100 Hari Menghabiskan Nasi Padang setelah Pemilu

Di Tanah Orang Cari Makan

 

Di tanah orang-orang cari makan

Kecemasan jadi santapan

Seperti kemacetan kota, perkebunan villa

beton-beton sawah, atas nama wisata

Sampah sedupa rupa tanpa dewa

 

Gunung-gunung sisa jadi murahan

Bertumpukan sampah beratus lapisan

dengan bantuan perumahan, pertokoan,

restoran, bahkan perhotelan

tak luput beri sumbangan

 

Ini riil sumbangan, bukan pungli

Segala yang sisa dari piring mu, makanan juga

Nasi banyak sisa

Dibuang sia-sia, jadi percuma

Di pinggir-pinggir kota, anak menangis

Bermimpi tentang makan siang gratis

Sedang Gunung sampah makin tragis

Semarak makanan yang tidak habis

 

Di dalam perut gersang adalah lahan kosong

sementara sisa makan ramai di jalan di gorong-gorong

Menumpuk jadi tinggi jadi seram

Menjadi harum menyengat dan mencekam

 

Tanpa makan selama satu pekan

Tanah gersang kurang pakan

 

Membuang sisa makan, jadi arus

Yang kian hari makin kurus

Makin rusak tanah terjerumus

Makin jamak dan tidak terurus

 

Di sisa-sisa makanan mu

Adalah sarapan untuk tanah-tanahmu

Adalah makan siang untuk ditunggu

Adalah makan malam untuk tanah baru

 

Sisa makanan bukanlah kebencian

Bukanlah juga sumpah-serapah atas gagalnya kedaulatan

Bukan jugalah sampah-serumpah atas gagalnya pendidikan

Ini serupa bencana di mana dupa kita tak bisa lagi diletakkan

 

Ini kali aku minta: Beri makan tanah

Sudah lama hilang senyumnya yang ramah

 

Hari-hari berasal dari apa-apa yang dibuang;

Buang saja semuanya ke tanah!

lalu di sana akan tumbuh rimbun resah-resah,

tunas-tunas penyesalan juga tumbuh,

bunga tandus yang bermekaran di sekujur tubuh

Di kasur-kasur mu, di jalan-jalan mu

di tempat dudukmu, di tempat makan mu

Juga di semua mimpimu

 

Perut kosong adalah muara paling baal atas semua sesal

Tanah kosong adalah waktunya untuk tancapkan “tanah ini dijual”

Apa salahnya mengumpulkan makanan sisa?

Apa susahnya makanan sisa diberikan kepada tanah

 

Hari ini jadi perjuangan untuk hidup

Waktu-waktu telah gugur, tinggal mimpi

Sisa makanan bukanlah sampah:

untuk dibuang, dibiarkan begitu saja

Ini tentang kita semua yang rindu dan cinta

Bagaimana menghirup udara

dari tanah yang sejahtera

 

 

 

Badai Satu Tahun Belum Reda, Sementara Tagihan Sudah Terbit Besoknya

 

Malam jadi sekam, jadi basah, lembab

musababnya jadi entah jadi berantah

Bertumpuk nasib-nasib pada tiap lembar yang jadi abai, jadi terjerembab

Setumpuk kurang, ditumpuk jadi musibah

 

Bulan jadi ancaman,

Matahari berarti terbitnya tagihan

Pagi jadi kacung, siang jadi acuh

Sore jadi murung, malam jadi ricuh

Hari tak berganti pun tak apa

Minggu tak jadi senin sungguh nikmat

Atau sabtu berhenti, Tamat

 

Ringan sudah nyawa ini tarik saja.

Maut pun jadi kerja lebih mudah,

Sedikit upaya sedikit usaha.

Toh, mati tinggal mati, apa susah?

 

Usaha hari ini hanyalah penyambung nafas,

Asa yang jadi asap, hilang nyala

Untung saja otak mampu berpikir keras

Ada saja! kalau tak ada bisa hilang nyawa

 

Beberapa tembok mulai terpasang, dari agama, teman, relasi, karya, bahkan panggung hilang tirainya hilang lampunya

Hubungan ini makin runyam saat takdir baik enggan mampir, sementara sial selalu menelpon di jam makan siang hingga petang menjelang

Aih, Tak bisa saja berhenti sejenak.

Minimal istirahat ditempat, Gerak!

Kaki terbuka, tangan mengepal.

Mengepel setiap masalah di masa lampau

Daging jadi isi, jadi bakpao

 

Berapa pasang mata menyudut penuh isi

Tiap sorotnya banyak intimidasi

Mam, sungguh bisakah hidup ini jadi lestari

Sumpah! ini seperti Lesmana yang hilang nyali

 

Takut jadi macet, saking banyak dan sesak

Penuh di dada, penuh di kepala

Andai waktu bisa dinego, kembalilah masa kanak

Masa dimana Asi jadi asik, meski hanya empat bulan saja

 

Riuk petir mengisi tiap periuk nasi di piring

Badai melaju dengan kecepatan penuh

Sikat miring!

Mam, takut!

bukan takut mati

Saya takut tidak ada yang memeluk lagi

saya takut badai tak kunjung reda

Saya takut!

 

 

 

Menghadapi Kehidupan dengan Sebungkus Nasi Padang dan Segala Upayanya

 

Malam yang ganjil, riuh dan abu-abu

Debu jalan merangkai dupa di sela aspal jalan

Langit tak secerah kuah kalio baru

Dan …

Kita di bawah harus terus hidup, dipaksakan.

 

Hidup besok dan hari ini

Seperti lemak-lemak pada rendang diatas air kelapa.

 

Melanjutkan hidup di negara ini: menanam celaka menjadi nasi di punggung dengan kulit yang luka-luka, Lalu kecewa jadi pupuk untuk kita pakai, Cemas menjadi tunas yang subur dan raya.

 

Nasi padang pakai kuah kikil sapi, satu lagi !

 

Kecemasan terlalu cepat tumbuh,

Daun singkong di kebun kalah cepat, dan harga cabai di pasar juga lebih lambat.

Kabarnya keyakinan turun lebih rusuh,

seiring dengan harga diri pejabat

 

Asap ikan bakar kelas kakap, membuat    kenyang

Ah! mantap !

 

Untuk menyulam mimpi, kami pakai nasi kuah tunjang.

sambal ijo dan kuah rendang sebagai penunjang

Menu utamanya adalah ketidakpastian hidup di negeri ini.

 

Kami merebahkan tiap-tiap harapan

Pada telur-telur balado

Sedang di istana yang tak utuh

Mereka merobohkan segala keadilan

 

Kami tidak punya waktu untuk segala apresiasi, moderenisasi, naturalisasi, reboisasi, mastrubasi, kolonialisasi, sosialisasi, kapitalisasi, komunisasi, feodalisasi dan sasi-sasi yang lainnya.

Kami masih sibuk mencari sesuap nasi

itu pasti.

 

Baik terimakasih, berapa totalnya untuk sebuah harapan palsu dengan kuah-kuah padangnya?

Kami mau diskon untuk hidup kami

 

 

 

100 Hari Menghabiskan Nasi Padang setelah Pemilu

 

I

Ayam berkokok, pemilu terbit dari barat ke timur

Siasat-siasat berhamburan dimana-mana, serempak

Semua orang tidak ada yang tidur, tidak ada kasur

Berjalanlah orang-orang dengan kompak

 

Sebungkus nasi padang lengkap dengan rendang

Bertandang di tiap keluarga yang butuh makan

Suara token listrik bersahutan pertanda hari baru tiba

Hari dimana semua pemimpin memasak nasi untuk rakyatnya

 

II

Di hari ketiga, semua suara-suara hadir di tiap rumah, di tiap tangan.

“Makan gratis dengan penuh gizi”

“Kerjaan luas dengan gaji tinggi”

“Nasi dan joget tersebar dimana-mana”

“Rumah dan sejahtera untuk semua”

Kata seorang pedagang nasi terpilih

Rumah makan merah putih

 

Pedagang nasi siap saji dengan janji sepiring sapi

Nasi-nasi asli ditawarkan di luar negeri

Dana segar, balado dan pidato

Juru masak yang banyak dan jago

 

Selamat makan!

 

III

Tujuh hari kami memakan sisa

Sebungkus nasi padang untuk sekeluarga

Kuah-kuah tercecer kemana-mana

“Tenang kebocoran akan ditutupi” katanya

Tapi nasi bungkus kami kering dan tidak ada kuahnya

 

Keluarga-keluarga menanti nasi tiba

Ibu-ibu mulai memasak daun sawit, katanya sama-sama daun

Tidak ada sarapan, hanya ada makan siang saja

Di malam, ibu hanya menghangatkan sebungkus nasi padang minggu kemarin

Semua saling suap, saling curiga, kami memakan remah-remah lempem dan nasib-nasib kurang amin.

 

IV

Empat puluh harian di rumah makan, juru masak bilang:

Makanlah, jangan malas, intropeksi

Makanlah, jangan ngeluh, efisiensi

Makanlah, jangan boros, investasi

Makanlah, jangan berisik, inflasi

Yasin.

 

Sebungkus nasi yang ditunda untuk habis

Semua takut, besok tidak makan lagi

Nasi ini disuap tiap minggu satu orang satu

Kami pakai harapan sebagai tambahan pangan

 

V

Di hari ke-100, pedagang nasi membakar janji,

katanya untuk membuat ayam bakar bumbu kari

Asapnya menjelma awan di mega-mega

Menutupi langit, nurani dan rahasia

 

Pedagang terlihat menyuapi satu per satu rakyatnya di tanah tambang

Mereka makan dengan lahap dengan senang

Sementara kami hanya menunggu kabar, menunggu giliran

Kematian kami di portal-portal berita harian

Lahir di Bekasi, 10 Juni 1994, dan kini tinggal di Denpasar. Alumnus prodi Pendidikan Bahasa Jerman.Saat ini aktif menulis puisi, naskah teater, penyutradaraan teater, dan akting.Karya-karyanya telah terbit dalam sejumlah antologi, diantaranya Sajak 12 Tiang -antologi (2017), Lentera (2019), Burung-Burung di Langit Merah (2024), serta Kelas Pekerja (2025).Puisinya yang lain sudah banyak di media online. Satu diantra pendiri kelompok teater Diorama Drama yang berbasis di Denpasar, Bali, dan engelola kanal siniar Diskusi Diksi, ruang alternatif untuk membicarakan sastra, teater, dan pengalaman kreatif lintas medium. Instagram @baylsmn23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!