Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami//Karena jika Engkau tidak menangkan//Kami khawatir ya Allah. Kami khawatir ya Allah. Tak ada lagi yang menyembah-Mu.

Itulah sepenggal puisi yang sedang hangat diperbincangkan. Ia viral setelah dibacakan  Neno Warisman di acara Munajat Akbar 212 yang berlangsung di Monas beberapa hari lalu. Selain berkiprah sebagai ustadzah ia juga merupakan tim kampanye pemenangan Prabowo Subianto.

Nah karena aksinya itu ia dilaporkan oleh fraksi beberapa partai kerena dianggap ‘mengancam tuhan’ dan lain sebagainya. Mungkin di rumahya, Neno Warisman akan bergeming “Astagfirulloh. Aku, kan, cuma baca puisi, Mas, itu curahan isi hati.”

Belakangan ini berbalas puisi di antara para politisi sedang heboh. Belum lama Sukmawati pernah mendapatkan kecaman serupa saat ia membacakan puisi yang menyinggung soal hijab di salah satu acara fashion show. Belum lagi puisi-puisi Fadli Zon yang beberapa kali menuai cibiran dari lawan politiknya. Belum selesai keributan puisinya yang berjudul Genderewo kena semprot, puisi Doa yang Tertukar mendapat tudingan keras dari Kaum Nahdiyin karena dianggap tidak sopan kepada Kyai Maimun Zubair. Sontak warga Nahdiyin membuat aksi bela Kyai Maimun Zubair bahkan Fadli Zon disuruh untuk minta maaf secara terbuka di hadapan media.

Sebenarnyalah saya malas menyebut apa yang ditulis Neno Warisman, Sukmawati, Fadli Zon dan politisi lainnya sebagai puisi. Tapi ya demi kelancaran tulisan, sebut saja begitu. Sebab di banding puisi mereka, bagi saya karya para penyair sungguhan, dari yang terkenal di level besar seperti Gus Mus, Sutarji, Afrizal Malna, Acep Zam-zam Noor, Widya Husen; sampai ke level super-lokal seperti Faizoul Yuhri, Syamsul Aimmah dan Rizki Andika, puisi-puisi para politisi itu tak ubahnya jargon-jargon caleg yang dibikin super panjang dan formatnya dibikin seperti puisi.

Belum lagi jika membandingkan hal lain, seperti ketajaman redaksi, kejernihan dalam pilihan diksi, dan kedalaman-kedalaman maknanya. Puisi Syamsul bahkan lebih tajam menghunus telinga dan kaya akan satire jenaka. Sejenak saya jadi berpikir, sejak kapan para politisi di sini senang sastra? Lalu sejak kapan para netizen menjadi peduli kepada kesusastraan Indonesia? Toh, akademisi sastra di sini biasa-biasa saja menanggapinya. Sebenarnya, masalahnya apa, sih? Kok, jadi rame banget.

Barangkali, bukan karena puisinya. Tapi ya karena mereka politisi dan media jelas suka dengan ikan gabus bermain akrobat, eh, maksudnya politisi menulis puisi. Itu kan jarang terjadi.

Jelas di tangan politisi  puisi merupakan alat kampanye untuk “menyerang” kelompok orang yang berbeda pandangan politik. Pada mulanya Fadli Zon mungkin hanya iseng bikin puisi alakadarnya. E, malah menyulut api dari lawan politiknya. Maka dibuatlah tandingan puisi lain yang sama ganasnya juga dengan alakadarnya tanpa bimbingan penyair berpengalaman. Alih-alih hanya perang puisi antar individu yang menarik, ternyata isinya soal menjatuhkan lawan, akibatnya instansi yang lain jadi ikut-ikutan gerah, partai-partai kebakaran rambut masyarakat awam ikut tersulut, berasap.

Mungkin saya hanya berlebihan saja. Tentu puisi bukan satu-satunya sebab kenapa obrolan politik kini makin gak asik. Tapi yang bikin khawtiradalah kaum politisi berpuisi tadi menjatuhkan ‘marwah’ puisi. Sebab toh kita sudah lihat bagaimana aksi saling lapor yang berkelindan di antara balas-balasan puisi ini. Tentu saja dengan kedok pasal-pasal karet.

Saya membayangkan jika berbalas puisi ini terus ada, dampak buruk akan menimpa para penyair sungguhan. Bukannya tidak mungkin jika nantinya ada orang goblok di DPR yang merancang RUU Perpuisian yang isisnya bisa jadi lebih goblok dari RUU-Permusikan.

Loh, bukannya gak mungkin, jika hal ini nanti dijadikan alasan untuk “membungkam” lawan politik di penguasa. Udah kayak Orba saja nantinya.

Sebenarnya saya tidak masalah dengan puisi-puisi buruk. Masalahnya hanya kami kzl ketika puisi juga dipolitisir sedemikian rupa. Dengan cara tidak kreatif pula. Kan ya gak lucu aja kalau suatu hari si Andika atau Faizoul Yuhri masuk penjara gara-gara nulis judul puisi: Bapak Fadli, Izinkan Aku Menyeka Sisa Berak dengan Puisimu.” Padahal kan yang namanya Fadli itu banyak, apalagi yang menulis puisi.

Kebayang gak sih?

Profil Penulis

Fahad Fajri
Fahad Fajri
Lahir 28 Januari 1996 di Karawang. Sedang menempuh pendidikan strata satu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Singaperbangsa Karawang. Menyenangi bacaan bergenre prosa fiksi dan puisi. Dapat dihubungi melalui fahadfajri26@gmail.com .