut saja Bleki, yang saking malunya tidak bisa berpikir kalem. Ajakan ngobrol dari sobat sesama fans klub eropa – panggil saja Dobol – direspons dengan lebay. Percakapan Whatsapp sok asik dari Dobol dibalas tantangan kelahi; “Ga usah banyak omong ya, apalagi mau nyamain gelar Liverpool di Champions League,” ketik Dobol dibarengi dua gambar. Mbappe yang dikerubung Icardi, Kean, dan Kurzawa untuk gambar pertama, lengkap dengan skor 1 – 4, di bawahnya foto selebrasi Salah. Bleki yang suntuk setelah upaya begadangnya menonton Barca sia-sia, ringan menjawab, “Ribut aja si lu jing,” dan usaha Dobol untuk menekankan kalau dirinya bercanda dengan mengetik “wkwk,” tidak berhasil mengademkan suasana. “Ribut dmna ayo jadiin,” chat Bleki telanjur muntab. Pesan-pesan Bleki selanjutnya bikin saya ngakak;  “Mang2 emg gw amang lu tai,” “Liat aja lu ktmu dluar abis lu.” di depan layar smartphone, Dobol yang saya pikir sedang cengengesan setengah panik, sampai-sampai mengetik “istigfar” agar obrolan tak bertambah edan.

Berbalas WA yang sama konyol dengan aksi Lenglet dikecoh Mbappe itu bikin saya bertanya. Seberapa sulit sih, menerima kalau Barcelona banyak masalah. Semua tahu, sepeninggal duet maut Xavi – Iniesta, Barca belum punya gelandang yang bikin Messi meraja di depan gawang. Buang-buang duit Barca juga terkenal mubazirnya, tengok Andre Gomez dan Arda Turan, pemain central andalan Valencia dan Atletico Madrid yang performanya membusuk sebelum dilepas, Paco Alcacer yang angin-anginan, Malcom yang jadi penghangat bangku cadangan, Coutinho yang sempat dipinjamkan ke Muenchen dan ikut membantu menggebuki Barca di fase knock out UCL, juga Griezmann dan Dembele yang sampai kini belum mengobati rindu La Pulga atas perginya Suarez.

Hegemoni mereka di La Liga pernah terbangun dari gaya bermain tiki-taka yang berarti adanya chemistry berperan vital. Bukannya belajar dari sejarah kesan tersebut lenyap saat Pique dan Griezie saling bentak. Pemain mahal yang datang sebatas nafsu manajemen membeli Wonderkid anyar. Sikap indisipliner Dembele yang doyan junk food tidak dibarengi aksi ciamik di lapang. Ia malah sering cedera. Bergabungnya Griezmann belum konsisten jadi tandem maut bagi Messi. Koeman seringkali memasukkan Braithwaite mengakali macetnya kerja sama mereka.

Baca juga  Self Love bukan Sekadar Kasih Makan Ego

Mestinya Bleki lebih paham analisis model gitu, sehingga ledekan iseng dari Dobol tak perlu ditanggapi serius. Lagipula fans yang nonton hampir tiap laga. Pasti tahu lebih dan kurangnya klub kesayangan. Bukankah sejak dilatih Enrique, Barcelona lebih manusiawi? Mereka bahkan senang memberi tiket lolos liga champions kepada AS Roma, Liverpool, dan Muenchen saking inginnya beramal soleh.

Menurut saya, pertandingan selama 90 menit, bagi penonton juga pemain lebih penting dari hasil yang dituai. Menang, kalah, maupun seri hanya bonus. Keasikan menonton pemain favoritmu beradu sprint, lolos dari bek dan melepas umpan keliru tidak terlalu buruk. Kalah dua kosong dengan penguasaan bola, shoot on target lebih dominan bagaimanapun tetap menghibur. Di Warkop, lebih seru ngomongin klub favorit bareng sahabat sok analis dibanding ngerayain gelar yang dicapai selama tiga hari lalu sadar juara berkalipun tetap tak ada gaji yang diberi manajemen klub kepadamu sebagai fans yang terlalu fanatik bela-belain begadang melihara kantung mata hampir sakit.

Bertarung selama sembilan puluh menitlah yang membuat Gian Pierro Gasperini, pelatih Atalanta tetap membusung dada saat kalah dari PSG di perempat final Champions League (2019/2020), Masyarakat Bergamo bakal tetap bersukacita karena sense of belonging dan tim yang udah ngasih segalanya. Sumber daya kami adalah hasrat dan ide, bukan duit. Tapi itu gak ada habisnya dan kami akan terus manfaatin itu semua di masa depan. Sebutnya bangga.

Jumlah gelar sebuah tim adalah pemanis sejarah, daya tawar untuk pemain top berlabuh juga katrol gensi bagi setiap fans. Tetapi bagi pesepak bola, penampilan apik selama 90 menit lebih diperlukan untuk menopang karir. Memangnya apa yang mau dibanggakan, ketika kesebelasanmu menyabet piala dan sepanjang kompetisi kamu rutin sebagai pemain cadangan.

Baca juga  Pokoknya Naruto Jangan Mati!

Salto Gareth Bale di final UCL 2018, atau memori solo run mengungguli Bartra sebelum golnya ngolongin Pinto dan merebut trofi Copa Del Rey 2014 dari Barcelona akan selalu dikenang. Meski begitu, kurangnya menit bermainlah yang membuat Bale frustasi sampai-sampai bendera Wales berisi urutan prioritas antara timnas, golf dan Madrid yang dibentangkannya sukses menendangnya dari Madrid.

Emiliano Martinez, kiper Arsenal yang bertarung selama sepuluh tahun untuk mengamankan posisi kiper utama, memilih bergabung dengan Aston Villa setelah jasanya membawa Gudang Peluru menjuarai FA Cup 2019/2020 di tengah performa buruk tim belum mampu menghapus statusnya sebagai kiper pengganti pasca Bernd Leno pulih. Jelas bermain reguler adalah impian setiap pemain.

Maka dari itu, betapapun kecewanya dengan hasil Barca, Bleki harus paham. Drama 90 menit ibarat jungkat-jungkit yang dimainkan oleh anak TK. Performa hanyalah gerakan turun naik yang kejar mengejar seiring jalannya kompetisi. Menonton sepak bola bukan hanya mengapresiasi hasil akhir, melainkan individu-individu yang merumput mengatasi beban dalam diri.

Kecuali kita fans asal Liverpool di mana rivalitas mereka dengan Manchester United dilandasi konflik historis sosioekonomi; pada abad 18, pelabuhan yang didirikan di Manchester untuk mengakali besarnya tarif impor atas katun kasar di Pelabuhan Livepool menyebabkan turunnya pemasukan warga Liverpool. Kecuali kita pendukung Spurs di tahun 1919, pribumi London yang masih terbayang bagaimana pendatang yang notabene fans klub baru Arsenal seenaknya mengganti nama stasiun Gillespie Road sehingga rivalitas kian memercik jelang mulai Liga, kecuali Bleki warga Catalan yang menuntut merdeka atas Spanyol dan melihat Blaugrana selayaknya kuda perang politik untuk kampanye, rasa-rasanya tidak wajar, tersinggung oleh pendukung klub sepak bola eropa lainnya. Lebih-lebih sesama fans Indo yang harus memesan tiket pesawat untuk menyaksikan klub favorit langsung dari stadion.

Maret, 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *