Malam

: Pleret

Aku duduk di depan kecamatan Pleret

Di beranda fotokopi-an

Menghadap ke barat

Di bawah langit malam

Menunggu kelar penggandaan dokumen dikerjakan

Bulan turun tangan

Membantu lelampuan

Menjaga kesibukan berlapis-lapis

Yang akan memudar jika gerimis datang menjadi hujan

Atau tengah malam yang membuka lipatan kesunyian

Di utara kecamatan Pleret

Selain jalan, adalah pasar

Tempat menyusu penghuninya

Tempat mengeluh selain rumah Tuhan

Tempat paling nyaman di dunia bagi gelandangan di malam kelam

Jika aku menoleh ke kanan

Akan tampak gerobak penjual gorengan

Yang berhadap-hadapan dengan swalayan

dan pedagang berbagai makanan

Seperti dua pasukan perang yang beradu kecerdikan

Beradu strategi penjualan

Siapa yang menang, akan lebih dulu menyentuh rumah

Jika aku melihat ke arah selatan

Penjual wedang ronde menawarkan kehangatan sekaligus kenikmatan

Semakin malam, dingin semakin kejam

Peluang semakin besar

Aku masih duduk

Tak ada sesuatu yang bisa membangunkanku dari mataku

Kecuali peristiwa besar

Kecuali kata-kata namaku

Bantul, 2019

Ke Selatan dari Pasar

: Pleret

Di jalan yang mengarah ke selatan dari Pasar Pleret

Orang-orang seperti mendatangi masa lalu

Meski di kepala mereka sejarah hanyalah sebatas satu dua kata

Siapa yang ke selatan akan melintasi Kedaton

Istana yang menyisakan pondasi-pondasi dalam tanah tua

Istana kerajaan mataram yang menjelma kampung

Ke selatan lagi

Kau akan bertemu dengan Pungkuran

Kampung yang kata mulut orang-orang adalah dapur istana

Bantul, 2019

Hari Menyenangkan

: Perajin Batu-bata

Hari menyenangkan

Adalah ketika batu-bata telah tertata di tobong*

Kemudian berlanjut dengan kepulan asap

Dibawa angin mengabarkan pada pondasi-pondasi

Empat belas malam tak membekukan cagak-cagak

Hari menyenangkan

Adalah ketika batu-bata telah selesai dibakar

Merang** telah menjadi abu di pinggirkan

Kehangatan masih tersisa

Hari menyenangkan

Adalah ketika batu-bata telah dipinang

Bantul, 2019

*tobong = tempat pembakaran batu-bata

**Merang = kulit padi

Dari Jembatan

Dari jembatan

Aku melihat deras air Kali Gajah Wong

Mengalir ke selatan ditarik laut

Dan diambil langit

Bantul, 2019

Pulang

: kampung halaman

aku tiba

keadaan tak menolak lupa

tempatku tumbuh

aku tiba

dan memandang diriku sendiri

tempat ini

aku tiba

berarti telah kembali pada

diriku sendiri

Bantul, 2019

Mimpi, Kota, Kopi

di mimpiku ada kota

di dalam kota tersempil kopi

Bantul, 2019

Profil Penulis

Risen Dhawuh Abdullah
Risen Dhawuh Abdullah
lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.