“Pak, saya hamil. Pacar saya tidak mau bertanggung jawab. Padahal sudah berjanji.” seorang gadis mengadu. Tapi yang dicurhati malah menjawab: tapi, mbaknya ikut goyangkan?

Kira-kira singkatnya seperti itulah dialog yang saya bayangkan dari berita yang pernah saya baca di waktu yang agak lama. Belakangan, setelah membayangkannya lagi, itu cukup mengejutkan, meski bukan hal baru.

Pertanyaan yang masih saya pikirkan sampai detik ini adalah bagaimana bisa orang kepolisian yang notabene jargonnya “mengayomi rakyat” bisa berkata semenyakitkan itu? Bahkan untuk orang yang tidak merasakannya saja perkataan itu amat dihindari.

Dulu saya menganggap bahwa jika hal seperti itu memang salah si korban. Dengan memikirkan perkataan oknum yang menyebutnya “ikut goyang” saat itu saya berpikir, benar juga ya. Kenapa si korban mau-maunyaa percaya dan diperdaya dengan kata-kata manis si pelaku, ya?

Berbulan-bulan setelah melewatkan berita tersebut, saya membaca hal sejenis. Singkat cerita ada seorang wanita paruh baya yang akan berangkat untuk bekerja dengan membawa anaknya. Saat tiba di jembatan layang ia melihat seorang ibu muda tengah hamil berdiri di seberang jembatan layang. Dari grak-geriknya ia paham ada yang tidak beres. Wanita itu langsung buru-buru meminta anaknya tetap di tempat aman dan bergerak mendatangi si ibu hamil yang gerak-geriknya mencurigakan. Pelan-pelan ia mendekatinya sambil bertanya: “Mbak, kenapa nangis? Ada masalah apa?” Si ibu hamil tetap diam menahan isak tangisnya, sementara pandangannya jauh menukik ke sungai di bawah kakinya.

Wanita tersebut dengan sabar beridiri di sisinya sambil terus bertanya: “Mbaknya ada apa? Mbak punya utang? Sini saya bantu. Ada masalah apa, biar saya bantu. Tapi sini mbaknya naik dulu ke sini.” Ia beruszha merayu sambil terus mengulurkan tangannya. Si ibu hamil tetap diam.

“Mbak ada masalah apa? Masalah sama laki-laki ya mba? Kasihan anaknya sini yuk saya bantu.” Tangis si ibu hamil tersebut pecah lebih keras. “Iya mbak, saya bingung saya depresi. Saya diusir sama keluarga saya karena saya hamil sudah 4 bulan dan disuruh nyari ayah si bayi dalam kandungan saya. Disuruh minta pertanggungjawaban.”

Cerita berakhir dengan baik. Tapi tetap saja saya merasa resah. Pastilah ada lebih banyak cerita yang mirip-mirip, tapi kita tidak tahu berakhir seperti apa cerita-cerita seperti itu.

Sebagai sesama perempuan tentu keresahan itu betul terasa pula. Bagaimana jika saya ada di posisi mereka? Apa yang akan saya lakukan sama dengan apa yang ibu itu lakukan. Cerita saya mungkin akan berakhir lebih buruk lagi.

Perempuan-perempuan yang sudah mengalami kasus serupa selalu disudutkan untuk menikah dengan lelaki yang mengkhianati mereka—atau dalam bahasa yang biasa kita dengar—meminta pertanggungjawaban untuk kandungannya. Sehingga mereka tidak bisa lagi menimbang bagaimana polah si ayah yang dipaksa harus menikahinya, atau akan seperti apa nanti dalam rumah tangganya.

Saya punya banyak sekali teman yang seperti ini. Mereka memaksa ayah si bayi untuk tanggung jawab, tapi saat menikah malah menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kalau sudah begitu, bukankah itu juga akan mengganggu tumbuh kembang si anak. Siklus kekerasan pun terus berputar sebab sang ibu berpikir, harus bertahan demi anaknya. Demi sang anak mempunyai seorang ayah. Demi tekanan masyarakat di sekitarnya.

Sekarang saya paham betul sekali, kata-kata omong kosong dulu yang isinya “perempuan mah gausah sekolah tinggi-tinggi ujungnya juga masuk dapur”. Sebab saat terjadi kasus seperti tadi siapa yang akan disalahkan adalah perempuan karena mereka tidak mendapatkan arahan oleh seseorang tentang bahayanya dunia luar yang liar bagi kaumnya. Mereka tidak dikenalkan apa saja yang termasuk pelecehan seksual atau bagaimana cara laki-laki tidak bertanggung jawab merayu untuk memenuhi nafsu birahinya.

Jika sudah terjadi lalu dilaporkan, kita akan melaporkan hal apa? Pemerkosaan? Tidak.

Mau bagaimanapun menderitanya bahkan sampai menangis pun hukum menyebutkan pemerkosaan adalah sesuatu yang dipaksakan. Suka sama suka bagi masyarakat di negara ini ya tidak ada masalah toh oknum sendiri saja nyebutnya “tapi ikut goyang kan?” kebablasan yang tanggung sendiri. Begitu sedikit yang sering kita dengar. Dalam buku “Menjadi Perempuan” tertulis:

Statistik tidak berbohong. Setiap dua jam, tiga perempuan menjadi korban kekerasan seksual di negara ini. Menurut komisi nasional anti-kekerasan terhadap perempuan (Komnas Perempuan), angka ini hanyalah puncak gunung es. Ada masalah yang lebih besar lagi yang belum kelihatan. Barangkali jumlah korban yang lebih besar dan tak tertolong.

Saya sadar bahwa banyak sekali perempuan yang tidak berani melaporkan apa yang mereka alami. Sebab tidak ada yang mempercayainya dan akhirnya membuat mereka berpikir, bahwa mereka sampah masyarakat, murahan, dan wajib musnah dari dunia. Dan begitulah barangkali menjadi perempuan. Kami dikutuk menanggung kesalahan yang tidak kami lakukan.

Profil Penulis

Tania Suci Maharani
Tania Suci Maharani
Semester 4 fakultas hukum universitas singaperbangsa karawang
Berorganisasi dalam ukm teater gabung