Zootopia: Ketika Manusia Musti Belajar Pada Binatang

Akhir tahun lalu, ketika Zootopia meraih penghargaan Oscar 2017 dalam kategori film animasi terbaik, entah karena alasan apa, ada perasaan bangga sekaligus tidak terlalu terkejut dalam diri saya.

Saya memikirkan ini cukup lama, sebelum kemudian saya menarik kesimpulan yang belum tentu benar. Barangkali karena kesimpulan ini muncul karena perasaan bangga  sebab saya sudah menonton Zootopia sebelum ia diganjar penghargaan Oscar—alasan yang membuat sisi narsisme saya mengatakan bahwa saya bukanlah orang yang menonton film bagus, justru saat sudah diakui oleh banyak orang. Tapi juga adala ada ada alasan- alasan utama kenapa saya tidak terlalu terkejut dengan Oscar yang diraih tersebut: karena Zootopia pantas mendapatkannya!

Jawaban yang sedikit klise memang, namun biarkan fakta dalam layar yang berbicara. Berdurasi satu jam empat puluh lima menit, film garapan Walt Disney Animation ini sudah seperti amukan badai yang mengombang-ambingkan saya di antara tawa, tangis, tegang, dan kagum sekaligus. Tak mengherankan bila kemudian banyak penghargaan yang disematkan pada film yang mulai tayang sejak 11 Februari 2016 ini jauh sebelum Oscar 2017. Di antaranya adalah film animasi terbaik pada Academy Award ke-89, Golden Globe Award, dan memenangkan enam dari sebelas nominasi dalam Annie Award ke-44.

Walau demikian, setumpuk penghargaan yang luar biasa glamor tersebut tidak lantas membuat mata saya membesar, membulat dan berkilauan. Bagi saya, penghargaan itu penting, namun bukan yang terpenting dalam sebuah film. Justru hal yang paling bernilai dalam sebuah karya –dalam hal ini film, adalah jawaban; seberapa dalam ia mengajari kita makna kehidupan. Itulah yang membuat saya lebih jatuh hati pada film-film animasi sarat nilai seperti Kimi no Na Wa, Koe no Katachi, Spirited Away, Violet Evergarden hingga 5 cm Per Second daripada film laga blockbuster sekelas Avangers sekalipun.

Film Zootopia mengambil latar sebuah dunia imajinatif di mana hanya ada binatang yang hidup di dalamnya. Seolah sengaja dibentuk sebagai representasi kehidupan manusia, para binatang dalam dunia Zootopia ini mampu berbicara, berpikir, bahkan memproduksi teknologi modern persis seperti realita dunia kita abad ini. Bukan hanya itu, hal-hal negatif pun ikut dicitrakan termasuk di dalamnya rasisme dan diskriminasi atas jenis-jenis binatang tertentu.

Juddy Hops, seekor kelinci yang menjadi tokoh utama dalam Zootropolis –sebutan lain untuk film Zootopia di beberapa negara, memiliki sifat dan kepribadian yang sebenarnya layak ditiru oleh manusia. Bagi saya, ini merupakan salah satu simbol dan sindiran agar terkadang harus belajar dari binatang. Di sini, saya tidak ingin membahas soal kesetiaan anjing atau pun kemampuan mengorganisir serigala. Tapi cukuplah Juddy Hops, seekor kelinci menggemaskan yang mengajarkan manusia soal berani bermimpi, beridealisme tinggi, mau berusaha, serta selalu berpikiran positif.

Saya dapat berkata demikian, karena Juddy Hops sudah mengalami diskriminasi semenjak ia kecil. Sebagai seekor binatang herbivora yang lemah dan lembut, Juddy Hops bercita-cita mengubah dunia menjadi lebih baik dengan menjadi seorang polisi. Namun bukan hanya ditertawakan oleh hewan lainnya, kedua orang tua Juddy pun sebenarnya tidak menyetujui mimpi tersebut. Selain karena pekerjaan tersebut dipenuhi marabahaya. Anggapan bahwa jiwa buas pemangsa masih tertanam dalam DNA para karnivora masih belum hilang dalam pikiran kedua orang tua Juddy. Karena itulah, mereka menginginkan anak gadisnya itu cukup menjadi seorang petani wortel di desa terpencil tempatnya tinggal.

Juddy Hops kecil menolak menjual mimpinya berdasarkan anggapan tersebut. “Kalau toh tidak ada kelinci yang menjadi polisi sebelumku, maka akulah yang pertama!” Demikian ia berbicara pada kedua orang tuanya. Lima belas tahun berikutnya, ia sudah berlatih di akademi kepolisian kota Zootopia dan lulus dengan nilai sempurna walaupun awalnya ia berkali-kali gagal dalam tes uji coba. Keberhasilannya ini merupakan buah dari bagaimana ia mengubah sudut pandang untuk menyikapi kekurangan dalam dirinya. Karena di manapun kelinci, mereka pastinya adalah hewan yang bertubuh kecil lagi pendek seperti seorang Juddy.

Konflik sebenarnya dari film Zootopia justru dimulai setelah Juddy Hops menjadi seorang polisi di kota metropolitan Zootopia. Hiruk-pikuk kehidupan urban yang sangat ramai, sibuk, dan begitu hedonis digambarkan dengan sempurna saat Juddy Hops datang ke kota itu. Bahkan gaya hidup masyarakatnya yang egois dan berisik, juga tak lepas dari sasaran simbolisme film ini saat Juddy pertama kali masuk ke apartemen tempatnya akan tinggal dalam waktu yang lama. Namun seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gadis kelinci itu selalu berpikiran positif dalam memandang segala sesuatu sehingga tidak mengeluhkan itu.

Ia justru mempermasalahkan hal lumrah, walaupun sebenarnya tetap bukan hal yang terpuji. Merajalelanya paham materialisme ketika segala cara dihalalkan demi meraih keuntungan material sebanyak-banyaknya, secara tidak sengaja ditemuinya ketika ia menjalankan tugas sebagai polisi lalu lintas. Entah ini bagian dari simbol  atau tidak, namun rubah yang memang selama ini digambarkan sebagai hewan licik, adalah pelaku atas tindakan ilegal yang ditemui oleh Juddy Hops terebut. Sayang, bukannya urusan mereka selesai dengan cepat, pertemuannya dengan rubah itu justru menyeret Juddy Hops ke dalam konflik yang menyibak sisi gelap kota metropolitan Zootopia.

Sebanyak empat belas hewan karnivora yang hilang tiba-tiba mendadak muncul dalam keadaan buas dan tidak terkendali. Mereka tidak hanya membuat kekacauan seisi kota, namun juga memangsa para penduduk herbivora Zootopia. Dengan penggambaran penuh intrik yang nyata dan masuk akal, kita diajak belajar memahami bagaimana seorang pemimpin, dalam hal ini wali kota Zootopia (yang merupakan seekor singa) dilengserkan lalu dijebloskan ke penjara karena ketidakmampuannya menangani kasus tersebut sehingga fitnah pun tak lagi terhindarkan.

Setelah melewati drama penuh ketegangan dan keseruan khas animasi 3D, selanjutnya film Zootopia memberikan kita sebuah pertanyaan yang sukar.

Pertanyaan tersebut muncul saat isu ‘jiwa pemangsa’ dalam DNA para karnivora di Zootopia sedang berembus dan mengacaukan struktur sosial Zootopia sendiri. Isu itu merebak dan menjadi opini publik warga Zootopia. Fan tanpa sadar Juddy Hops juga turut memberikan andil dalam hal tersebut. Statemennya ke publik telah menyudutkan seluruh karnivora di Zootopia. Termasuk sahabatnya sendiri. Seketika saja, para karnivora itu diasingkan, dipecat dari pekerjaan, bahkan tidak sedikit yang dipenjara tanpa proses hukum. Sehingga muncullah pertanyaan sulit tadi. Bila kita berada dalam posisi Juddy Hops, “seberapa percayakah kita pada sahabat kita walaupun dia seorang karnivora?”

Pertanyaan tersebutlah yang menjalankan keseluruhan cerita ini. Dan yang dapat kita pelajari juga kurang lebih sama. Dalam menjalankan kehidupan bersama ini. Seberapa percayakah kita pada orang-orang yang berbeda dengan ‘bentuk’ kita?

Profil Penulis

Munandar Harits W
Munandar Harits W
Pria kelahiran Boyolali 15 Juli 1996